JIC, Jakarta — Kepuasan jemaah haji Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini tidak terlepas dari kerja keras pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag) dan semua yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Berdasarkan survei Indeks Kepuasan Jemaah Haji (IKJH) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, tingkat kepuasan jemaah berada diangka 84,85 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi selama delapan tahun terakhir. Selain itu, angka ini juga menunjukan peningkatan 1,02 persen dibanding tahun sebelumnya.
Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin bersyukur atas tren positif kenaikan indeks kepuasan jemaah haji. Namun, Menag mengingatkan jajarannya agar tidak berpuas diri karena masih banyak yang harus diperbaiki.
“Jangan puas dengan apa yang telah kita capai. Ada beberapa hal yang harus kita perbaiki dan perjuangkan, karena para jamaah kita banyak yang protes,” terang Menag dalam acara bertajuk “Ngobrol Santai Bareng Menteri Agama Seputar Haji 2017”, Rabu (01/11/2017).
Menurut Menag, setidaknya ada 3 hal yang harus diperbaiki dan diperjuangkan ke depan. Pertama, kualitas dan kapasitas tenda dan toilet di Armina. Kedua, katering atau makanan di Armina. Ketiga, transportasi yang juga di Armina. “Ketiganya ini sangat perlu perhatian dan perbaikan serius,” katanya.
Ketiga hal di atas, lanjutnya, memang di luar jangkauan otoritas Pemerintah Indonesia. Karenanya, Pemerintah Indonesia perlu melobi Kerajaan Arab Saudi. “Kita harus melobi, melakukan pendekatan dan meyakinkan Kerajaan Saudi, agar tenda bisa memiliki daya tampung lebih, kenyamanan dan toilet yang juga diperbanyak,” ujarnya.
“Selain itu, transportasi masya’ir harus diupgrade karena banyak bus yang berkualitas rendah. Makanan juga agar lebih berkualitas, karena seakan makanan di Armina seperti dapur darurat. Dan, semuanya ini menjadi wewenang pihak Kerajaan,” sambungnya.
Pada kesempatan tersebut, Menag berterima kasih kepada keluarga besar Ditjen PHU yang telah bekerja keras sehingga, penyelenggaraan haji berjalan sesuai harapan. “Haji memang primadona dan mendapat perhatian besar masyarakat kita. Alhamdulillah, apa yang kita perjuangkan, mendapatkan respon positif dari masyarakat. Kita bersyukur. Kita tidak boleh berpuas diri, karena sering kali, prestasi yang kita raih ini merupakan cobaan. Niatkan ini ujian, dan semoga tahun depan bisa lebih baik lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala BPS, Suharyanto menurutkan data IKJHI tahun 2010 berada pada angka 81,45%, tahun 2011 naik menjadi 83,31%, 81,32% (2012), 82,69% (2013), 81,52% (2014), 82,67% (2015), sedangkan untuk tahun 2016 berada pada angka 83,83%. IKJHI tahun 2017 kembali naik menjadi 84,85%.
Ia juga mengatakan dalam survey itu, pihaknya telah merangkum berbagai saran dan masukan jemaah bagi penyempurnaan penyelenggaraan ibadah haji tahun mendatang. Beberapa diantaranya seperti masukan terkait pelayanan petugas haji.
Jemaah menilai ke depan diperlukan petugas yang memiliki kemampuan berbahasa Arab atau Inggris. Selain itu, alokasi petugas yang siaga di setiap hotel, khususnya di Madinah, juga perlu ditambah. “Juga peran aplikasi Haji Pintar, agar dapat dimaksimalkan dengan menambahkan peta hotel dan juga keberadaan petugas secara real-time,” tuturnya.
Sedangkan, untuk pelayanan ibadah, jemaah memberikan masukan agar petugas pembimbing ibadah adalah orang yang sudah pernah berhaji agar dapat lebih melayani. Pemilihan petugas pembimbing ibadah juga harus lebih selektif, terutama pada kemampuan memahami manasik haji.
Jemaah juga memandang perlu adanya komitmen bagi pembimbing ibadah secara tertulis untuk senantiasa melayani jemaah. Selain itu, jemaah juga berharap agar agenda kegiatan selama di Arab Saudi harus diketahui oleh seluruh jemaah.
Sumber ; gomuslim.co.id













