Fitrah, Ukhuwah dan Kedamaian

Ramadhan dan Idul Fitri 1431H memang sudah berlalu. Keduanya meninggalkan kita, hamba-hamba Allah yang lemah dan mudah alpa atau khilaf melakukan kesalahan dan dosa. Hamba-hamba Allah yang harus kembali berjuang. Mempertaruhkan ketaqwaan yang sempat terjaga dan naik di bulan Ramadhan.

Ramadhan dan Idul Fitri 1431H memang sudah berlalu. Keduanya meninggalkan kita, hamba-hamba Allah yang lemah dan mudah alpa atau khilaf melakukan kesalahan dan dosa. Hamba-hamba Allah yang harus kembali berjuang. Mempertaruhkan ketaqwaan yang sempat terjaga dan naik di bulan Ramadhan. Karena  ketaqwaan di luar Ramadhan sepertnya sukar untuk meningkat, tapi sangat mudah jatuh terpuruk, beban hambatan, ke titik yang paling rendah.

Bagaimana tidak? Tempat-tempat dan pelaku maksiat kembali beroperasi siang dan malam; ceramah dan tontonan Islami yang begitu gencar menghampiri kaum muslimin di prime time sebagai media peningkat keimanan  kini disisakan dengan jumlah yang sangat sedikit di waktu-waktu yang sepi;  suasana ibadah tidak lagi semarak, jama`ah masjid kembali “maju” shofnya, walau untuk sholat maghrib dan isya  sekalipun, apalagi untuk sholat subuh;  dan ukhuwah yang gampang kendur serta kedamaian yang mudah terusik  karena hawa nafsu yang mudah terpancing tidak ada ada yang mengingatkan lagi dengan kata-kata ana shooimun.  Hanya hamba-hamba Allah yang fitrah yang mampu menjawaga ketaqwaannya, bukan saja  untuk dirinya tetapi juga untuk masyarakat sekitarnya. Siapakah hamba-hamba Allah yang fitrah ini?

Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam khutbah Idul Fitri 1431H di Masjid Raya Jakarta Islamic Centre menjelasakan tentang hamba-hamba Allah yang fitrah ini yang dikaitkan dengan ukhuwah dan kedamaian. Ia menjelasakan bahwa kembali kepada “fitrah” (kesucian) setelah sebulan penuh berpuasa  di bulan Ramadhan bersumber dari Q.S. Al-Rum ayat 30 yang artinya: “Maka hadapkanlah dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menjadikan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Namun menurutnya, kembali kepada fitrah yang bersifat individual-personal belum lah cukup. Setiap muslimin dan muslimat yang telah kembali kepada fitrah atau kesuciannya berkewajiban memperluas kesucian itu ke tingkat sosial kemasyarakatan. Yaitu, dengan saling meminta dan memberi maaf satu sama lain, sehingga hubungan sesama muslim (ukhuwah Islamiyah) dan sesama manusia (ukhuwah insaniyah) menjadi penuh kesucian. sebagaimana Allah swt. berfirman di Q.S. Al-Hujuraat ayat 10 yang artinya  “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedaua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Jika ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah terjalin dengan erat dan dengan penuh kesucian, maka akan tercipta kedamaian. Karenanya, masih menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, fitrah, ukhuwah dan kedamaian merupakan pilar-pilar utama bagi terwujudnya peradaban yang maju dan mulia.  Sebaliknya, jika ketiganya mengalami krisis atau hilang sama sekali, maka yang akan terjadi adalah kekacuan dan anarki yang mengakibatkan terganggunya kehidupan sehari-hari sehingga tidak memungkinkan terwujudnya peradaban umat-bangsa.

Namun menurutnya  ada segelintir orang Indonesia yang kebetulan beragama Islam yang dipastikan bukan termasuk golongan orang-orang yang fitrah apalagi menyukai ukhuwah dan kedamaian. Karena  mereka kerap melakukan kekerasan dan terorisme, yakni aksi kekerasan yang tidak konvensional guna menciptakan rasa ketakutan meluas dalam masyarakat dan menimbulkan korban secara tidak pandang bulu (indiscriminate). Pelaku aksi terorisme sering mengklaim tindakannya sebagai “jihad fi sabilillah”; justifikasi keagamaan ini atas tindakan kekerasan jelas keliru. Karena seluruh ulama sepakat, jihad sah hanya sebagai usaha `bela diri’ (difa`i), bukan agresi (ibtida`i) yang melewati batas. Jihad yang sah hanya bisa dimaklumkan para pemimpin dan ulama yang otoritatif, bukan oleh segelintir orang. Bahkan jika jihad terpaksa dimaklumkan, itupun tidak boleh dilakukan kerena kemarahan dan kebencian yang membuat para pelakunya mengabaikan keadilan.

Di penghunjung khutbah, Prof. Dr. Azyumardi Azra mengingatkan,  jika kita ingin  menjadi muslim atau muslimah yang fitrah, mari tanamkan rasa damai di dalam diri kita sendiri, jauhkan hawa nafsu kemarahan dan kebencian. Sedangkan untuk berdamai dengan dirinya, setiap muslim harus hidup damai dengan Allah swt., dengan sepenuhnya menyerahkan diri (taslim) kepada Allah swt, meninggalkan hawa nafsu angkara murka, merasa paling benar sendiri, dan memaksa orang lain dengan kekerasan untuk tunduk kepadanya. Hanya dengan mewujudkan perdamaian di dalam diri masing-masing, perdamaian dan kedamaian di antara manusia dan lingkungan hidup dapat diciptakan; tanpa kedamaian internal masing-masing, tidak  ada kedamaian eksternal. Allah swt berfirman di Q.S. Al-Fath ayat 4 yang artinya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan, kedamaian (sakinah) ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah, di samping keimanan mereka (yang telah ada)”.Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki
Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

RUU Pengelolaan ZIS tak Hilangkan Badan Amil Zakat

Read Next

Husnul Khatimah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + twelve =