
JIC – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Rabu mengungkapkan ‘kesedihan mendalam’ terhadap orang-orang yang hidup di Ghouta Timur, Suriah. Ghouta Timur merupakan rumah bagi 400.000 penduduk, yang menderita di bawah kepungan rezim selama lima tahun terakhir.
Dilansir Anadolu (22/2), Guterres menegaskan : “Sekitar 400 ribu orang hidup bagai dalam neraka di atas bumi,” kata Guterres dalam pidato briefing Dewan Keamanan PBB mengenai tujuan dan prinsip Piagam PBB dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
Dia meminta ‘semua kegiatan perang’ segera dihentikan. “Pada saat ini, sangat mendesak bagi Dewan Keamanan untuk mnjalankan tanggung jawabnya untuk membawa penyelesaian politik soal Suriah sesuai dengan resolusi 2254 di bawah naungan PBB,” kata dia.
Suriah telah dirundung konflik sejak perang sipil meletus pada Maret 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menyerang aksi demonstrasi kelompok pro-demokrasi dengan brutal.
Mantan Sekjen PBB Ban Ki-moon dalam kesempatan yang sama juga mengatakan bahwa Dewan Keamanan harus fokus pada perang sipil yang sedang berlangsung di Suriah, ketegangan di Dataran Tinggi Golan dan krisis pengungsi.
“Permasalahan-permasalahan ini dapat bangkit kembali, sangat mengancam stabilitas regional, dan memicu konflik lebih lanjut di antara negara-negara di kawasan tersebut,” kata Ban.
“Ketidakstabilan semacam itu dapat menyebabkan ketegangan antara Iran dan Arab Saudi semakin meningkat, dan membawa Israel dan Iran semakin dekat ke konflik langsung,” tambah dia.
Ghouta Timur, sebuah daerah yang berada di bawah blokade rezim Bashar al-Assad di Suriah tengah menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar abad ke-21.
Daerah seluar 104 kilometer persegi yang mencakup sejumlah distrik dan desa di bagian timur Damaskus tersebut, merupakan tempat terjadinya bencana terbesar perang saudara.
Selain menghadapi serangan udara dan darat dari rezim Bashar, bayi dan anak-anak di Ghouta Timur juga menderita akibat kelaparan.
Dalam sejumlah kasus yang terekam oleh Anadolu Agency, anak-anak yang kelaparan bahkan hingga tulang di tubuh mereka sampai terlihat, tidak memiliki pilihan lain, selain diam menunggu kematian.
10 HAL MENGENAI GHOUTA TIMUR:
- Di mana dan siapa yang tinggal di Ghouta Timur? Ghouta Timur berada di jarak 10 kilometer sebelah timur dari pusat kota Damaskus, ibu kota Suriah. Ghouta Timur merupakan rumah bagi sekitar 400 ribu warga sipil, yang setengahnya terdiri dari anak-anak. Oposisi militer melindungi daerah ini dari rezim.
- Siapa saja yang menjadi korban? Serangan rezim dan terkadang pesawat tempur Rusia menewaskan warga sipil. Lebih dari 700 warga sipil tewas dalam tiga bulan terakhir. Lebih dari 200 warga sipil tewas dalam tiga hari terakhir.
- Apakah wanita dan anak-anak termasuk korban yang tewas? Sejumlah 185 anak-anak dan 109 wanita terbunuh dalam tiga bulan terakhir.
- Bagaimana kehidupan masyarakat di sana? Selama lebih dari lima tahun terakhir, masyarakat Ghouta Timur berada dalam blokade. Pasokan makanan dan perlengkapan medis telah terhenti selama sekitar satu tahun terakhir. Bayi, anak-anak dan pasien meninggal karena tidak mendapatkan perawatan medis dan gizi yang cukup.
- Rezim membunuh rakyat dengan senjata apa saja? Rezim Assad melakukan pembunuhan dengan senjata kimia, mortar, bom barel dan sejumlah jenis bom lainnya.
- Berapa kali rezim menggunakan senjata kimia di Ghouta Timur? Sejak awal perang di negara tersebut, rezim telah meluncurkan 46 serangan kimia ke Ghouta Timur. Lebih dari 1.400 warga sipil tewas dalam pembantaian yang terjadi pada 21 Agustus 2013. Tahun ini, rezim telah tiga kali menggunakan gas klorin di daerah tersebut.
- Apa alasan rezim? Rezim berdalih ‘memerangi terorisme’ di Ghouta Timur. Rezim mengklaim para teroris di Ghouta Timur menggunakan warga sipil sebagai tameng serta menargetkan ibu kota dengan rudal.
- Mengapa Ghouta Timur penting bagi Assad? Istana Assad sangat dekat dengan daerah tersebut, suara bom dapat terdengar, asap pun dapat terlihat dari sana. Dia ingin mengakhiri seluruh pemberontakan di ibu kota.
- Apa yang PBB lakukan? Negara-negara besar di Dewan Keamanan PBB tidak kunjung bergerak. Tidak ada langkah yang dapat menekan rezim, selain pernyataan dari sejumlah pejabat PBB.
- Apakah kesepakatan Astana mencakup Ghouta Timur? Turki, Rusia dan Iran mendeklarasikan Ghouta Timur sebagai zona de-eskalasi pada 4-5 Mei 2017. Namun, Rusia sebagai penjamin rezim, tidak dapat menghentikan pelanggaran gencatan senjata yang telah berulang kali dilakukan rezim.
Sumber : suara-islam.com












