Home Khazanah Islam Akhlak IMPELEMENTASI MAULID NABI SAW DALAM KESEHARIAN

IMPELEMENTASI MAULID NABI SAW DALAM KESEHARIAN

0
35

Serial Ayat-Ayat Pendidikan -Edisi Lima Puluh Lima 

Oleh : Arief Rahman Hakim, M.Ag.

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan Pusat PPIJ

Berdasarkan laporan The Muslim 500: The World’s 500 Most Influential Muslims 2026 yang diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC), jumlah penduduk Muslim dunia mencapai 2,15 miliar jiwa pada 2025. Angka tersebut setara dengan 26,11% dari total penduduk dunia yang diperkirakan berjumlah 8,23 miliar jiwa.

Bila dilihat berdasarkan negaranya, Indonesia menjadi negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia pada 2025. Total muslim di Indonesia mencapai 248,6 juta jiwa atau sekitar 11,56% dari keseluruhan penduduk Muslim dunia.

Posisi kedua ditempati Pakistan dengan jumlah penduduk muslim sebanyak 246,3 juta jiwa. Kemudian, India menyusul di posisi ketiga dengan 213,7 juta penduduk Muslim.

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

 

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.

[Al-Ahzab (33) : 21]

 

Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir ini adalah pokok yang agung tentang mencontoh Rasulullah saw dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya. Untuk itu Allah Ta’ala memerintahkan manusia untuk mensuritauladani Nabi saw pada hari Ahzab dalam kesabaran, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabarannya dalam menanti pertolongan dari Rabbnya.

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di, beliau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagaimana bisa kaum Muslim kikir dengan diri mereka untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah sendiri langsung terjun padanya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya.

Keteladanan itu ada dua macam:

keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk.

Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, apabila menyalahi beliau, maka itulah teladan yang buruk.

Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelusuri dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepada-Nya, takut akan siksa-Nya yang semuanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah.

 

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an bahwa meski menghadapi kegoncangan yang luar biasa menakutkan dan tekanan yang menegangkan, namun Rasulullah tetap menjadi pelindung yang menenangkan orang-orang yang beriman. Juga sebagai sumber kepercayaan, harapan, dan kedamaian.

Orang-orang yang menginginkan ridha Allah dan mengutamakan kehidupan akhirat. Mencari untuk dirinya teladan yang baik. Mereka mengingat Allah dengan berzikir kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya.

Di saat kaum Muslim bekerja mempersiapkan Perang Ahzab, Rasulullah saw berada di tengah-tengah mereka. Beliau menggali dengan pacul lalu mengangkut debu dan tanah dengan alat pikul.

 

Syaikh Wahbah az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir, Sungguh pada diri Nabi Muhammad saw. benar-benar terdapat suri tauladan dan contoh yang luhur dan ideal yang harus ditiru bagi kalian wahai orang-orang Mukmin. Maka, semestinyalah kalian meneladani beliau, meniru dan mencontoh karakter dan sifat-sifat beliau. Karena Nabi Muhammad saw. adalah contoh ideal dalam hal keberanian, kesabaran, ketabahan, ketegaran dan perjuangan, Hal itu iika memang kalian menginginkan pahala dan karunia Allah S\MI, takut kepada-Nya dan hisab-Nya, serta senantiasa banyak berdzikir kepada-Nya siang dan malam, sebagai bentuk ungkapan mahabbah dan pengagungan kepada-Nya, takut akan hukuman-Nya, serta mengharapkan pahala dan ganjaran-Nya. Karena sesungguhnya berdzikir dan ingat kepada Allah SWT bisa mendorong ketaatan kepada Nya dan meneladani Rasul-Nya.

 

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda,

 

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

 

Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan semua manusia.

[HR. Bukhari dan Muslim]

 

Di dalam Mukhtasar Sya’bul Iman (Syarah 77 Cabang Iman Imam Al-Baihaqi), beriman terhadap kewajiban mencintai Rasulullah saw adalah cabang iman ke-14.

Adapun beriman dengan wajibnya mengagungkan, menghormati dan memuliakan Nabi Muhammad saw adalah cabang iman ke-15.

Qadhi Iyadh pernah berkata, Ketahuilah bahwasanya seseorang yang mencintai sesuatu itu akan selalu mengikuti orang yang dicintainya. Jika tidak, kecintaannya tidak benar. Dia hanya menganggap cinta, padahal tidak.

 

Orang yang benar-benar mencintai Nabi saw adalah orang yang memperlihatkan kriteria kecintaan kepadanya. Yaitu, dia harus mengikuti jejak langkahnya, mengamalkan sunah-sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, menaati semua perintah serta larangannya, mengikuti etika dan adab-adab yang diajarkannya di kala susah maupun senang.

 

Maka implementasi Maulid Nabi saw dalam keseharian adalah :

Pertama, Menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan, role model dalam kehidupan setiap Muslim. Tidak ada manusia di muka bumi yang kehidupannya begitu indah dan tercatat dengan detil  ; mulai bangun tidur, aktifitas ibadah, kehidupan rumah tangganya, hubungan sosial kemasyarakatannya, dunia bisnisnya, cara berinteraksi dengan sesama; kepada orang lebih tua dan kepada yang lebih muda, terhadap yang status sosialnya mapan maupun lebih rendah, cara bertutur kata, berjalan, dan sebagainya.

Kedua, memperbanyak salawat kepadanya.

 

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.

[HR. Muslim]

 

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

 

Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.

[HR. Baihaqi]

 

Ketiga, melanjutkan risalah dakwahnya.

 

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

[Ali Imran (3) : 110]

 

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

 

Demi Allah, sungguh jika Allah memberi petunjuk (hidayah) kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah (harta paling berharga di Arab pada masa itu).

[HR. Bukhari dan Muslim]

 

Keempat, Mengamalkan sunnah-sunnahnya.

 

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

 

Katakanlah (Nabi Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[Ali Imran (3) : 31]

 

 

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

 

Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.

[HR. Ibnu Majah]

 

Kelima, Belajar mencontoh akhlak Rasulullah saw.

 

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

 

Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.

[Al-Qalam (68) : 4]

 

Keenam, Berempati dan kasih sayang seperti Rasulullah saw terhadap umatnya.

 

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

 

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.

[At-Taubah (9) : 128]

 

Ketujuh, Berlemah lembut kepada orang-orang Mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang yang memusuhi dakwah.

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ ۖوَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗوَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ

 

Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar

[Al-Fath (48) : 29]

Dari Abdullah bin Mas’ud, Hati ini ditakdirkan untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang menyakitinya.

[Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah]

 

Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita mengimplementasikan nilai-nilai yang Rasulullah saw ajarkan dan belajar terus membenahi diri dan keluarga, serta terlibat aktif di dalam proyek kemajuan umat. Aamiin.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 5 =