RAMADAN: SALAT TARAWIH DI MASJID YANG MENYATUKAN DUA TRADISI – ‘SAYA ORANG NU TULEN, TAPI SESEKALI SALAT TARAWIH DELAPAN RAKAAT’ (2)

Masjid yang terletak di Kampung Kauman, Pasar Kliwon, Solo, yang merupakan saksi bisu penyebaran Islam di kota itu, memang sejak awal tidak terlalu kaku dalam menafsirkan dan mempraktekkan ritual ibadah. SUMBER GAMBAR,FAJAR SODIQ

Bagaimana awal mula masjid ‘menyatukan’ dua aliran?

JIC, — Awalnya, seingatnya, masjid yang kala itu dianggap sebagai ikon netral keagamaan di keraton, menggelar tarawih 20 rakaat dan tiga rakaat salat sunah witir.

“Dalam perkembangannya, jumlah rakaat mengalami perubahan,” ujarnya kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Dalam tradisi di Indonesia, tata cara salat tarawih delapan rakaat biasanya identik dengan organisasi Muhammadiyah. Sebaliknya, praktek tarawih 20 rakaat dilekatkan kepada organisasi Nahdlatul Ulama yang juga memiliki alasan di baliknya.

“Dinamika yang muncul kemudian, yang dilatari masalah sosial-kultural, kemudian mengalami pergeseran [menjadi delapan rakaat],” jelas Muhtarom. “Terjadi perdebatan di situ.”

Ketika dihadapkan perselisihan seperti itu, lanjutnya, pengelola masjid memutuskan untuk “tidak masuk ke dalam perdebatan”.

“Karena itu masalah furu’iyah (perbedaan pada hal yang tidak penting) interpretasi sebuah hadis yang sama,” ujarnya.

Dihadapkan persoalan pelik seperti itu, pihak keraton yang saat itu masih menaungi masjid, memilih untuk berusaha menyatukannya. “Maka kami memfasilitasi semuanya.”

‘Saya orang NU, tapi salat tarawih delapan rakaat’

Azan Isa berkumandang dari alat pengeras suara masjid, dan peserta salat berduyun-duyun masuk ke dalam.

Usai salat Isa, sang Imam kemudian memimpin salat Isa dan salat tarawih delapan rakaat dan tiga rakaat salat witir.

Masjid agung Solo

SUMBER GAMBAR,MAULANA SURYA/ANTARA FOTO

Keterangan gambar : Petugas membersihkan serambi Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo, Jawa Tengah, Minggu (11/4/2021). Kegiatan tersebut untuk memberikan rasa nyaman bagi jamaah saat menjalan ibadah bulan suci Ramadhan sesuai protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.

Imam itu akan mundur dan digantikan oleh imam lainnya untuk menyelesaikan salat witir sebagai penutup salat tarawih delapan rakaat.

Kelompok yang sudah selesai tarawih delapan rakaat lantas meninggalkan masjid. Salah-seorang diantaranya Dian Wahyu Permadi, warga Solo.

“Kalau 11 rakaat ‘kan lebih pendek,” kata Dian saat ditanya alasannya memilih jumlah rakaat itu. Dia memilih rakaat yang lebih pendek, lantaran ada acara pada pukul 20.30 WIB yang harus dia datangi.

“Nanti kalau tidak ada acara, mungkin saya pilih yang 21 rakaat,” tambahnya, sambil tertawa ringan.

Dian mengaku tumbuh dalam tradisi Nadhlatul Ulama (NU) melalui orang tuanya. Namun dia menyebut dirinya “netral, tidak ikut kelompok sana atau sini.”

‘Nanti kecapekan, bacaannya panjang’

Sikap serupa juga ditunjukkan Dwi Bayu Wijanarko, warga Sukoharjo. Dia mengaku besar dalam tradisi NU, tapi memilih salat tarawih delapan rakaat.

Masjid agung Solo

SUMBER GAMBAR,MAULANA SURYA/ANTARA FOTO

Keterangan gambar : Petugas membersihkan serambi Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo, Jawa Tengah, Minggu (11/04/2021). Kegiatan tersebut untuk memberikan rasa nyaman bagi jamaah saat menjalan ibadah bulan suci Ramadhan sesuai protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.

“Kalau ikut yang 23 rakaat nanti kecapekan ‘kan bacaannya tambah panjang sampai satu juz lebih,” ujar Dwi Bayu. Dia mengutarakannya sambil terkekeh.

Malam itu merupakan pengalaman pertamanya mengikuti salat tarawih di masjid kuno itu. “Tadi ikut yang 11 rakaat juga lumayan (lama).”

Pada ramadan sebelumnya, Dwi mengaku rajin mengikuti salat tarawih 23 rakaat di masjid di dekat rumahnya di Sukoharjo. “Tapi di sana bacaan surat-suratnya lebih pendek dan cepat,” katanya.

Namun sambung Bayu, dirinya tertantang untuk mencoba tarawih 23 rakaat di Masjid Agung yang biasanya selesai pada pukul 21.00 WIB.

“Besok-besok saya ingin mencoba ikut yang 23 rakaat di Masjid Agung,” ujarnya, setengah berharap.

Warga Muhammadiyah: ‘Ini pengalaman pertama salat 23 rakaat’

Pengalaman serupa juga dialami Uul Jihadat. Pria asal Yogyakarta itu rela datang ke Masjid Agung untuk bisa mengikuti salat tarawih 11 rakaat.

Hanya saja ia datang terlambat sehingga tidak bisa mengikuti salat tarawih sejak rakaat awal sehingga mau tidak mau harus mengikuti salat tarawih sebanyak 23 rakaat.

Masjid agung Solo

SUMBER GAMBAR,MOHAMMAD AYUDHA/ANTARA FOTO

Keterangan gambar : Anggota polisi membersihkan mimbar masjid saat kegiatan bersih-bersih di Masjid Agung Keraton Kasunanan, Solo, Jawa Tengah, Senin (12/4/2021). Kegiatan tersebut dilakukan untuk memberikan rasa nyaman umat Islam dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

“Tadi saya ikut yang bisa dibilang ‘kloter’ kedua, ya, karena saya tahu di sini Masjid Agung Solo ada dua sesi [salat tarawih].

“Kebetulan saya tadi sampai sini pas yang 11 rakaat selesai witir, jadi ikut yang 23 rakaat, padahal inginnya ngejar yang 11 rakaat,” akunya.

Bagi Uul, mengikuti salat tarawih 23 rakaat di Masjid Agung merupakan pengalaman pertama dan sangat berkesan.

Sebagai orang yang besar dari keluarga Muhammadiyah, ia mengaku selama ini selalu melaksanakan salat tarawih dengan jumlah 11 rakaat.

“Selama ini ikutnya selalu 11 rakaat, tapi kali ini ikut 23 rakaat dengan bacaan satu juz. Dan ini kali pertama, surprise sekali ikut yang 23 rakaat,” ucapnya.

Masjid agung Solo

SUMBER GAMBAR,MOHAMMAD AYUDHA/ANTARA FOTO

Keterangan gambar : Abdi dalem dan kerabat Keraton mengikuti Kirab Malam Selikuran dengan berjalan dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Masjid Agung, Solo, Jawa Tengah, Minggu (02/05) malam.

Sumber : bbcindonesia.com

 

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

RAMADAN: SALAT TARAWIH DI MASJID YANG MENYATUKAN DUA TRADISI – ‘SAYA ORANG NU TULEN, TAPI SESEKALI SALAT TARAWIH DELAPAN RAKAAT’ (1)

Read Next

RAMADAN: SALAT TARAWIH DI MASJID YANG MENYATUKAN DUA TRADISI – ‘SAYA ORANG NU TULEN, TAPI SESEKALI SALAT TARAWIH DELAPAN RAKAAT’ (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight + 4 =