Husnul Khatimah

 

Kematian adalah suatu kepastian. Yang belum dapat dipastikan oleh manusia adalah waktu, tempat dan bagaimana kematian menjemputnya karena mutlak hanya Allah swt. yang tahu  Namun, siapapun berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya atau kematiannya dengan cara yang baik (husnul khatimah), kebalikannya adalah su`ul khatimah (akhir yang buruk).

Kematian adalah suatu kepastian. Yang belum dapat dipastikan oleh manusia adalah waktu, tempat dan bagaimana kematian menjemputnya karena mutlak hanya Allah swt. yang tahu  Namun, siapapun berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya atau kematiannya dengan cara yang baik (husnul khatimah), kebalikannya adalah su`ul khatimah (akhir yang buruk).

Seperti apakah husnul khatimah itu? Sebagian kaum muslimin masih memandang bahwa kematian yang baik adalah di tempat tidur sambil melafalkan tahlil yang didengarkan orang lain atau mati di saat melaksanakan sholat. Pandangan ini bisa dibenarkan, namun tentu tidak berhenti sampai di situ. Karena dalam pandangan Islam, kematian yang baik bisa juga dijemput  dalam keadaan terkena musibah, bencana alam seperti gempa bumi, tenggelam oleh gelombang tsunami, terpapar awan panas dari muntahan gunung merapi, dan lain-lain. Sebagaimana yang diisyaratkan di dalam suatu hadits riwayat Siti Aisyah ra. yang dapat ditemukan di dalam kitab Riyadhushshoolihin bab ikhlas dan menghadirkan niat hadits kedua  yang disusun oleh Imam Nawawi Ad-Dimasyqi. Berikut terjemahan bebasnya: Dan dari Ummil Mu`minin, Ummi Abdillaahi, `Aisyah ra., dia berkata,`Rasulullah saw. bersabda: sekelompok pasukan menyerbu Ka`bah dan ketika mereka tiba di sebuah tempat , Allah swt. membinasakan mereka semuanya yang ada di tempat itu tanpa ada yang tersisa. Siti Aisyah ra. bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa Allah swt. membinasakan mereka semuanya tanpa ada yang tersisa padahal ada orang-orang  yang berada di pasar dan tidak termasuk bagian dari pasukan tersebut ? Rasulullah saw. menjawab: Allah swt, membinasakan mereka semuanya tanpa ada yang tersisa, tetapi mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka”.

Yang dimaksud dengan ”orang-orang yang berada di pasar dan tidak ermasuk dari bagian pasukan tersebut” di antaranya adalah anak-anak, ahli ibadah dan orang-orang sholeh. Dengan penjelasaan hadits ini, ada pelajaran yang dapat dipetik oleh kaum muslimin, yaitu jangan sembarang menuduh bahwa suatu bencana yang menimpa suatu kaum atau penduduk di sebuah kawasan diakibatkan oleh perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan oleh seluruh kaum tersebut karena di antara yang mati selain anak-anak, bisa jadi ada banyak orang sholeh yang turut juga mati karena bencana tersebut.

Kita hanya bisa menilai suatu kematian itu husnul khatimah atau su`ul khatimah, hanya dari tanda-tanda yang telah Allah swt. tetapkan, bukan dari yang kita duga dan pikirkan. Adapun tanda-tanda tersebut adalah:  Pertama,mengucapkan kalimah syahadat ketika wafat, Rasulullah bersabda :”barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan “La ilaaha illallah” maka ia dimasukkan kedalam surga” (HR. Hakim); kedua, ketika wafat dahinya berkeringat Ini berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib adalah Buraidah dahulu ketika di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,”Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya” (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas’ud); ketiga, wafat pada malam jum’at Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah “Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jum’at atau pada malam jum’at kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur” (HR. Ahmad); keempat, mati syahid dalam medan perang ( dalilnya Q.S. Ali Imraan:169-171, dan diperkuat dengan banyak hadits) kelima, mati dalam peperangan fisabilillah); keenam , mati disebabkan penyakit (kolera, TBC, dll);  kedelapan, mati karena tenggelam;  kesepuluh, perempuan yang meninggal karena melahirkan. kesebelas, mati terbakar; keduabelas, mati karena penyakit busung perut; ketigabelas, mati karena mempertahankan harta dari perampok.
Dalam hal ini banyak sekali haditsnya, diantaranya sebagai berikut: kelima belas, mati dalam membela agama; keenam belas, mati dalam membela jiwa; ketujuhbelas, mati dalam berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah; dan kedelapan belas, orang yang meninggal pada saat mengerjakan amal shaleh. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: “Barangsiapa mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dengan berharap akan keridhaan Allah, dan diakhir hidupnya mengucapkannya, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa yang berpuasa sehari mengharap keridhaan Allah kemudian mengakhiri hidupnya dengannya (puasa), maka ia masuk surga. Dan barangsiapa bersedekah mencari ridha Allah dan menyudahinya dengan (sedekah) maka ia akan masuk surga” (HR. Ahmad).

Seperti apa penjelasan dari tanda-tanda tersebut dan bagaimana mempersiapkan diri untuk bisa husnul khatimah?  Untuk mendapatkan jawabannya, ikuti Diklat Husnul Khatimah yang diselenggarakan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC) tanpa dipungut biaya dengan instruktur KH. Wahfiuddin Sakam  yang ditunjukan untuk peserta yang sudah memasuki masa pensiun di Jakarta Islamic Centre (JIC) pada hari Sabtu, 6 Dzulhijjah 1431H/  13 November 2010  dari jam 08.30 s/d 12.00 WIB di Ruang Audio Visual. Bagi yang berminat, bisa mendaftarkan diri dengan mengirimkan biodata (nama, umur, dan nomor HP/Telepon) ke 081314165949 atau ke nomor telepon (021) 4413069/44835349 via Kiki atau Erna. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Fitrah, Ukhuwah dan Kedamaian

Read Next

Pilih Haji atau Qurban?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 4 =