TAFSIR BENCANA

Di musim hujan, di beberapa wilayah di Indonesia rawan terjadi bencana. Seperti banjir atau tanah longsor. Indonesia juga berada di wilayah yang rawan gempa. Di awal bulan Januari ini saja, di beberapa tempat terjadi gempa seperti yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam pada dini hari Rabu kemarin (11/1/2012). Namun, ada sebuah tafsir yang dipopulerkan oleh sekelompok kaum muslim jika di Indonesia terjadi bencana, apalagi jika bencana itu berskala besar dan menelan banyak korban. Tafsir itu adalah mencocokan jam dan menit peristiwa bencana tersebut dengan surat dan ayat tertentu di dalam Al-Qur`an, dengan kesimpulan bahwa korban bencana merupakan pihak yang yang wajib disalahkan karena dianggap pendosa yang telah mengundang murka Allah SWT.

Di musim hujan, di beberapa wilayah di Indonesia rawan terjadi bencana. Seperti banjir atau tanah longsor. Indonesia juga berada di wilayah yang rawan gempa. Di awal bulan Januari ini saja, di beberapa tempat terjadi gempa seperti yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam pada dini hari Rabu kemarin (11/1/2012). Namun, ada sebuah tafsir yang dipopulerkan oleh sekelompok kaum muslim jika di Indonesia terjadibencana, apalagi jika bencana itu berskala besar dan menelan banyak korban. Tafsir itu adalah mencocokan jam dan menit peristiwa bencana tersebut dengan surat dan ayat tertentu di dalam Al-Qur`an, dengan kesimpulan bahwa korban bencana merupakan pihak yang yang wajib disalahkan karena dianggap pendosa yang telah mengundang murka Allah SWT.

Menurut salah seorang ulama Betawi yang juga merupakan salah seorang Rais Syuriah PB NU, KH. Saifuddin Amsir, jika sikap menyalahkan ini dilakukan pada situasi dan kondisi yang tepat, apalagi didukung dengan dalil-dalil yang kuat terlebih yang dalil itu berasal dari Al-Qur`an, maka sudah menjadi kewajiban bagi semua pihak termasuk para korban menerimanya karena akan mendatangkan mashlahat. Namun, jika disampaikan pada situasi dan kondisi yang kurang tepat, seperti sekarang ini, dimana umumnya para korban dalam stiuasi emosi yang tidak stabil dan dalam keguncangan jiwa yang hebat, justru menjadi sesuatu yang mafsadat, baik bagi si korban karena akan menambah penderitaannya, dan juga umat Islam secara keseluruhan di Indonesia berupa melemahnya ukhuwah Islamiyah, terutama dengan saudara-saudara mereka sesama muslim yang menjadi korban gempa. Karenanya, para penyampai atau penyebar tafsir ini (biasanyanya melalui SMS) memang harus mengakui kekhilafannya karena tidak sensitif, tidak melihat situasi dan kondisi para korban dan masyarakat yang sedang menderita pada saat menyampaikannya.

Namun di sisi lain dari seringnya tafsir disampaikan melalui SMS, muncul tiga pendapat di tengah-tengah masyarakat, yaitu: pendapat pertama mengatakan bahwa bencana adalah “kebetulan”, pendapat kedua mengatakan bahwa hal itu adalah “kebenaran”, dan pendapat ketiga adalah “kebenaran yang terjadi karena kebetulan”. Ketiga pendapat tersebut, disadari atau tidak, ternyata bersandar kepada pemahaman teologi tertentu di dalam Islam.

Teologi “Kebetulan”

Teologi “kebetulan” adalah teologi Mu`tazilah. Menurut penganut teologi ini, Allah SWT memang telah menciptakan kondisi rawan bencana, terutama gempa, di tanah air . jadi tidak ada campur tangan-Nya lagi ketika bencana terjadi, apalagi dikait-kaitkan dengan murka-Nya. Kesalahan manusialah biang keladinya, baik kesalahan konstruksi, kesalahan tata letak, kesalahan karena merusak ekosistem dan alam, dan sebagainya. Menurut penganut teologi ini, Allah SWT tidak menyukai kerusakan, dan tidak menciptakan perbuatan hamba, tetapi hambalah yang melakukan apa yang diperintahkan dan yang dilarang dengan qudrah (daya) yang diberikan dan diletakkan Allah SWT. Kepada mereka Allah SWT mengayomi segala kebaikan yang diperintahkan dan berlepas diri dari segala kejahatan yang dilarang-Nya. Kesalahan ada pada bangsa Indonesia yang tetap saja menghuni tanah airnya yang rawan gempa, jadi segala risiko harus mereka tanggung. Tidak perlu mengkait-kaitkan bencana gempa dengan murka-Nya yang kebetulan cocok dengan surat dan ayat tertentu di dalam Al-Qur`an, karena sekali lagi, Allah SWT selalu menghendaki kebaikan kepada makhluk-Nya.

Teologi”Kebenaran”

Jika ada kesesuaian jam dan menit terjadinya bencana, seperti bencana gempa, dengan surat dan ayat tertentu di dalam Al-Qur`an yang berisi murka dan wujud dari ancaman-Nya, maka itu adalah sebuah kebenaran yang harus diterima oleh kaum muslimin. Karena sampai saat ini, tidak ada satu pun teknologi yang dapat mengetahui kapan dan dimana gempa itu terjadi, walaupun Indonesia merupakan daerah rawan bencana, rawan gempa, yang selalu dalam pengawasan ketat para pakar dan pihak-pihak terkait dengan menggunakan teknologi paling canggih saat ini. Semuanya, tetap saja berada dalam kehendak dan ketetapan Allah SWT.

Menurut penganut teologi ini, yang dikenal sebagai Asy`ariyyah, di muka bumi ini tidak terjadi suatu kejahatan maupun kebaikan kecuali dikehendaki Allah SWT. Segala sesuatu terjadi berdasarkan kehendak-Nya. Seseorang tidak akan sanggup melakukan sesuatu sebelum Allah SWT melakukannya. Manusia tidak bisa melepaskan diri dari Allah SWT dan tidak mampu keluar dari pengetahuan-Nya. Penganut teologi ini mengimana qadha `dan qadar AllahSWT, yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit. Jadi, bencana tetap dalam kehendak-Nya yang buruk seperti yang tertera di dalam surat dan ayat yang sesuai dengan jam dan menitnya.

Teologi”Kebenaran yang terjadi karena Kebetulan”

Kebetulan Indonesia merupakan daerah rawan bencana, namun kesesuaian jam dan menit dengan surat dan ayat tertentu di dalam Al-Qur`an merupakan kebenaran. Namun, bencana gempa yang terjadi sebenarnya dapat dihindari oleh para korban jika jauh-jauh hari melakukan ikhtiar untuk hijrah dari daerah yang memang rawan gempa tersebut ke daerah yang tidak rawan bencana, sehingga manusia dapat melepaskan diri dari takdir Allah SWT yang buruk untuknya kepada takdir Allah swt. yang baik untuknya. Teologi ini dikenal dengan nama Maturidiyyah.

Kita penganut yang mana?

Dari tiga teologi di atas, yang moderat adalah Maturidiyyah, salah satu paham yang membentuk Ahlussunnah Wal Jama`ah, disamping Asy`ariyyah. Maka paham ini perlu kita pegang dan anut agar tidak tersesat secara pemikiran dan dalam menyikapi bencana seperti gempa yang akan sering terjadi. Karena sekali lagi, nenek moyang kita telah memilih tanah air yang rawan bencana ini, terutama gempa, sebagai tempat untuk bermukim dan menjalankan kehidupannya, sebagaimana kita telah memilihnya juga. Jika tidak berkenan, kita dapat pindah, karena bumi Allah swt. masih luas untuk hamba-hamba-Nya yang sholeh. Wallaahu`alam bishowab.

Akhirul kalam, untuk memperdalam pemahaman tentang hal ini, Anda juga dapat menggalinya bersama KH. Saifuddin Amsir, Dr. KH. Ahsin Muhammad Saqo, dan lain-lain pada seminar Mutiara-Mutiara Al-Qur`an dalam Kemelut Kekinian pada hari Selasa, 31 Januari 2012 di Aula Serba Guna JIC dari jam 13.00 s/d 17.00 WIB. Bagi mereka yang berminat untuk mengikuti seminar ini dapat mendaftarkan diri ke JIC melalui telepon (021) 4413069 via Lala atau Lia atau di 081314165949, peserta tidak dipungut biaya.

* * *

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Kiat Selamat dari Gosip

Read Next

Kendalikan Nafsu, Itu Jalan Ke Surga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 9 =