Home News Update Islam Indonesia KPIH: TENDA DAN MCK JADI MASALAH UTAMA PELAYANAN HAJI

KPIH: TENDA DAN MCK JADI MASALAH UTAMA PELAYANAN HAJI

0
385
x-default

JIC, JAKARTA — Pelayanan di Mina masih menjadi bahan evaluasi dalam pelayanan jamaah haji di tanah suci tahun ini. Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI), M. Samidin Nashir, mengatakan permasalahan yang masih ada saat di Mina adalah soal tenda dan MCK (toilet). Keduanya dinilai sudah tidak cukup memadai bagi jamaah yang jumlahnya kian meningkat setiap tahunnya. Karena ruang tenda yang sempit, setiap jamaah rata-rata hanya mendapatkan ruang sebesar 0,8 meter per jamaah di dalam tenda. Normalnya, ruang untuk setiap jamaah adalah 1,5 meter.

“Sehingga, jamaah tidak bisa istirahat dengan nyaman. Dengan 0,8 meter, jamaah hanya bisa tidur dengan kaki tertekuk. Akibatnya, sebagian jamaah tidur di luar tenda,” kata Samidin, Rabu (6/12).

Selain itu, kondisi keterbatasan jumlah toilet yang mengular sepanjang waktu juga dikeluhkan oleh para jamaah. Ia mengatakan, perbandingan antara jumlah toilet dan jumlah jamaah yang semakin meningkat dinilai terlalu jauh. Menurutnya, kondisi ruang tenda yang sempit dan diperparah dengan kondisi jumlah toilet yang kurang telah mengakibatkan penurunan daya tahan fisik para jamaah.

Hal itu juga terlihat dari angka kematian jamaah yang tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Pada 2017, jamaah haji asal Indonesia yang meninggal naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini, kata Samidin, jumlah jamaah yang meninggal mencapai di atas 600 jamaah.

“Biasanya tahun sebelumnya cukup satu kloter. Kalau ini ukurannya dua kloter. Padahal tidak terjadi musibah massal. Sesampainya di Armina, kisaran 200 jamaah yang meninggal. Begitu selesai, angka kematian langsung melonjak drastis. Sampai akhir pemulangan itu ada 666 jamaah meninggal,” lanjutnya.

Sementara itu, Samidin mengatakan tidak ada masalah dengan masalah kebersihan di Mina. Menurutnya, kebersihan di Mina tahun ini relatif sama seperti tahun sebelumnya. Begitu pula dengan masalah katering, yang menurutnya berjalan normal.

Solusi KPHI bagi Pelayanan Jamaah Haji

Sebagai solusi, Samidin menyarankan, agar pemerintah Arab Saudi menambah jumlah tenda di Mina.  Begitu pula dengan jumlah toilet, yang dikatakannya, perlu ditambah atau ditingkat.

“Solusinya, kalau memungkinkan dibuat tenda bertingkat. Kalau tenda ditingkat, maka MCK itu bisa juga berada satu paket dengan tenda,” kata Samidin.

Kalaupun tidak memungkinkan dikerjakan segera, Samidin mengatakan, bahwa jamaah haji yang tinggal di hotel dekat dengan jamarat agar diizinkan untuk mabit di pondokan (hotel). Karena ada beberapa hotel yang dekat dengan jamarat. Misalnya, hotel 601, 602, dan yang lainnya.

Samidin mengatakan, jarak dari hotel tersebut ke Jamarat bahkan lebih dekat daripada dari kawasan tenda-tenda di Mina. Menurutnya, hotel-hotel itu memang bukan masuk dalam kawasan Mina, tapi sangat dekat dengan batas Mina.

Dalam hal ini, mabit di pondokan tidak tidak mengurangi keutamaan berhaji. Kewajiban dalam berhaji adalah mabit (bermalam) di Mina. Akan tetapi, kata dia, bermalam di Mina tidak berarti harus tidur semalam suntuk di tenda-tenda di Mina.

“Yang dimaksud Mabit adalah tinggal di sebagian malam, bisa mulai terbenam matahari. “Keutamaannya mabit sampai fajar, tapi sampai jam 12 malam juga cukup. Di malam hari, jamaah bisa keluar dari hotel dalam rangka melontar jumrah sekaligus mabit di Mina. Jadi istirahatnya di hotel, siang misalnya di hotel,” ujar dia.

Sebagai solusi yang lain, Samidin menyarankan, agar beberapa tenda yang dipakai jamaah haji plus bisa direposisi atau dipindahkan ke tenda yang ada di dekat jamarat. Dengan demikian, jamaah haji reguler bisa menggunakan tenda tersebut.

Dia mengatakan, jamaah haji asal Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bermalam di tenda yang ada di lembah Muhassir. Area itu dikatakannya cukup sempit untuk menampung jamaah haji saat ini.

Di sisi lain, pihak pemerintah Saudi sendiri masih keberatan untuk membangun tenda bertingkat. Hal itu dikarenakan pertimbangan syar’i, keamanan, dan lainnya.

Selain tenda dan MCK, Samidin juga menyoroti soal transportasi dari pondokan menuju Arafah. Menurutnya, kualitas bus yang digunakan memang kurang baik. Banyak bus yang mengalami mogok.

Buruknya kondisi bus tersebut, menurutnya, bukan hanya terjadi pada jamaah reguler, tetapi juga termasuk jamaah khusus. Bahkan, kata dia, tak sedikit jamaah khusus yang menggunakan bus sekolah. Hal ini, dikatakannya, menjadi catatan bagi pemerintah Saudi untuk memperbaiki transportasi dan pelayanan lainnya di Mina.

“Karenanya KPIH mendorong pemerintah Indonesia untuk meningkatkan negosiasi dengan Arab Saudi, agar pelayanan di Mina diperbaiki,” ujarnya.

Dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kepuasan pelayanan jamaah haji di Mina menurun dari tahun sebelumnya. Hal itu mencakup dari pelayanan transportasi, katering, dan tenda. Pelayanan tenda di Mina merupakan indeks kepuasan terendah yaitu sebesar 75,55 persen atau turun 1,75 poin dibandingkan 2016 lalu.

Sumber ; ihram.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − 1 =