Home Khazanah Islam Akhlak SEJARAH PENYEMBAHAN BERHALA BANGSA ARAB JAHILIYAH

SEJARAH PENYEMBAHAN BERHALA BANGSA ARAB JAHILIYAH

0
7880
Ilustrasi

JIC – Bangsa Arab merupakan bangsa yang besar. Dengan Nabi Ismail As sebagai nenek moyang mereka, bangsa Arab pada mulanya adalah penganut ajaran Nabi Ibrahim As yang taat. Belakangan barulah muncul tradisi penyembahan berhala Bangsa Arab. Padahal sebelumnya mereka mengamalkan ajaran “hanafiyah al-samha”, sesuai tuntunan Nabi Ibrahim As dan mengesakan serta menyembah hanya kepada Allah sebagai Tuhan secara mutlak. Karena pada hakikatnya agama Islam merupakan perpanjangan tangan dari ajaran Nabi Ibrahim As.

Allah Ta’ala berfirman:

قل صدق الله فاتبعوا ملة إبراهيم حنيفا, وما كان من المشركين.

“Katakanlah (Muhammad): Maha benar Allah, maka ikutilah agama Ibrahim yang hanif, dia tidaklah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah” (Al-Imran: 3: 95).

Sampai kemudian seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyampur adukkan ajaran yang ada dengan kebathilan, syirik, dan serta akhlak-akhlak yang buruk yang mereka peroleh dari bangsa sekitarnya sehingga nisbat “jahiliyah” atau umat yang bodoh melekat pada mereka.

ASAL MULA PENYEMBAHAN BERHALA BANGSA ARAB

Para sejarawan muslim sepakat bahwa orang yang pertama kali membawa kesyirikan dan penyembahan berhala ialah Amr bin Luhay, pemimpin Khuza’ah. (Mulanya) Amr bin Luhay merupakan orang yang terpandang memiliki attitude baik, sering bershadaqah dan giat beribadah sehingga banyak masyarakat Arab menyukainya dan mendekatinya dengan prasangka ia termasuk dari kalangan ulama.

Kemudian ketika Amr bin Luhay pergi dari Mekkah menuju Syam ia melihat sekelompok orang yang menyembah berhala. Ia menyangka baik penyembahan berhala tersebut salah satunya karena Syam merupakan tempat para rasul dan kitab.

Amr membawa berhala yang bernama “Hubal” ke Mekkah dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Ia mengajak masyarakat Mekkah untuk menyembah Hubal. Masyarakat Mekkah mendukungnya kemudian diikuti oleh masyarakat tanah Hijaz, setelahnya.  ( Rahia al-Makhtum, hlm 35 cet Muntada al-Tsaqafa, Riyadh 2013)

Sedangkan menurut riwayat Ibnu Hisyam yang dikutip Syekh Muhammad Ramadhan Al-Buthi dalam kitabnya “Fikih Sirah” (hlm 53 cet Daar al-Fikr, Beirut 2019) berkata demikian:

خرج عمرو بن لحي من مكة إلي الشام في بعض أموره, فلما قدم (مأب) من أرض البلقاء, وبها يومئذ العماليق- وهم ولد عملاق, ويقال: عمليق بن لاوذ بن سام بن نوح- رأىهم يعبدون الاصنام. فقال لهم: ما هذه الاصنام التي أراكم تعبدون؟ قالوا له: هذه أصنام نعبدها نستطمرها فتطمرنا, ونستنصرها فتنصرنا. فقال لهم: أفلا تعطونني منها صنما فأسير به إلى أرض العرب فيعبدوه؟. فأعطوه صنما يقال له (هبل) فقدم به مكة فنصبه وأمر الناس بعبادته وتعظيمه.

“ Amr bin Luhay pergi dari Mekkah menuju Syam untuk beberapa keperluan, ketika ia sampai ke daerah (Ma’ab) dari tanah Al-Balqa. Pada saat itu terdapat anak keturunan Amlaq. Ada juga yang mengatakan: Amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh- Amr melihat mereka menyembah berhala. Amr berkata kepada mereka: “berhala apa ini yang kalian sembah?”. “Ini adalah berhala yang kami sembah karena ketika kami meminta hujan mereka menurunkan hujan untuk kami dan ketika kami meminta pertolongan, mereka menolong kami, jawab mereka. “Apakah kalian tidak memberikan kami berhala, sehingga aku bawa ke tanah Arab agar mereka (bangsa Arab) menyembahnya?, pinta Amr. Kemudian mereka memberikan Amr berhala yang disebut bernama (Hubal). Ia membawanya ke Mekkah dan memerintahkan masyarakat menyembahnya dan mengagungkannya.

Demikian kemudian penyembahan berhala menyebar di daerah Jazirah Arab saat itu. Berhala menyebar luas di Jazirah Arab. Setiap kabilah memiliki berhalanya masing-masing dengan masjidil haram pun juga dipenuhi oleh berhala. Mereka menyembah berhala dengan anggapan penyembahan tersebut termasuk dalam ajaran Nabi Ibrahim As. Sampai kemudian Nabi Muhammad Saw dan syariat Islam datang membawa “kembali” ajaran agama yang sebelumnya ditinggalkan itu, bahkan dengan syariat yang lebih sempurna dari syariat sebelumnya.

Pemikiran syirik dan penyembahan berhala yang tumbuh berkembang pada bangsa Arab saat itu pada hakikatnya berasal daripada ketika mereka melihat para malaikat, rasul, nabi, dan hamba-hamba Allah yang shalih dari para wali, orang-orang yang bertakwa dan melakukan amal baik  merupakan makhluk yang dekat dan memiliki kedudukan tinggi di sisi-Nya. Sehingga kemudian bangsa Arab saat itu menjadikan mereka sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara membuat patung-patung yang mereka bayangkan seenaknya. Mereka menyembahnya dan menjadikannya sekutu bagi Allah. (lihat Rahiq al-Makhtum, hlm 37 cet Muntada al-Tsaqafa, Riyadh 2013). Wallahu a’lam

Sumber : bincangsyariah.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − two =