HABIB ABDURRAHMAN BIN AHMAD ASSEGAF BUKIT DURI

0
14073
habib-abdurrahman-bin-ahmad-assegaf-bukit-duri

JIC- Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qadir bin Ali bin Umar bin Segaf bin Muhammad (Al-Qhadi) bin Umar bin Thoha (Al-Qhadi) bin Umar bin Thoha bin Umar ash-Shofi bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilayh) bin Syekh Ali (Shohibud Dark) bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina (Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam) Muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina (Al-Imam) Muhammad (Shohib Marbath) bin Sayyidina Ali (Al-Imam Kholi Qosam) bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina (Al-Imam) Muhammad (Shohib As-Shouma’ah) bin Sayyidina (AlImam) Alwi Alawiyyin (Shohib Saml) bin Sayyidina (Al-Imam) Ubaidillah (Shohibul Aradh) bin Sayyidina (Al-Imam Al-Muhajir) Ahmad bin Sayyidina AlImam Isa (Ar-Rumi) bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina (Al-Imam) Ali Zainal Abidin bin (Al-Imam As-Syahid Sayyidi Syabab Ahlil Jannah) Sayyidina AlHusein Rodiyallahu bin Sayyidah Fatihmah Az-Zahra binti Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sayyidul Walid adalah sosok ulama kharismatik, ahli fiqih, ahli lughoh, ahli tasawuf yang diyakini masyarakat sebagai waliyullah (kekasih Allah) karena memiliki beberapa keistimewaan.

Habib Ahmad kemudian juga dinilai sebagai guru para habaib. Habib Abdurrahman Assegaf lahir pada tahun 1908 di Cimanggu, Bogor. Beliau adalah putra dari pasangan Habib Ahmad bin Abdul Qadir Assegaf dan Hj. Fathimah binti Sainan. Ayahandanya sudah wafat ketika beliau masih kecil, tapi kondisi itu tidak menjadi halangan baginya untuk giat belajar.

Habib Abdurrahman Assegaf mengenyam pendidikan di Jam’iyat AlKhair, Jakarta, masa kecilnya dijalani dengan sangat sederhan, bahkan sangat memperihatinkan, sebagaimana pernah diceritakan anaknya, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf “Walid itu orang yang tidak mampu (maksudnya bukan orang berkecukupan harta). Bahkan beliau pernah berkata, ‘Barangkali, dari seluruh anak yatim yang ada, yang termiskin adalah saya. Waktu lebaran, ketika anak-anak mengenakan sandal atau sepatu, saya tidak punya sandal apalagi sepatu’. Tidurnya pun di bangku sekolah. Tapi, kesulitan seperti itu tidak menyurutkan beliau untuk giat belajar.”

Ketika masih belajar di Jami’iyat Al-Khair, prestasi Habib Abdurrahman Assegaf sangat cemerlang. Beliau selalu menempati peringkat pertama. Nilainya bagus dan akhlaqnya menjadi teladan bagi teman-temannya. Dalam urusan menuntut ilmu kepada seorang ulama, Habib Abdurrahman Assegaf tidak segansegan melakukannya dengan bersusah payah, walau harus menempuh perjalanan puluhan kilometer. Sebagaimana certa sang cucu, “Sayyidul Walid itu kalau berburu ilmu sangat keras. Beliau rela dan sanggup menempuh perjalanan hingga berkilo-kilo meter untuk belajar kepada Habib Abdullah bin Muhsin Al-Athos (Habib Keramat Empang, Bogor).”

Habib Abdurrahman Assegaf adalah salah satu murid kinasih (kesayangan) Habib Abdullah bin Muhsin Al-Athos, Keramat Empang, Bogor.  Ikatan hubungan antara keduanya sangat dekat, gurunya sayang kepada murid, murid pun taat dan ta’zhim kepada guru. Kedekatan Habib Abdurrahman Assegaf dengan gurunya ini digambarkan oleh cucunya, Habib Ahmad bin Ali Assegaf, dengan sebuah cerita tentang pengabdian sang kakek kepada sang guru, yaitu bahwa ketika Habib Abdurrahman Assegaf belajar di Kramat Empang, Bogor, ketika genteng (atap) rumah gurunya bocor, dialah yang kemudian naik ke atas rumah untuk memperbaiki genteng sehingga tidak bocor lagi.

Selain Habib Abdullah bin Muhsin Al-Athos, Keramat Empang, Bogor, guru-guru Habib Abdurrahman Assegaf yang lain adalah Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad (murid Habib Abdullah bin Muhsin Al-Athos yang kemudian menjabaat sebagai Mufti di Johor, Malaysia), Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Al-Haddad, Habib Ali bin Husein Al-Athos (Bungur, Jakarta), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang, Jakarta), Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (Otista, Jakarta), K.H. Mahmud Romli (Ulama besar Betawi, Jakarta) dan Prof. KH. Abdullah bin Nuh (Bogor).

Semasa menunutut ilmu, Habib Abdurrahman sangat tekun dan rajin, itulah sebabnya beliau mampu menyerap ilmu yang diajarkan guru-gurunya. Ketekunannya yang luar biasa mengantarnya menguasai semua bidang ilmu agama. Kemampuan berbahasa yang baguspun mengantarnya menjadi penulis dan orator yang handal. Beliau tidak hanya sangat menguasai bahasa Arab, tapi juga bahasa Sunda dan Jawa halus.

Habib Abdurrahman tidak sekadar disayang oleh para gurunya, tapi lebih dari itu, beliau pun murid kebanggaan. Beliaulah satu-satunya murid yang sangat menguasai tata bahasa Arab, ilmu alat yang memang seharusnya digunakan untuk memahami kitab-kitab klasik yang lazim disebut “kitab kuning”. Para gurunya menganjurkan murid-murid yang lain mengacu pada pemahaman Habib Abdurrahman yang sangat tepat berdasarkan pemahaman dari segi tata bahasa.

Setelah menginjak usia dewasa, Habib Abdurrahman dipercaya sebagai guru di madrasahnya. Disinilah bakat dan keinginannya untuk mengajar semakin menyala. Beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar. Dan hebatnya, Habib Abdurrahman ternyata tidak hanya piawai dalam ilmu-ilmu agama, tapi bahkan juga pernah mengajar atau lebih tepatnya melatih bidangbidang yang lain, seperti melatih kelompok musik (dari seruling sampai terompet), drum band, bahkan juga baris-berbaris.

Ketika berusia 20 tahun, beliau pindah ke Bukit Duri dan berbekal pengalaman yang cukup panjang, beliaupun mendirikan madrasah sendiri, Madrasah Tsaqafah Islamiyyah, yang hingga sekarang masih eksis di Bukit Duri, Jakarta. Sebagai madrasah khusus, sampai kini Tsaqafah Islamiyah tidak pernah merujuk kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah, mereka menerapkan kurikulum sendiri  dan uniknya, Madrasah ini menggunakan buku-buku terbitan sendiri yang disusun oleh sang pendiri, Habib Abdurrahman Assegaf. Disini, siswa yang cerdas dan cepat menguasai ilmu bisa loncat kelas.

Dunia pendidikan memang tak mungkin dipisahkan dari Habib Abdurrahman, yang hampir seluruh masa hidupnya beliau baktikan untuk pendidikan. Beliau memang seorang guru sejati. Selain pengalamannya banyak, dan kreativitasnya dalam pendidikan juga luar biasa, pergaulannya pun luas. terutama dengan para ulama dan kaum pendidik Jakarta.

Dalam keluarganya sendiri, Habib Abdurrahman dinilai oleh putra-putrinya sebagai sosok ayah yang konsisten dan disiplin dalam mendidik anak. Beliau selalu menekankan kepada putra-putrinya untuk menguasai berbagai disiplin ilmu, dan menuntut ilmu kepada banyak guru. Sebab ilmu yang dimilikinya tidak dapat diwariskan.

“Beliau konsisten dan tegas dalam mendidik anak. Beliau juga menekankan bahwa dirinya tidak mau meninggalkan harta sebagai warisan untuk anak-anaknya. Beliau hanya mendorong anak-anaknya agar mencintai ilmu dan mencintai dunia pendidikan. Beliau ingin kami konsisten mengajar, karenanya beliau melarang kami melibatkan diri dengan urusan politik maupun masalah keduniaan, seperti dagang, membuka biro haji dan sebagainya. Jadi, sekalipun tidak besar, ya sedikit banyak putra-putrinya bisa mengajar,” kata Habib Umar.

Habib Abdurrahman Assegaf mempunyai putra dan putri yang berjumlah 22 orang namun yang masih hidup hanya 9 orang; diantaranya Habib Muhammad, pemimpin yayasan Tsaqafah Islamiyah di Ceger; Habib Ali, pemimpin Majelis Taklim Al-Affaf di Tebet; Habib Alwi, pemimpin Majlis Taklim Zaadul Muslim di Bukit Duri; Habib Umar, pemimpin pesantren dan Majlis Taklim Al-Kifahi Ats-Tsaqafi di Bukit Duri, dan Habib Abu Bakar, memimpin pesantren Al-Busyro di Citayam dan Madrasah Tsaqafah Islamiyah di Bukit Duri. Jumlah jamaah mereka ribuan orang .

Sebagai Ulama sepuh yang sangat alim, beliau sangat disegani dan berpengaruh. Juga layak diteladani. Bukan hanya kegigihannya dalam mengajar, tapi juga produktivitasnya dalam mengarang kitab. Kitab-kitab buah karyanya tidak sebatas satu macam ilmu agama, melainkan juga mencakup berbagai macam ilmu. Mulai dari Tauhid, Tafsir, Akhlaq, Fiqih, hingga sastra. Bukan hanya dalam bahasa Arab, tapi juga dalam bahasa Melayu dan Sunda yang ditulis dengan huruf Arab- dikenal sebagai huruf Jawi atau pegon.

Kitab karyanya, antara lain, Hilyatul Janan fi Hadyil Qur’an, Syafinatus Said, Misbahuz Zaman, Bunyatul Umahat dan Buah Delima. Sayang, puluhan karya itu hanya dicetak dalam jumlah terbatas dan memang hanya digunakan untuk kepentingan para santri dan siswa Madrasah Tsaqafah Islamiyyah.

Habib Abdurrahman juga dikenal sebagai ulama yang sangat disiplin, sederhana dan ikhlas. Dalam hal apapun beliau selalu mementingkan kesederhanaan. Dan kedisiplinannya tidak hanya dalam hal mengajar, tapi juga dalam soal makan. “Walid tidak akan pernah makan sebelum waktunya. Dimanapun ia selalu makan tepat waktu.” Kata Habib Ali.

Mengenai kedermawanannya, Habib Abdurrahman Assegaf selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Bahkan, beliau sering datang ke daerah-daerah yang jauh untuk memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok untuk para pendakwah di daerah tersebut. Hal itu dilakukan secara rahasia, yaitu dengan menitipkan sejumlah uang kepada pemilik toko sembako, untuk dibelikan sejumlah kebutuhan pokok, yang kemudian diserahkan kepada ulama setempat yang telah beliau data nama dan alamtnya. Ketika ditanyakan oleh anak cucu tentang hal itu, beliau menjawab, “Itu sebagai ucapan terimakasih Saya, karena ulama tersebut telah berdakwah menyampaikan ajaran Islam di sana. Saya pribadi belum mampu berdakwah secara langsung di sana.”

Pada tahun 1960-an, Habib Abdurrahman mengalami kebutaan selama lima tahun. Namun musibah itu tak menyurutkan semangatnya dalam menegakkkan syiar islam. Pada masa-masa itulah beliau menciptakan rangkaian syair indah memuji kebesaran Allah swt dalam sebuah Tawasul, yang kemudian disebut Tawasul Al-Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf.

Wafatnya Habib Abdurrahman Assegaf

Suatu hari, seorang santri Darul Musthafa, Tarim Hadramaut, asal Indonesia yang merupakan adik dari menantu Habib Ali bin Sayyidil Walid Habib Abdurrahman Assegaf, mendapat pesan dari seorang ulama besar disana, Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Syahab. “Saya mimpi bertemu

Rasulullah SAW, tapi wajahnya menyerupai Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf. Tolong beritahu anak-anak beliau di Indonesia. Katakan pada anakanak beliau, jangan jauh-jauh dari walid”.

Sang santri itu langsung menelepon keluarganya di Indonesia. Hingga akhirnya kabar dari ulama Hadramaut itu diterima keluarga Habib Abdurrahman di Bukit Duri Jakarta. Seminggu kemudian, apa yang diperkirakan itu pun tiba. Tepatnya Senin Siang jam 12.45, 26 Maret 2007, bertepatan dengan 7 Rabiul Awal 1428 H, langit Jakarta seakan mengelam. Kaum muslim ibu kota terguncang oleh berita wafatnya Al-Alamah Al-Arif Billah Al-Habib Abdurrahman Assegaf, dalam usia kurang lebih 105 tahun.

Jenazah ulama besar yang ilmu, akhlaq dan keistiqamahannya sangat dikagumi itu, disemayamkan di ruang depan rumahnya yang bersahaja, tepat di sisi Sekretariat Yayasan Madrasah Tsaqofah Islamiyah, di jln. Perkutut no.273, Bukit Duri Puteran, Tebet, Jakarta Selatan. Kalimat tahlil dan pembacaan Surat Yaa siin bergema sepanjang hari sampai menjelang pemakamannya keesokan harinya.

Sebuah tenda besar tak mampu menampung gelombanh jemaah yang terus berdatangan bak air bah. Pihak keluarga memutuskan pemakaman akan dilakukan ba’da zhuhur di pemakaman Kampung Lolongok, tepatnya di belakang Kramat Empang.

Acara pelepasan jenazah dibuka dengan sambutan dari pihak keluarga, yang diwakili Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf. Dengan nada sedih, Habib Ali bin Sayyidil Walid Habib Abdurrahman Assegaf mengucapkan terima kasih kepada para pecinta Habib Abdurrahman Assegaf yang telah datang bertakziah dan membantu proses pengurusan jenazah. Selanjutnya anak ke-tiga Habib Abdurrahman tersebut mengungkapkan keutamaan-keutamaan almarhum. “Beliau rindu kepada Rasulullah SAW. Beliau ungkapkan rasa rindu itu lewat sholawat-sholawat yang tak pernah lepas dari bibirnya setiap hari,” katanya.

Puluhan ribu pelayat yang berdiri berdesak-desakan pun mulai sesunggukan karena terharu. Apalagi ketika Habib Ali, yang berbicara, tampil dengan suara bergetar. “hari ini, tidak seperti hari-hari yang lalu, kita berbicara tentang bagaimana memelihara anak yatim. Tapi, kali ini, kita semua menjadi anak-anak yatim.” Kata Habib Ali, yang mengibaratkan hadirin sebagai anak yatim. Betapa tidak, Habib Abdurrahman dianggap sebagai orang tua tidak hanya oleh keluarganya, tapi juga oleh jamaah. Semasa hidupnya, beliau senantiasa mengayomi, membimbing dan setia mendengar keluh kesah jamaah. Tapi kini, sang pelita itu telah pergi. Sebagian hadirin terguguk menangis, bahkan ada yang histeris.

“Kepergian Walid sudah diramal jauh-jauh hari. Suatu hari beliau pernah berkata kepada saya, “Umimu dulu yang bakal berpulang kepada Allah swt, setelah itu baru saya. Dan benarlah, ibunda Hj. Barkah (istri Walid) berpulang sekitar tujuh bulan yang lalu, tepatnya pada 26 Juli 2006. Walid juga pernah berkata kepada keluarga, “Saya pulang pada hari senin” Jam 12.00, jenazah disholatkan di depan kediaman Walid, dengan Imam, Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al-Haddad Al-Hawi Condet. Pada hari itu juga, besan Habib Abdurrahman, Syarifah Rugayah binti Muhammad bin Ali Al-Attas juga di sholatkan.

Sumber: Buku 27 HABIB BERPENGARUH DI BETAWI yang diterbitkan Jakarta Islamic Centre

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here