Umat Islam Harus Ikut Dukung Bank Syariah

Syariah tidak mungkin lahir dari bercampurnya sistem haq dengan bathil. Hidayatullah.com–Carut marutnya perekonomian dunia saat ini adalah buah dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis.Perbedaan si kaya dengan si miskin bagai bumi dengan lagit.Solusi keluar dari permasalahan pelik ekonomi ummat saat ini adalah mengikuti aturan  Allah dan Rasul-Nya secara menyeluruh (kaffah).

Syariah tidak mungkin lahir dari bercampurnya sistem haq dengan bathil. Hidayatullah.com–Carut marutnya perekonomian dunia saat ini adalah buah dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis.Perbedaan si kaya dengan si miskin bagai bumi dengan lagit.Solusi keluar dari permasalahan pelik ekonomi ummat saat ini adalah mengikuti aturan  Allah dan Rasul-Nya secara menyeluruh (kaffah).

Meski demikian, penerapan ekonomi syariah Islam tidak bisa hanya dari satu sisi saja. Namun harus menyeluruh di semua sektor dan tidak bercampur dengan sistem bathil yang ada. Contohnya sistem perbankan saat ini,meski telah memakai nama syariah sejatinya setali tiga uang dengan perbankan konvensional yang ada.

Demikian pendapat Dr.Abdul Halim yang disampaikan dalam Seminar Ekonomi Syariah, Rabu (21/7/2010) di Bandung. Lebih lanjut pengajar pada Fakultas Hukum dan Bisnis Ekonomi Syariah Universitas Multimedia Malaysia ini menjelaskan, bank yang menambahkan kata syariah hanya membodohi ummat saja.

“Tak ada bedanya, karena bank syariah masih menggunakan sistem bank konvensional yang ada. Syariah Allah itu murni tak mungkin bisa bercampur sistem bathil. Syariah tidak mungkin lahir dari bercampur sistem Allah (haq) dengan sistem kapitalis (riba),” sambung Halim dengan logat melayu yang kental.

Ia lantas menganalogikan jika judi itu haram maka casino juga haram. Demikian juga jika bunga (riba) haram maka bank haram juga. Iapun bertanya,jika casino ditambahi syariah hingga menjadi casino syariah, apakah lantas menjadi halal?. Demikian juga untuk bank.

Halim juga memberi gambaran ibarat air tidak mungkin bercampur dengan minyak. Syariah Allah yang bersih tidak mungkin bercampur dengan sistem kapitalis yang kotor.

Dirinya lantas menghimbau ummat Islam untuk tidak berlebihan dalam transaksi perbankan jika belum mampu secara total meninggalkan perbankan.

Adalah kesalahan besar jika Indonesia bercermin pada kesuksesan Malaysia dalam penerapan perbankan syariah.Menurutnya praktek bank syariah di negeri Jiran yang telah dimulai sejak 1980-an adalah karena alasan politik semata.

“Saat itu warga (ummat Islam) tidak mau menyimpan uangnya di bank maka untuk menariknya dipakailah istilah bank syariah,” papar Halim membuka rahasia.

Meski sudah berganti bank syariah dengan prinsip bagi hasil namun pada prakteknya masih berbasis sistem kapitalis dengan pola persentasi suku bunga serta mengacu pada sistem perbankan internasional.

Sementara itu Dr A.Riawan Amin yang juga menjadi panelis dalam seminar tersebut membantah pendapat tersebut.

“Sampai saat ini belum ada fatwa yang mengharamkan riba,yang diharamkan adalah bunga bank. Sedangkan di bank syariah tidak ada bunga namun bagi hasil,” jelas mantan Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia tersebut.

Riawan sendiri mengakui,hingga saat ini bank-bank syariah memang belum seratus persen sesuai syariah. Namun begitu,l anjutnya, bukan berarti ummat  harus menjauhi bahkan meninggalkannya.

Justru sebaliknya ummat diharapkan ikut mendukung adanya bank-bank syariah yang menurutnya tujuh puluh persen sudah sesuai syariah.

“Ibarat bemain sepak bola,selama ini kita telah bermain di lapangan orang lain. Dengan cara dan aturan main yang dibuat orang lain. Karenanya kita tidak akan pernah memenangkan pertandingan. Alih-alih mendapatkan kemakmuran, kejatuhan yang kita alami,”papar Ketua Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) tersebut.

Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan ekonomi tersebut, Riawan berpendapat, ekonomi syariah solusinya. Menurutnya, sistem ekonomi ini merupakan sistem yang anti maghrib (maisyir, gharar, riba dan bathil) dan dibangun diatas landasan keadalan (fairness),kejujuran (sincerity) dan keterbukaan (transparency). Dan bank syariah bagian dari sistem ekonomi syariah itu.

Meski berbeda pendapat soal perbankan,keduanya setuju jika uang kertaslah (fiat money) yang menjadi sumber krisis ekonomi baik lokal maupun global, baik yang  melanda negara berkembang maupun negara maju.

Baik Abdul Halim maupun Riawan Amin sepakat, selain bertaqwa kepada Allah dengan sebenarnya taqwa maka dinar dan dirham sebagai alat transaksi yang solutif bagi ummat Islam maupun non muslim keluar dari krisis.Selain sesuai syariah, terbukti dinar dan dirham relatif lebih stabil terhadap guncangan krisis ekonomi global. [man/hidayatullah.com]

 

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Menolak Syariah, Ciri Kaum Munafik

Read Next

Gaji “Wartawan Ghibah” dan Gosip Haram!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − four =