TALIBAN LARANG UNJUK RASA TANPA IZIN

Pasukan Taliban berjaga di pos pemeriksaan pinggir jalan di Kabul, Afghanistan, 09 September 2021. Foto: EPA-EFE/STRINGER

JIC – Pemerintah sementara Taliban di Afghanistan melarang unjuk rasa tanpa izin. Taliban menggunakan alasan keamanan untuk menerapkan kebijakan ini. Selasa (7/9) lalu Taliban mengumumkan susunan kabinet pemerintahannya.

Pengumuman itu mengakhiri kevakuman kekuasaan selama berpekan-pekan setelah pemerintah yang diakui masyarakat internasional ambruk usai Ibukota Kabul jatuh ke tangan milisi bersenjata pada 5 Agustus lalu. Meski bulan lalu Taliban berjanji untuk membentuk pemerintah yang inklusif.

Namun, kabinet Taliban berisi hanya kelompok mereka sendiri. Beberapa di antaranya termasuk Perdana Menteri Mohammed Hasan Akhund masuk dalam daftar sanksi PBB. Tidak ada perempuan dalam kabinet tersebut.

Sejak Taliban merebut kekuasaan bulan lalu masyarakat Afghanistan turun ke jalan untuk menentang pemerintahan mereka, sesuatu yang tidak dapat dibayangkan pada pemerintah milisi tersebut pada 1996 hingga 2001. Banyak perempuan yang berunjuk rasa. Tapi akhir-akhir ini demonstrasi berakhir dengan kerusuhan. Pengunjuk rasa dan jurnalis mengatakan pasukan keamanan Taliban menggunakan kekerasan.

Menteri Dalam Negeri Taliban Sirajuddin Haqqani mengatakan ‘sekelompok orang’ mengancam keamanan pengunjuk rasa. Ia mengeluarkan dekrit yang melarang unjuk rasa tanpa izin dari Kementerian Kehakiman.

“Kementerian Islam Emirat menginformasikan pada semua warga kecuali semua proses hukum sudah diselesaikan, tidak ada yang boleh melakukan protes dan mengganggu warga, sekelompok orang mengancam keamanan pengunjuk rasa untuk mencapai tujuan politik jahat mereka,” kata Haqqani seperti dikutip Arab News, Kamis (9/9) kemarin.

Namun, para jurnalis mengatakan justru pasukan keamanan Taliban yang melakukan kekerasan. Dua wartawan Etilaat Roz yang meliput unjuk rasa perempuan menuntut hak memperoleh pendidikan dan bekerja mengatakan mereka ditangkap dan dipukuli pasukan keamanan Taliban.

“Kemarin, rekan-rekan kami mendatangi distrik ketiga untuk meliput unjuk rasa di Karte Char, Taliban menangkap mereka karena meliput unjuk rasa, dua rekan saya, Taqi Daryabi dan Nemat Naqdi dipukuli, ketika saya mengirim editor senior, mereka juga ditahan,” kata pemimpin redaksi Etilaat Roz Zaki Daryabi.

Tidak ada unjuk rasa yang digelar di Kabul pada Kamis kemarin (9/9) sementara jaringan internet di sebagian kota di putus. Panitia unjuk rasa yang hendak turun ke jalan mengatakan pemutusan jaringan internet bagian dari upaya mencegah mereka memobilisasi massa.

“Hari ini 9 September, hari rakyat Afghanistan kehilangan Ahmad Shah Massoud, rakyat berencana menggelar unjuk rasa,” kata salah satu pengunjuk rasa Atifa Mohammadi.

Massoud adalah komandan terkenal dari Panjshir yang mempertahankan daerah dari pasukan Uni Soviet. Pada tahun 1990-an juga memimpin serangan terhadap rezim pertama Taliban. Ia dibunuh pada 9 September 2001.

Putranya, Ahmad Massoud memimpin pasukan anti-Taliban di daerah tersebut hingga awal pekan ini. Juru bicara Taliban Ahmadullah Wasiq, Bilal Karimi dan Enamullah Samangani menolak menjawab pertanyaan apakah pemutusan jaringan internet di sebagian Kabul berhubungan dengan rencana unjuk rasa.

Penyedia layanan telekomunikasi Roshan mengatakan pemutusan tersebut karena masalah teknis. “Ada masalah teknis dengan internet, tim kami sedang bekerja memperbaikinya, masalah ini akan selesai malam ini,” kata Pejabat Layanan Konsumen Roshan, Hekmatullah Halimi.

Sumber : republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

PENGAMAT INTELIJEN SUSANINGTYAS KLARIFIKASI SOAL BAHASA ARAB

Read Next

SOAL KEBIJAKAN BOOSTER, WAGUB DKI: TUNGGU KEBIJAKAN PUSAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − 5 =