Home Civilita SERANGAN 11 SEPTEMBER: CERITA IMAM INDONESIA DI NEW YORK, KETIKA CITRA ISLAM...

SERANGAN 11 SEPTEMBER: CERITA IMAM INDONESIA DI NEW YORK, KETIKA CITRA ISLAM ‘IKUT RUNTUH’, IA DIPELUK TETANGGA KATOLIK DAN DIKIRIM BUNGA OLEH PENDETA (1)

0
406

Serangan di dua gedung WTC menewaskan lebih dari 2.600 orang.                                                SUMBER GAMBAR,GAMBAR GETTY

New York, Selasa pagi, 11 September 2001. Jarum jam belum bergerak jauh dari pukul 09:00 pagi.

JIC,– Ketika kepanikan mengguncang warga kota karena dua serangan atas Twin Towers World Trade Centre (WTC), komunitas Muslim mulai menjadi sasaran kemarahan warga setempat.

Saat itu telah tersiar kabar kelompok ekstremis al-Qaeda yang bertanggung jawab atas serangan paling mengerikan dalam sejarah Amerika Serikat dan dunia.

Imam Indonesia, Shamsi Ali, yang pagi itu tengah menuju tempat kerjanya di PTRI, PBB, termasuk di antara yang merasakan dampaknya, bukan secara fisik, namun berupa cacian.

“Sangat menyedihkan… sangat mencekam,” cerita Shamsi Ali mengenang kejadian pagi hari, 20 tahun lalu itu.

Dua pesawat menabrakkan Gedung Twin Towers World Trade Centre New York. North Tower yang pertama ditabrak pada 08:46 waktu setempat dan South Tower pada pukul 09:03. Serangan di dua gedung ini menewaskan lebih dari 2.600 orang.

Dua momen yang sering diceritakan dan selalu diingat Shamsi Ali – yang saat ini menjadi direktur Jamaica Muslim Centre – adalah ketika mendengar cacian supir taksi yang tak tahu dirinya Muslim, dan pelukan oleh tetangga Katolik yang menyadarkannya akan hal yang menurutnya sangat penting.

Persepsi tentang Islam yang salah. Islam dan Muslim dikaitkan dengan kekerasan.

Ketika berjalan kaki pulang ke rumahnya dari Manhattan ke Queens yang cukup jauh, ada taksi yang mau berhenti dan mengantarnya.

Supir taksi — yang tidak mengetahui dirinya Muslim — “Bersedia mengantar saya dengan senang hati… Namun ketika di mobil, dia mulai mencaci maki Islam dan orang Islam.”

Saat itu telah santer diberitakan kelompok ekstremis al-Qaida yang bertanggung jawab.

Ketika tiba di rumah — tetangganya, suami istri yang sudah sepuh — bergegas menghampiri dan memeluknya.

“Dia mengatakan tiga kali, ‘Saya tak percaya’, sambil menangis. ‘Saya tak percaya kalau orang Islam yang melakukan ini. Kalau semua orang Islam seperti kamu tak mungkin dia melakukan itu’,” cerita Shamsi mengutip tetangganya.

“Saat dipeluk orang tersebut, betul-betul perasaan saya bercampur aduk, saya memikirkan hari-hari yang akan datang, mencekam,” katanya lagi.

Sang tetangga — pemeluk Katolik yang berasal dari Irlandia — sempat dicurigai Shamsi saat awal pindah ke Amerika Serikat pada 1996.

“Saya mengistilahkan, saya diajari menjadi Muslim yang lebih baik, tidak diajari Islam, tetapi diajari menjadi Muslim yang baik,” katanya.

 

Sejak beberapa tahun sebelumnya, tetangga suami istri yang berusia 70an itu, selalu menyapu di depan rumah, termasuk di depan kediaman keluarga Shamsi.

“Ada kecurigaan di benak saya, ini non-Muslim, tapi kok baik sekali, menyapu depan rumah saya… Awalnya kita tidak pernah interaksi dengan non-Muslim, saya jadi curiga, sebentar lagi mereka akan menggoda saya. Ternyata berhari-hari, berbulan-bulan kemudian, mereka tak pernah ngomong soal agama.”

Sikap tetangganya ini, kata Shamsi, justru, “mengingatkan saya, arti agama yang sesungguhnya. Agama itu bukan yang kita lakukan di rumah-rumah ibadah, tapi agama itu adalah apa yang kita lakukan di tengah masyarakat, menampilkan perilaku yang baik.”

“Dua hal ini adalah pelajaran penting yang saya bawa dalam langkah dakwah-dakwah saya di Amerika. Betapa banyak teman-teman kita di luar sana yang salah paham dan kewajiban kita untuk memberitahu Islam yang sesungguhnya.

“Yang paling efektif bukan ceramah berapi-api tapi bagaimana menampilkan Islam dengan perilaku dan karakter,” katanya lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × three =