Home Khazanah Islam Akhlak MENJAGA KESELAMATAN JIWA

MENJAGA KESELAMATAN JIWA

0
413

Serial Ayat-Ayat Pendidikan

Oleh :

Ustaz Arief Rahman Hakim, S.Sos. M.Ag

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

 

DALAM kehidupan sehari-hari manusia memiliki sedikitnya dua peran; Pertama, sebagai hamba yang beribadah kepada Allah Ta’ala (adz-Zariyat: 56). Kedua, peran sebagai khalifah, pemakmur bumi (Hud: 61) dan menjaga kehidupan. Kedua peran ini sangat melekat dalam jiwa seorang mukmin.

 

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

 

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

[An-Nur (24) : 55]

 

Di dalam buku Meniti Jalan Islam, Imam al-Alusi menyatakan bahwa ayat di atas menjadi dalil akan kewajiban memakmurkan bumi sesuai dengan kemampuan dan peran setiap orang beriman.

 

Sebab turunnya ayat, Al-Hakim dan ath-Thabrani meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab ra, ia berkata, Tatkala Rasulullah saw. dan para sahabat beliau datang ke Madinah dan diberi tempat tinggal oleh kaum Anshar, saat itu orang-orang Arab sepakat dalam memusuhi kaum Muslimin. Waktu itu, kaum Muslimin tidak bisa meninggalkan senjata mereka, baik malam maupun siang mereka selalu mempersenjatai diri tanpa lepas dari senjata mereka. Lalu mereka pun berkata, Lihatlah, kapankah kiranya kita bisa menjalani hidup dengan tenang, damai dan aman sentosa tanpa ada rasa takut melainkan hanya kepada Allah Ta’ala. Lalu turunlah ayat,

 

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ

 

Riwayat ini dimasukkan ke dalam kategori sahih oleh al-Hakim.

 

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa Allah Ta’ala menjanjikan orang-orang yang memiliki dua kriteria sekaligus, yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal salih bahwa Allah benar-benar akan menjadikan umat Nabi Muhammad saw sebagai khalifah yang menguasai bumi. Yakni menjadi para pemimpin umat manusia dan para pemegang otoritas atas umat manusia. Dengan merekalah negeri-negeri menjadi baik sebagaimana Allah Ta’ala pernah menjadikan orang-orang terdahulu berkuasa semisal Nabi Dawud as dan Nabi Sulaiman as. Juga seperti Bani Israil ketika Allah mewariskan kepada mereka negeri Mesir dan Syam setelah dibinasakannya orang-orang Jababirah (para penguasa yang pernah menguasai Mesir dan Syam, seperti Fir’aun.

 

Menurut Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di di dalam Tafsir As-Sa’di bahwa generasi awal umat ini melaksanakan keimanan dan amal salih yang menggungguli umat lain, maka Allah meneguhkan mereka (untuk menguasai) negeri-negeri dan umat manusia. Penjuru timur dan barat bumi telah ditaklukkan, sehingga diperoleh stabilitas keamanan yang sempurna dan pendudukan yang kuat. Ini termasuk ayat-ayat Allah yang menakjubkan dan menawan. Perkara ini akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Selama mereka menegakkan iman dan amal salih, pasti janji Allah kepada mereka akan terwujud. Orang-orang kafir dan munafik hanya mampu menguasai (kaum muslimin) dan dimenangkan pada sebagian waktu lantaran kesalahan yang dilakukan kaum Muslimin terhadap keimanan dan amal salih.

 

Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan bahwa hakikat iman itu adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala dan penyerahan diri secara total baik dalam perkara kecil maupun besar. Tidak tersisa lagi bersamanya hawa nafsu, syahwat di hati, penyimpangan dalam fitrah, melainkan semuanya tunduk kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah dari sisi Allah .

 

Imam Al-Gazali yang wafat pada 505 H menjelaskan tujuan syariat itu ada lima yaitu : Pertama, Hifzhud-din (menjaga tegaknya agama) as-syura ayat 13. Kedua, Hifzhun-nafs (menjaga keselamatan jiwa) al-Maidah ayat 32, an-Nisa ayat 29. Ketiga, Hifzhul-‘aql (menjaga kesehatan akal) Taha ayat 14, al-Maidah ayat 91. Keempat, Hifzhun-nasl (menjaga keturunan) an-nisa ayat 1. Kelima, Hifzhul mal (menjaga harta), an-Nisa ayat 29, al-Isra ayat 26-27.

 

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

 

Barangsiapa yang menenggak racun sehingga membunuh dirinya, maka ia akan menenggaknya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya dan kekal di dalamnya. Dan, barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi yang ditangannya itu akan menghujam (memukul-mukul) perutnya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya dan ia kekal di dalamnya. Dan barangsiapa yang menjatuhkan diri dari (puncak) gunung sehingga membunu dirinya, maka ia akan (berulang-ulang) menjatuhkan diri di dalam neraka Jahannam selama-lamanya dan ia kekal di dalamnya

 

[HR. Bukhari, An-Nasai, Ahmad]

 

Dari Abu Hurairah a berkata, Rasulullah saw melarang pengobatan buruk, yakni racun.

 

[HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, At-Tahawi, Abu Nu’aim, Al-Kahhal]

 

Rasulullah saw bersabda, Hancurnya dunia adalah lebih ringan daripada membunuh seorang Muslim

 

[HR. Tirmizi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Abu Nu’aim]

 

Imam Al-Baihaqi dalam cabang iman 36 tentang Keharaman berbuat kejahatan dan membunuh jiwa, menjelaskan bahwa hal ini adalah jalan kerusakan yang paling besar di muka bumi di tengah-tengah manusia. Menyalahi sunnatullah yaitu mengutus para Rasul untuk tersebarnya agama ini dan menjaga kelangsungan kehidupan manusia di muka bumi tanpa ada kezaliman antara satu dan lainnya.

 

Ukasyah Abdul Manan Ath-Thayyibi dalam bukunya 7 Dosa Besar menyatakan bahwa bunuh diri termasuk bentuk pembunuhan yang salah dan sangat berdosa, pelakunya sudah kelewat batas (tidak normal), bertolak belakang dengan fitrahnya, saat melakukannya tidak ada rasa takut terhadap maut yang siap mencengkram dan mencabik-cabik dirinya serta membinasakan ruhnya, sudah lupa akan segala kondisi yang selalu meliputinya selama perjuangan mempertahankan hidupnya, sehingga tidak lagi memikirkan akibatnya dan tidak lagi memperkirakan apa yang akan menimpa dirinya yaitu berupa tempat kembali yang sangat buruk dan nasib yang menyakitkan.

 

Fenomena sebuah judul film Aku harus mati, sungguh sangat tidak mendidik bagi bangsa Indonesia khususnya para generasi muda. Mungkin maksud para produser dan pelaksana teknis perfilman memberikan judul yang bombastis akan menaikkan film ini secara nasional dengan iklan gratis dibahas di sana sini. Padahal tidak pantas apabila dikaitkan dengan sila Kedua Pancasila, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Dari sisi kedokteran jiwa juga akan membuat orang yang depresi menjadi lebih lemah dan tidak ada keinginan bertahan hidup dan sehat kembali, bahkan akan muncul keinginan untuk bunuh diri.

 

Bagi generasi muda akan memunculkan sikap mudah pesimis dan mudah lemah, putus asa. Padahal begitu banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an berbicara tentang perubahan dan berkemajuan, kemenangan, kesuksesan, dan optimisme.

 

Dalam kaitan hifzhun-nafs (menjaga keselamatan jiwa), bahkan Allah Ta’ala menyebutnya dengan,

 

مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya

 

[al-Maidah (5) : 32]

 

وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

 

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu

 

[an-Nisa (4) : 29]

 

Jika kita berobat ke rumah sakit, atau ada keluarga dan sahabat dirawat, selalu para dokter dan perawat dengan lembut dan penuh kasih sayang akan berkata, Semoga bapak atau ibu lekas sembuh. Kata-kata ini merupakan do’a dan sugesti agar para pasien segera Allah Ta’ala sembuhkan dan sehatkan kembali. Berarti kata-kata harapan dan penuh harap agar sembuh dan sehat kembali, dan terus hidup. Bukan aku harus mati.

Semoga Allah Ta’ala terus kuatkan kita, keluarga, umat dan bangsa dari nilai-nilai dan pemikiran-pemikiran yang merusak. Allahumma Aamiin.

 

Jakarta, 7 April 2026

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − 5 =