“Mereka ingin menghapus identitas Uighur”
JIC, XINJIANG- Pada 2002, Reyila Abulaiti bertolak dari Xinjiang ke Inggris untuk mengenyam pendidikan.
Dia bertemu seorang pria Inggris, menikah dengannya, menjadi warga negara Inggris, dan membentuk keluarga.
Tahun lalu, ibunya datang mengunjungi untuk menjumpai sang cucu sekaligus jalan-jalan ke London.
Xiamuxinuer Pida, 66, adalah mantan insinyur yang berpendidikan tinggi dan lama mengabdi di sebuah perusahaan BUMN Cina.
Dia kembali ke Xinjiang pada 2 Juni lalu.
Tapi, karena Xiamuxinuer tak kunjung memberi kabar, Reyila menelepon untuk mengecek apakah ibunya sudah sampai rumah dan baik-baik saja.
Kabar yang diterima Reyila singkat dan menakutkan.
“Dia memberitahu saya bahwa polisi menggeledah isi rumah,” kenang Reyila.
Tampaknya justru Reyila yang menjadi sasaran penyelidikan.
Hak atas fotoDOKUMEN PRIBADIXiamuxinuer mengatakan Reyila harus mengirim salinan dokumen-dokumennya, antara lain alamatnya di Inggris, salinan paspor Inggrisnya, nomor ponselnya di Inggris, dan informasi mengenai jurusannya saat berkuliah.
Kemudian setelah memaparkan semua instruksi melalui layanan pesan singkat, Xiamuxinuer mengatakan sesuatu yang membuat Reyila merinding.
“Jangan pernah menelepon ibu lagi. Jangan pernah,” ujar Reyila, meniru perkataan Xiamuxinuer.
Itulah kali terakhir Reyila mendengar suara ibunya. Dia meyakini Xiamuxinuer dimasukkan ke dalam kamp penahanan.
“Ibu saya ditahan tanpa alasan. Sejauh yang saya tahu, pemerintah Cina ingin menghapus identitas Uighur dari muka bumi.”
Hak atas fotoDOKUMEN PRIBADIBBC melakoni wawancara panjang lebar dengan delapan orang Uighur di luar Cina.
Kesaksian mereka konsisten, seperti kondisi dan keseharian di dalam kamp dan mengapa orang-orang Uighur ditahan.
Kegiatan keagamaan, ketidaksetujuan terhadap pemerintah, dan keterkaitan dengan orang Uighur di luar negeri kelihatannya cukup untuk membuat warga Uighur di Xinjiang dimasukkan ke dalam kamp.
Ambil contoh, Ablet Tursun Tohti. Setiap pagi, ketika pria berusia 29 tahun itu bangun satu jam sebelum fajar, dia dan sesama tahanan punya satu menit untuk beranjak ke lapangan.
Setelah berbaris, mereka disuruh berlari.
“Ada ruangan khusus untuk menghukum mereka yang berlari tidak cukup cepat. Di dalam ruangan ada dua pria, seorang memukul dengan sabuk, lainnya menendang.”
Lapangan yang dimaksud Ablet dapat jelas terlihat pada foto kamp melalui satelit. Lokasinya terletak di Kota Hotan, bagian selatan Xinjiang.
“Kami menyanyikan lagu berjudul ‘Tanpa Partai Komunis Tidak Ada Cina Baru’,” kata Ablet.
“Dan mereka mengajari kami soal hukum. Jika kami tidak bisa menghapalnya dengan benar, kami dipukuli.”

Ablet ditahan selama sebulan pada akhir 2015. Dalam berbagai konteks, dia termasuk yang beruntung.
Pada awal kamp penahanan didirikan, masa “kursus” pendidikan ulang tampaknya lebih pendek. Sebab selama dua tahun terakhir ada sejumlah laporan bahwa tidak ada seorang pun yang dibebaskan dari kamp-kamp tersebut.
Ablet juga bisa dikatakan beruntung karena dia merupakan rombongan warga Uighur yang bisa meninggalkan Cina. Saat ini, warga Uighur sulit hijrah karena ada penarikan paspor secara besar-besaran.
Ablet memilih mengungsui ke Turki, negara yang memiliki diaspora Uighur cukup besar karena ada keterkaitan budaya dan bahasa.
Dia menceritakan bahwa ayahnya yang berusia 74 tahun dan delapan saudara kandungnya masih ditahan di kamp. “Tiada yang tersisa di luar,” ujarnya.
Hak atas fotoGMVAbdusalam Muhemet, 41, juga menetap di Turki.
Dia pernah ditahan polisi di Xinjiang pada 2014 karena mendaraskan ayat Quran dalam sebuah acara pemakaman.
Pihak kepolisian belakangan memutuskan untuk tidak mengajukan dakwaan, kata Abdusalam, tapi dirinya tidak bisa dikatakan bebas.
“Mereka mengatakan saya perlu dididik,” ucapnya.
Namun, fasilitas tempatnya dididik sama sekali tidak mirip sekolah.
Melalui foto satelit, Anda bisa mendapati menara penjaga dan pagar ganda di sekeliling Pusat Pelatihan Pendidikan Hukum Han’airike.
Jika Anda memperhatikan dengan saksama bayangan pada foto itu, Anda juga bisa menemukan deretan kawat berduri.
Di dalam kamp tersebut, Abdusalam mengaku menjalani latihan fisik sekaligus perundungan dan pencucian otak.

Ali (bukan nama sebenarnya) adalah salah seorang yang takut berbicara secara terbuka.
Pada 2015, pria berusia 25 tahun itu dimasukkan ke dalam kamp setelah polisi menemukan foto perempuan memakai niqab pada ponselnya.
Namun, dia bukan satu-satunya orang yang dijebloskan ke kamp karena alasan remeh.
“Ada seorang perempuan lanjut usia yang dimasukkan ke sana karena pergi ke Mekkah. Lalu ada seorang pria tua yang tidak membayar tagihan airnya tepat waktu,” papar Ali.
Pada suatu ketika, dalam sebuah sesi latihan fisik, mobil pejabat memasuki kamp dan gerbang terbuka beberapa saat.
“Tiba-tiba, seorang anak kecil lari menuju ibunya yang sedang berlari bersama kami. Sang ibu menghampiri anaknya, memeluknya, dan mulai menangis.”
“Kemudian seorang polisi menjambak perempuan itu dan menyeret anak kecil tersebut ke luar kamp.”
Berbeda dengan suasana bersih yang ditayangkan stasiun televisi pemerintah Cina, kondisi kamp-kamp tersebut sangat kotor.
“Pintu asrama kami dikunci pada malam hari. Tapi tidak ada toilet di dalam. Mereka hanya memberi kami mangkuk,” kata Ablet.
Kesaksian sejumlah warga Uighur ini tidak bisa diverifikasi secara independen.
Kami sudah bertanya kepada pemerintah Cina mengenai tudingan-tudingan tersebut, tapi tidak mendapat jawaban.
Bagi warga Uighur di luar Xinjiang, berita mengenai kondisi di wilayah itu sama sekali kering.
Mengapa demikian? Pasalnya, ketakutan berujung pada kebungkaman.
Laporan adanya orang-orang yang dikeluarkan dari kelompok bincang keluarga di layanan pesan singkat, atau diminta jangan pernah menelpon lagi, banyak bermunculan.
Dua hal paling utama dalam kebudayaan Uighur—agama dan keluarga—dirusak secara sistematis.
Akibat penahanan sejumlah anggota keluarga, laporan-laporan menyebutkan banyak anak ditempatkan di panti asuhan yang dikelola negara.

Bilkiz Hibibullah tiba di Turki pada 2016 dengan kelima anaknya.
Putrinya yang bungsu, Sekine Hasan, yang kini berusia 3,5 tahun berada di Xinjiang bersama ayahnya—suami Bilkiz.
Anak itu belum punya paspor. Rencananya, begitu dia punya paspor, seluruh anggota keluarga akan bertemu di Istanbul.
Namun, rencana itu tak pernah terwujud.
Bilkiz meyakini suaminya ditahan pada 20 Maret tahun lalu.
Dia telah kehilangan kontak dengan keluarganya dan sama sekali tak tahu di mana putrinya berada.
“Tengah malam, setelah semua anak saya yang lain pergi tidur, saya banyak menangis.”
“Tiada yang lebih menyengsarakan daripada tidak tahu di mana putri saya berada, apakah dia masih hidup atau meninggal dunia.”
“Jika dia bisa mendengar saya sekarang, saya tidak bisa berkata apa-apa kecuali minta maaf.”
Hak atas fotoDOKUMEN PRIBADIsumber : bbcindonesia.com












