FENOMENA MAJELIS DZIKIR

Sebelum tahun 90-aan, majelis dzikir di Jakarta tidak terlalu populer. Orang lebih mengenal majelis taklim daripada majelis dzikir. Karena umumnya pada waktu itu, penyelenggaraan majelis dzikir masih didominasi oleh kelompok-kelompok tariqat. Pesertanya juga ekslusif, hanya untuk anggota dari kelompok tariqatnya yang dilakukan di tempat atau masjid yang menjadi basis aktivitas mereka.  Sebelum tahun 90-aan, majelis dzikir di Jakarta tidak terlalu populer. Orang lebih mengenal majelis taklim daripada majelis dzikir. Karena umumnya pada waktu itu, penyelenggaraan majelis dzikir masih didominasi oleh kelompok-kelompok tariqat. Pesertanya juga ekslusif, hanya untuk anggota dari kelompok tariqatnya yang dilakukan di tempat atau masjid yang menjadi basis aktivitas mereka.

Baru pada tahun 90-an terutama di era reformasi, majelis-majelis dzikir non tariqat mulai tumbuh bak jamur di musim hujan, fenomenal. Pengertian non tariqat disini, pendiri dan pemimpin majelis dzikir adalah ustadz, ulama atau habaib yang hampir semuanya tidak secara langsung berhubungan dengan tariqat tertentu, baik sebagai khalifah, wakil talqin atau mursyid. Jama`ah yang menghadirinya juga tidak ekslusif. Siapa pun, asal muslim, ia bisa ikut bergabung.

Apalagi di bulan maulid seperti sekarang ini, penyelenggaraan dzikir pun begitu marak yang disertai dengan pembacaan sholawat dan rawi maulid. Tempat penyelenggaraannya juga bukan hanya di masjid atau tempat yang terbatas, stadion dan lapangan terbuka juga menjadi tempat favorit. Dua tokoh pendiri dan pemimpin majelis dzikir terkemuka di Jakarta bahkan nasional yang kita kenal adalah Ustadz Arifin dan Habib Mundzir Al-Musawwa.

Ustadz Arifin Ilham pertama kali memperkenalkan majelis dzikirnya pada tahun 1997, di masjid tempat ia tinggal, Depok, Jawa Barat dengan nama Majelis Dzikir Az-Zikra. Dzikir yang ia bawakan ini begitu ringkas dan mudah diikuti setiap orang. Setiap berdzikir ia menerjemahkan bacaannya ke bahasa Indonesia agar dimengerti maksudnya. Dzikir ini bukan sekadar dzikir lisan, tapi sampai ke hati, karena sifatnya mengoreksi diri yang membuat setiap hadirin akan tersentuh dan menangis karenanya.

Selain Majelis Dzikir Az-Zikra, siapa warga Jakarta yang tidak mengenal Majelis Rasulullah SAW? Jaket dan bendera berlogo yang dibawa para anggotanya sambil berkonvoi dengan mengendarai motor ke majlis dzikirnya adalah pemandangan yang hampir rutin dilihat warga Jakarta. Majelis dzikir ini didirikan dan dipimpin oleh Habib Mundzir Al-Musawwa. Awal berdirinya ketika ia menyelesaikan studinya dari Darulmustafa pimpinan Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidz di Tarim, Hadramaut, Yaman. Ia kembali ke Jakarta dan memulai berdakwah pada tahun 1998 dengan mengajak orang bertobat dan mencintai Rasulullah SAW yang dengan itu ummat ini akan pula mencintai sunnahnya, dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai Idola. Ia mulai berdakwah siang dan malam dari rumah kerumah di Jakarta. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan, ia mulai membuka majelis setiap malam Selasa mengikuti jejak gurunya. Dia pun memimpin Ma’had Assa’adah, yang di wakafkan oleh Al-Habib Umar bin Hud Alattas di Cipayung. Setelah setahun, ia tidak lagi meneruskan memimpin ma’had tersebut dan melanjutkan dakwahnya dengan menggalang majelis-majelis di seputar Jakarta. Mulailah timbul permintaan agar majelisnya ini diberi nama. Habib Mundzir Al-Musawwa dengan polos menjawab, “Majelis Rasulullah?”, karena memang tak ada yang dibicarakan selain ajaran Rasulullah SAW dan membimbing mereka untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan pada dasarnya semua Majelis taklim adalah Majelis Rasulullah SAW.

Namun, ada satu majelis dzikir yang mungkin belum ada padanannya di Indonesia, yaitu Majelis Dzikir Al-Fauz. Majelis dzikir ini merupakan organisasi baru di lingkungan Provinsi DKI Jakarta yang pada hari Sabtu, 26 Februari 2011 kemarin mengadakan rapat kerja (raker) pertamanya di Jakarta Islamic Centre. Inilah majelis dzikir yang kepengurusan dan kepesertaannya bukan hanya terdiri atas ustadz, ustadzah, ulama dan habaib saja, tetapi juga para pejabat di lingkungan Pemprov. DKI Jakarta dan dengan manajemen organisasi modern yang memiliki struktur organisasi dari pusat (majelis utama), cabang, sampai ranting. Majelis Utama dari Majelis Dzikir Al-Fauz diketuai oleh Drs. H. Muhayat yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Jakarta Islamic Centre yang baru dengan sekretaris majelis utama H. Marullah Matali. Dari raker pertamanya ini, sebagaimana disampaikan oleh H.Marullah Matali, diharapan Majelis Dzikir Al-Fauz dengan kegiatan-kegiatan dzikir yang diadakannya dapat menenangkan dan menyejukan hati masyarakat Jakarta yang sering menghadapi kegundahan dan kegalauan dalam mengarungi kehidupan. Harapan yang sekaligus menjadi salah satu sebab fenomena maraknya keberedaan majelis dzikir di Jakarta dan semoga majelis dzikir ini dapat ditiru oleh provinsi-provinsi lain di Indonesia. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Kemenag Akan Selenggarakan Dialog Nasional Ahmadiyah

Read Next

Siang Ini, Pembukaan Islamic Book Fair ke-10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − eleven =