RAMADAN: SALAT TARAWIH DI MASJID YANG MENYATUKAN DUA TRADISI – ‘SAYA ORANG NU TULEN, TAPI SESEKALI SALAT TARAWIH DELAPAN RAKAAT’ (3)

Praktek salat tarawih yang menggabungkan dua tradisi itu dapat dijadikan contoh bagi masyarakat “untuk terbiasa melihat perbedaan”, kata Ketua Takmir Masjid Agung Solo, Mohammad Muhtarom.                                           SUMBER GAMBAR,FAJAR SODIQ

Apa komentar jemaah atas praktik tarawih dua tradisi?

JIC, — Ketika imam memimpin salat witir sebagai penutup salat tarawih delapan rakaat, sebagian peserta salat memilih duduk. Mereka inilah yang akan melanjutkan tarawih 20 rakaat.

Mereka kemudian maju ke barisan saf depan. Otomatis jumlah jemaahnya pun berkurang dan tinggal tiga saf alias baris.

Iqbal Albani, warga kota Tegal, adalah salah-seorang diantaranya. “Saya dari dulu, dari keluarga dan lingkungan, melakukan 20 rakaat. Ini kepercayaan kami,” kata Iqbal.

Apakah Anda tidak letih dengan jumlah rakaat yang banyak? “Karena ini hubungan dengan Tuhan, Insya Allah tidak capek,” ujarnya kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Terkait pilihan jemaah lainnya yang melakukan delapan rakaat, Iqbal menilai itu bukanlah masalah dan dia menghormatinya. “Ini sebuah toleransi, positif, saling menghormati, tanpa ada yang menjatuhkan.”

Masjid agung Solo

SUMBER GAMBAR,MOHAMMAD AYUDHA/ANTARA FOTO

Keterangan gambar : Petugas kebersihan membersihkan lantai masjid saat kegiatan bersih-bersih di Masjid Agung Keraton Kasunanan, Solo, Jawa Tengah, Senin (12/04).

Di sinilah, Iqbal menaruh hormat kepada pengelola masjid yang memberi tempat kepada keduanya.

Adapun jemaah lainnya, Dwi Bayu Wijanarko mengaku takjub dengan keputusan takmir Masjid Agung Solo yang memfasilitasi pelaksanaan tarawih dua tradisi.

Dia mengaku sudah lama mengetahui praktek seperti itu. Itulah sebabnya dirinya memutuskan jauh-jauh datang dari Sukoharjo ke Masjid Agung untuk bisa merasakan suasana kerukunan tersebut.

“Ya, memang bagus sih karena jemaah bisa memilih mau ikut yang 11 atau 23 rakaat. Terus di sini juga para jemaahnya rukun dan saling menghormati meskipun berbeda jumlah rakaat tarawihnya,” ungkapnya.

Takmir masjid: ‘Jangan apriori terhadap perbedaan’

Ketua Takmir Masjid Agung Solo, Mohammad Muhtarom, mengatakan, selama ini pelaksanaan salat tarawih 11 dan 23 rakaat sekaligus, tidak menimbulkan masalah.

“Di situ secara dhohiriyah (terlihat dari luar) tampak harmonis, walaupun berbeda pemahaman,” ujarnya.

Dengan demikian, praktik salat tarawih yang menggabungkan dua tradisi itu dapat dijadikan contoh bagi masyarakat “untuk terbiasa melihat perbedaan”.

“Jangan apriori terhadap perbedaan karena perbeedaan itu sebuah keniscayaan,” ujar Muhtarom.

Ibadah ‘lintas mazhab’, beragama yang ‘cair dan tidak kaku’

Dahulu kala perbedaan tata cara salat tarawih — dalam beberapa kasus — bisa menimbulkan persoalan di antara para penganutnya.

Dalam perkembangannya, kasus-kasus seperti ini nyaris tidak pernah dijumpai lagi.

Namun demikian, menurut pegiat Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Ahmad Nurcholish, praktik tarawih bersama yang menggabungkan dua tradisi penting untuk menunjukkan sikap beragama yang cair dan tidak kaku.

“[Jumlah rakaat tarawih] Ini perbedaan yang bukan pokok (furu’iyah), jadi sangat dimungkinkan, karena secara dalil Nabi Muhammad dulu mempraktikkan [rakaat salat tawarih] beragam,” kata Nurcholish kepada BBC News Indonesia, Selasa (04/05) malam.

Masjid agung Solo

SUMBER GAMBAR,MOHAMMAD AYUDHA/ANTARA FOTO

Keterangan gambar : Abdi dalem dan kerabat Keraton mengikuti Kirab Malam Selikuran dengan berjalan dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Masjid Agung, Solo, Jawa Tengah, Minggu (02/05/2021) malam.

“Adakalanya Nabi Muhammad melakukan 11 rakaat, adakalanya 23 kali. Jadi semua ada dalil hukumnya,” tambahnya.

Secara konsisten, para penganut masing-masing kemudian melakukan ibadah sesuai tafsirnya masing-masing.

Tetapi belakangan, kata Nurcholish, muncul ‘model beragama’ yang disebutnya ‘lintas mazhab’. “Jadi lebih fleksibel,” katanya.

Dia kemudian mencontohkan dirinya sendiri. Tumbuh dalam tradisi NU, Nurcholish akan enteng hati melakukan salat tarawih dengan 11 rakaat saat salat berjamaah dengan teman-temannya yang berlatar Muhammadiyah.

“Itu yang disebut generasi hybrid,” ujarnya. “Mereka cair sekali, lebih fleksibel.”

Baginya, sikap beragama yang tidak kaku seperti itu — termasuk salat tarawih ‘dua mazhab’ di Masjid Agung Solo — “penting”.

“Itu bisa menjadi pintu bagi adanya interaksi, dialog dan saling memahami antar berbagai mazhab di dalam Islam,” paparnya. Sehingga, bisa mengurangi model beragama yang “takfiri” — saling mengkafirkan.

Sumber : bbcindonesia.com

 

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

RAMADAN: SALAT TARAWIH DI MASJID YANG MENYATUKAN DUA TRADISI – ‘SAYA ORANG NU TULEN, TAPI SESEKALI SALAT TARAWIH DELAPAN RAKAAT’ (2)

Read Next

KETUA-DPD-KECAM-PENYERANGAN-MUSLIM-PALESTINA-DI-MASJIDIL-AQSA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + fourteen =