Home Khazanah Islam Akhlak KEKUATAN DO’A DI BULAN RAMADAN

KEKUATAN DO’A DI BULAN RAMADAN

0
270

 

Oleh :

Arief Rahman Hakim S.Sos. M.Ag 

Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPIJ

MENURUT Ibnu Rajab dalam Kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (Panduan Ilmu dan Hikmah), di saat kematian malaikat akan berkata kepada orang-orang yang baik, Keluarlah wahai jiwa yang baik. Para malaikat juga mengucapkan salam kepada kaum Mukminin ketika mereka masuk Surga dan berkata kepada mereka, Kalian telah berbuat baik. Penuturan ini sebagai komentar atas ayat 32 surat an-Nahl,

 

ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمُ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan. [an-Nahl (16) : 32]

Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi dalam Aisarut Tafasir, mereka senantiasa taat kepada Allah Ta’ala dan berlomba-lomba dalam kebaikan, hal ini setelah mereka mengamalkan amalan hati mereka berupa iman, yakin, mencintai karena Allah serta membenci karena-Nya, penuh harap, dan tawakkal kepada-Nya.

Karena iman yang kokoh di dalam diri orang beriman maka hati, lidah dan tubuh orang beriman itu baik. Zikir, do’a, tilawah senantiasa membasahi lisannya juga amal-amal salih yang merupakan buah iman senantiasa menjadi agenda rutinnya. Tak heran semua hal-hal yang baik tersebut diterima oleh Allah Ta’ala.

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

 

Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. [al-Mu’min (40) : 60]

Ini merupakan karunia dan karamah Allah Ta’ala yang telah menganjurkan hamba-Nya untuk berdo’a kepada-Nya, serta jaminan akan mengabulkannya. Hal ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir di dalam Lubabut Tafsir.

Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu-Nya untuk kita menurut Sayyid Qutb di dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, agar menghadapkan diri dan berdo’a kepada-Nya. Dan menginformasikan bahwa Dia pasti mengabulkan permohonan orang yang berdo’a kepada-Nya.

Dari an-Nu’man bin Basyir ra, bahwa Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ

Sesungguhnya do’a itu adalah ibadah. [HR. Ahmad, Bukhari, al-Hakim]

 

Ada beberapa sebab dikabulkannya do’a sebagaimana penjelasan hadis Arbain Nawawi ke-Sepuluh tentang Baik dan Halal adalah Syarat Diterimanya Do’a,

Pertama, perjalanan jauh

Rasulullah saw bersabda, Ada tiga do’a yang pasti dikabulkan; Do’a orang yang dizalimi, do’a musafir, dan do’a orangtua terhadap anaknya

[HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmizi]

Kedua, baju yang kusut dan kondisi tubuh yang sangat lelah (kelelahan dalam bekerja dan kemiskinan)

Ketiga, menengadahkan kedua tangan.

Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya Allah itu Pemalu dan Pemurah. Ia malu untuk tidak mengabulkan permohonan hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a

[Hr. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmizi]

Keempat, betul-betul berharap kepada Allah Ta’ala

 

Ada beberapa penghalang do’a yaitu, senantiasa menggunakan barang haram baik dari makanan, minuman, dan pakaian.

Banyak hajat atau kebutuhan yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai hal ibadah agar bisa beribadah haji dan umrah, diberikan keistiqamahan dalam salat berjamaah bagi laki-laki, tilawah khususnya di bulan Ramadan bisa berkali-kali mengkhatamkannya, berpuasa seperti orang-orang salih/salihah yang bukan hanya menahan makan, minum dan hubungan badan bagi suami isteri di siang hari namun juga mampu menahan lisan dari ghibah, menahan jempol dari chating-chating yang bisa mengurangi pahala berpuasa.

Lalu kebutuhan rezeki berupa usia yang panjang dalam ketaatan dan keberkahan, kesehatan jiwa dan fisik termasuk sehatnya seluruh organ tubuh. Harta yang mencukupi untuk kebutuhan dasar, sekunder dan pendidikan anak-anak. Tempat tinggal yang diinginkan agar menjadi sarana sakinah qalbiyah bagi seluruh anggota keluarga baik ayah, ibu maupun anak-anak.

Tak kalah penting adalah pasangan atau jodoh yang setia saling menjaga kepercayaan, bertanggung jawab dan sayang kepada keluarga. Pasangan yang menjaga amanah Allah Ta’ala berupa isteri dan anak-anak, atau menjadi ibu yang merawat kepercayaan Allah ta’ala berupa anak-anak yang kokoh akidahnya, rajin beribadah dan berakhlakul karimah.

Sungguh sedih dan remuk redam hati kita mendengar beberapa kisah dan kejadian terakhir bagaimana anak-anak dengan usia di bawah 18 tahun bisa menjadi pembunuh-pembunuh sadis dan dilakukan dengan berencana atau sengaja kepada saudara atau orangtua kandungnya sendiri.

Ada sesuatu yang hilang dalam diri para ayah dan ibu di zaman sekarang di tengah sibuknya bekerja dan beraktivitas, mereka lalai dalam memperhatikan anak-anak. Mereka butuh perhatian dan kasih sayang serta perlakuan adil sebagai anak.

Sensitifitas para ayah dan ibu mulai mengendor sehingga tidak memperlakukan mereka dengan hangat dan penuh kelembutan. Tak kalah fatal, lupa menyelipkan do’a-do’a, munajat sepenuh jiwa agar anak keturunan mereka tidak sekedar bagus dan indah fisiknya, berprestasi pendidikannya, namun memiliki sensitifitas jiwa yang dinamakan takwa sehingga menyempurnakan do’anya menjadi, وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita di dalam memaksimalkan ibadah dan memperbanyak do’a di hari-hari penuh pengabulan do’a dari Allah Ta’ala. Aamiin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × three =