
JIC, JAKARTA- Bank BJBS merupakan contoh menarik. NIM (selisih pendapatan aktiva terhadap biaya bagi hasil dana)-nya hampir mencapai lima persen, tetapi ROA-nya negatif. Itu mengindikasikan BJBS dapat dibagi menjadi dua sistem pengelolaan bank, yaitu sebagai good bank yang tecermin dari NIM-nya yang relatif tinggi, yaitu 4,68 persen, dan sebagai bad bank yang tecermin dari ROA yang negatif.
BOPO Bank BJBS yang di atas 100 persen, tepatnya 134,63 persen, menambah kuat indikasi tersebut. Dengan membagi sistem pengelolaan Bank BJBS menjadi good bank dan bad bank, maka good bank BJBS dapat berfokus menjaga rasio BOPO yang berasal dari kegiatan operasional pada tingkat yang efisien. Sedangkan, bad bank BJBS dapat berfokus menyelesaikan pembiayaan bermasalah yang pada gilirannya dapat menurunkan BOPO yang berasal dari biaya pencadangan pembiayaan bermasalah.
Pembagian good bank dan bad bank juga dapat memudahkan bank induk menghitung kebutuhan tambahan modal kepada bad bank untuk dapat melakukan hapus buku atau menjual pada asset management companysehingga kinerja bank secara keseluruhan segera menjadi baik ketika dilakukan hapus buku pembiayaan bermasalahnya.
Fenomena yang agak berbeda tetapi dapat berujung pada skenario yang sama adalah Bank Muamalat. NIM-nya sebesar 2,48 persen, tidak setinggi NIM BJBS, tetapi ROA Bank Muamalat positif 0,11 persen. BOPO Bank Muamalat juga masih di bawah 100 persen, yaitu 97,68 persen. Itu merupakan indikasi bahwa skenario good bank dan bad bank juga dapat diterapkan di Bank Muamalat.
Dengan pembagian tersebut, good bank Bank Muamalat diharapkan dapat berfokus mengembangkan bisnis dan meningkatkan profitabilitasnya, sedangkan bad bank Bank Muamalat dapat berfokus pada perbaikan pembiayaan bermasalahnya.
Kondisi Bank Muamalat saat ini merupakan saat yang tepat bagi investor strategis untuk masuk karena dapat membeli sahamnya dengan harga yang murah untuk mendapatkan bank yang memiliki prospek sangat bagus dan kekuatan merek yang kuat. Diperkirakan sebelum Oktober proses masuknya investor strategis telah selesai, dan pada akhir tahun 2018 kinerjanya menjadi salah satu yang terbaik.
Bank Syariah Mandiri dan BRI Syariah merupakan dua bank syariah dengan NIM yang relatif tinggi, yaitu di atas lima persen, walau ROA kedua bank ini masih rendah. Bank dengan NIM tinggi walaupun memiliki ROA rendah dapat mengindikasikan beberapa kemungkinan. Pertama, NIM yang tinggi belum diimbangi oleh efisiensi operasional yang setara. Kedua, belum diimbangi dengan efektivitas pengelolaan risiko pembiayaan. Ketiga, masih terbebani oleh aset tidak produktif dan/atau aset produktif berimbalan rendah di masa lalu.
Dalam kondisi BRI Syariah, penawaran saham perdana diperkirakan akan berada pada harga 1-1,3 kali nilai nominalnya. Dengan NIM yang relatif tinggi, harga sahamnya di pasar sekunder diperkirakan akan memiliki tren meningkat menjadi 1,7-2 kali pada tahun ini.
Bank BTPN Syariah masih tetap menjadi upside outlier karena kinerjanya yang secara ekstrem lebih baik daripada industri perbankan syariah, bahkan bila dibandingkan dengan bank konvensional terkemuka sekalipun. NIM-nya sangat tinggi, yaitu 35,96 persen, dengan ROA 11,19 persen dan ROE 36,50 persen. Harga saham nominal Rp 100 ditawarkan seharga Rp 975. Dengan kinerja yang ekstrem baik dan tren membaik ini, tantangannya adalah menjaga terus kinerja bank sehingga tren harga sahamnya terus meningkat.
Kebangkitan kembali industri perbankan syariah dengan wajah baru dan postur yang lebih kuat, lebih baik profitabilitasnya, lebih banyak memberikan manfaat, lebih barokah. Setiap upaya menghidupkan kembali nilai-nilai ekonomi syariah akan mengundang keberkahan Allah untuk bangsa ini. Upaya untuk memenangkan pelaku ekonomi syariah dalam persaingan bisnis sama pentingnya dengan upaya menegakkan syariah itu sendiri.
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menghidupkan salah satu saja dari sunah-sunahku kemudian diikuti oleh yang lain, maka yang pertama menghidupkan itu akan mendapatkan juga pahala orang yang ikut mengamalkan tanpa mengurangi pahala orang yang mengikuti itu.”
Sumber : republika.co.id












