
JIC, JAKARTA- Dalam sidang lanjutan, terdakwa dalang serangan bom Thamrin, Jakarta, Aman Abdurrahman menyebut Indonesia adalah negara kafir karena ‘ideologinya bukan Islam dan tak menerapkan hukum Allah.’
Aman Abdurrahman mengatakan hal itu menjawab pertanyaan majelis hakim dalam sidang kasus bom Thamrin di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (27/4).
Agenda sidang kali ini adalah pemeriksaan terdakwa. Dan Majelis Hakim yang diketuai Akhmad Jaini, melontarkan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan buku Seri Materi Tauhid yang ditulis Aman Abdurrahman.
Tentang serangan bom Thamrin, Aman Abdurrahman membantah dakwaan sebagai dalangnya, seperti dilaporkan wartawan BBC Mohamad Susilo.
“Saya tidak tahu, saya tidak menyuruh,” kata Aman saat ditanya jaksa dalam sidang itu.
“Buku saya soal tauhid, soal jihad mereka membacanya dari internet,” kata Aman.
Aman mengatakan ia justru tahu terjadinya serangan bom di Thamrin dari napi lain yang melihat berita itu di penjara.
Hak atas fotoBAY ISMOYO/AFP/GETTY IMAGESPengacara Aman, Asludin Hatjani, mengatakan para pelaku serangan mungkin menafsirkan sendiri tulisan atau ceramah Aman.
Hakim anggota mempertegas apakah dengan demikian Aman lepas tangan, Aman mengatakan, “Kalau menuduh silakan, seruan (jihad) itu dari sana (Suriah).”
Namun jaksa penuntut Mayasari yakin ada keterkaitan antara terdakwa Aman Abdurrahman dan bom Thamrin.
“Dia bilang tidak memerintahkan tapi juga tidak melarang (serangan di Jalan Thamrin). Dia sepaham dengan para pelaku serangan. Sebagai tokoh spiritual, dia mengamini semua tidakan (pelaku seranan),” kata jaksa Mayasari kepada BBC di sela rehat sidang.
Mayasari mengatakan Aman adalah tokoh ISIS di Indonesia, yang menulis buku Seri Materi Tauhid. Di persidangan buku yang ditulis oleh Aman itu diperlihatkan sebagai barang bukti.
“(Buku) Tauhid itu kuncinya. (Di dalamnya) dibahas banyak hal, termasuk perintah untuk jihad,” kata Mayasari.
Jaksa mengatakan bahwa ISIS perlu orang yang bisa menjelaskan bahwa apa yang dikakukan oleh ISIS sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan di sinilah peran Aman untuk menjelaskan.
“Di sini benang merahnya. Aman menyambungkan paham tentang ISIS di Indonesia dan kelompok di Indonesia harus memiliki dasar yang sama (dengan ISIS). Di situlah benang merahnya,” kata Mayasari.
“Aman adalah tokoh. Orang beramai-ramai menjenguknya di Nusakambangan untuk mendapatkan konfirmasi ilmu, sekaligus minta di-baiat (pernyataan janji setia). Buku karangan Aman dijadikan landasan atau referensi kelompok-kelompok jihad,” katanya.
Sumber : bbcindonesia.com











