SALING MENCINTAI DAN MERINDUKAN

0
310
saling-mencintai-dan-merindukan

JIC– Suami istri yang saling mencintai akan saling menyayangi, saling menghormati, saling menghargai, saling memberikan perhatian dan akan selalu menjadi pujaan bagi pasangannya serta selalu dirindukan.

Jika suami istri saling mencintai maka tidak ada yang saling menyiksa dan menzalimi. Imam Syafii berkata: “Banyak orang mengatakan mencintai wanita itu sangat menyiksa. Tapi, sebenarnya yang sangat menyiksa itu adalah mencintai orang yang tidak mencintaimu. Bagian dari bencana itu ketika engkau mencintai, sementara orang yang kau cintai tidak mencintaimu”.

Suami istri yang saling mencintai bisa membuat keluarga selalu harmonis dan kokoh serta menimbulkan banyak kenangan indah yang selalu dikenang, dirindukan dan tidak mudah dilupakan.

Karena itu, suami istri saling merindukan jika sedang berpisah karena pekerjaan atau tugas yang harus diselesaikan.

Kerinduan suami istri kepada pasangannya bukan disebabkan banyaknya barang-barang mewah yang bisa dibeli, bahkan bisa saja hidup mereka dalam kesederhanaan namun dimewahkan oleh cinta yang berlimpah dalam membangun keluarga sakinah. Bahkan dalam kondisi sedang tidak suka kepada pasanganpun tetap berusaha untuk menghibur dan membahagiakannya. Allah berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya”. (An-Nisa : 19)

Suami istri harus melakukan upaya bersama untuk terus bisa saling mencintai dan saling merindukan. Sebagaimana yg dipesankan oleh Imam Malik: “Wajib bagi seorang suami berusaha menjadikan dirinya dicintai oleh istri-istrinya hingga ia menjadi orang yang paling mereka cintai.”

Dikisahkan bahwa Abu Utsman Al-Hariri seorang ulama dan ahli ibadah berjodoh dengan seorang wanita yang sebelah matanya buta dan satu kakinya pincang. Namun ia selalu menjaga perasaannnya dan selalu berusaha membahagiakannya.

Kehidupan yang demikian itu dijalani nya hingga 15 tahun sekalipun terkadang ia merasa tersiksa dengan keadaaan demikian. Namun ia sama sekali tidak pernah mengeluhkan hal itu kepadanya, hingga akhirnya istrinya wafat.”

Abu Utsman Al-Hariri berkata: “Dari amalanku yang aku harap bisa menjadi bekal kepada Allah adalah usahaku menjaga perasaannya”.

Abu Utsman al-Hirri ternyata menganggap bahwa amalan yang sangat menolongnya di hari kiamat bukanlah amal ibadah dan ilmunya sekalipun hal itu besar pahalanya namun usahanya dalam membahagiakan istrinya dianggap itu yang lebih besar.

Cinta dan kasih sayang antar suami istri akan semakin besar bahkan akan abadi di dunia sampai di akhirat nanti, jika dilandasi cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah, serta membangun keluarga dengan saling menasehati dan saling tolong menolong dalam ketaatan kepada Allah hingga mereka istiqamah dan husnul khatimah. Dengan demikian mereka di hari kiamat akan saling membela dihadapan Allah agar mereka dan keluarganya menjadi ahli surga dan selamat dari adzab neraka.

Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa”. (Az-Zukhruf: 67).

Ditulis oleh: Dr. Aan Rohana, Lc, M.Ag

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here