JIC, JAKARTA – Utusan Khusus Presiden Republika Indonesia untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Din Syamsuddin menerima sejumlah tamu kehormatan dari Amerika Serikat. Pertemuan tersebut dalam rangka membicarakan kerja sama keagamaan dan peradaban antar-Indonesia dengan Amerika Serikat.
“Saya menerima tamu ketiga dari luar negeri, mereka (tamu kehormatan Amerika Serikat) memberikan pemahaman dan penghargaan pada Indonesia yang dianggap relatif stabil, rukun walaupun terdiri terdiri umat beragama, suku dan mendiami pulau-pulau yang jumlahnya ribuan,” ujar Din di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa (28/11).
Adapun tamu kehormatan Amerika Serikat seperti Michael MHonda, US House of Representative State of California, Bruce Balter SupremeCourt Judge of New York, Tom Taylor US House of Representative State ofGeorgia, Wendi Taylor Global Youth Food Project dan Mahmud Altun SilliconValley United Nationas Association Co Chair Advocacy.
Menurutnya, keberagaam umat beragama di Indonesia yang rukundan damai kian diakui oleh dunia. Artinya, perbedaan agama di Indonesia mengajarkan kasih sayang dan perdamaian.
“Saya sambut dengan mengatakan memang diakui oleh dunia tingkat kerukunan masyarakat Indonesia relatif bagus karena baik agama di Indonesia sejatinya mengajarkan kasih sayang dan perdamaian, dan sesungguhnya itulah watak sejati agama-agama,” ungkapnya.
Untuk itu, pihaknya akan melakukan tiga langkah strategis untuk memperkuat keberagaman umat di Indonesial. Pertama, mewujudkan dan mengembangkan kerukunan umat beragama di dalam negeri. Kedua, mempromosikan kehidupan berlandaskan pancasila, rukun, damai dan bersatu.
“Terakhir saya diminta menjadikan Islam yang wasathiyah, Islam yang rahmatal lil alamin sebagai pedoman untuk menyebarkanIslam moderat serta agama membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruhmasyarakat,” jelasnya.
Din menyebut, segala perbaikan terutama keberagaman umatharus dimulai hal-hal kecil seperti melakukan dialog kebersamaan. Dalam rencanapada awal 2018, pihaknya akan menyelenggarakan rembuk nasional.
Tujuannya, agar para pemeluk agama di Indonesia bisa bersama-sama membahas masalah yang terjadi di Indonesia terutama keberagamaan umat. “Maka itu harus dimulai dari dalam negeri, harus tanamkan. Insy Allah Februari mendatang rembuk nasional tokoh-tokoh berbagai agama, bersama bahas masalah apa yang ada diantara kita, ada ganjalan di hati orang Islam, saudara kristiani disampaikan, dan untuk semua agama,” ungkapnya.
“Duduk bersama, secara dialog dari hati ke hati. Dialog yang benar itu ada ketulusan, keterbukaan, kejujuran untuk memecahkan masalah. Jadi bukan hanya dialog, duduk-duduk, salam-salaman. Tapi ada masalah diantara kita, apa masalah kita, maka selesaikan pendekatan seperti itu, kalau yang moderat-moderat pada kumpul tidak ada masalah. Tentu yang mau, kalau tidak mauya tidak paksa,” ucapnya.
Din menyakin, kegiatan dialog antar pemeluk agama merupakan salah satu cara alternatif untuk saling menghargai antar umat beragama. “Saya yakin dialog ini harus menjadi jalan dan menjadikekuatan, lalu Islam Wastiyah, karena ini sudah dilakukan oleh MUI dan ormas Islam, kita perluas lagi kawan-kawan yang punya pemahaman lain, dan saya yakin bisa. Maka kita baru promosikan ke luar negeri, wahai dunia Islam inilah Indonesia kebersamaan umat, Islam Wastiyah, Rahmatan Ilalamin,” ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, pendidikan Islam turut membentuk harmoni keberagamaan dalam keberagaman masyarakat dunia, serta turut memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban semesta.
“Pendidikan Islam adalah sarana melahirkan generasi yang berkeadaban dan berkemajuan, serta memuliakan agama sebagai nilai suci yang memanusiakan manusia,” ungkapnya.
Hal tersebut sesuai dengan isi Deklarasi Serpong antara lain, setia mengamalkan sekaligus menggaungkan nilai-nilai Islam wasathiyyah yang rahmatan lil alamin. Menjunjung tinggi nilai ketuhanan, mengedepankanmartabat kemanusiaan, merajut persatuan, merawat kebersamaan, dan mempedulikankeadilan sosial dalam membangun peradaban.
Menolak setiap penyalahgunaan agama untuk kepentingan yang tidak sesuai dengan watak dasar dan tujuan agama itu sendiri. Mengajak seluruh elemen bangsa untuk memajukan pendidikan Islam sebagai solusi bagi tantangan zaman, sarana mewujudkan perdamaian dunia, dan upaya meningkatkan maslahat bagi umat manusia.
Sumber ; republika.co.id












