Home News Update Islam Indonesia MELACAK AKAR SEJARAH KATA KAFIR DI INDONESIA? (1)

MELACAK AKAR SEJARAH KATA KAFIR DI INDONESIA? (1)

0
472

Raja Pakubuwono X ketika berkunjung ke Masjid Luar Batang 1920                                       Foto: Gahetna.nil

Khazanah Melayu dan bahasa Indonesia sudah menyerap kata kafir sejak dahulu kala.

JIC, JAKARTA–Sejak kapan kata kafir dipakai dalam kazanah bangsa Indonesia? Untuk menjawabnya sampai hari publik memang belum banyak tahu, alias masih serba abu-abu. Apalagi bila kemudian merunut penggunaan atau kapan kata itu ’kafir’ diserap dalam kosa kata dalam bahasa Melayu hingga bahasa Indonesia itu.

Yang pasti penerjemahan Alquran adalam bahasa Indonesia belum terlalu lama. Yang terlihat memang jejak sejarah penerjemahan Alquran  ke dalam bahasa  Melayu telah dilakukan sejak pertengahan abad ke-17 M. Sosoknya adalah pada figur  Abdul Ra’uf Fansuri, seorang ulama dari Singkel (sekarang masuk wilayah Aceh) yang pertama kali menerjemahkan Alquran secara lengkap di bumi Nusantara.

Meski terjemahannya boleh disebut kurang sempurna dari tinjauan ilmu bahasa Indonesia modern, Abdul Ra’uf Fansuri bisa dikatakan sebagai tokoh perintis penerjemahan Alquran berbahasa Indonesia.

Setelah munculnya terjemahan Alquran karya Abdul Ra’uf Fansuri. Setelah itu, hampir tak ditemukan lagi terjemahan Alquran dalam bahasa Indonesia hingga abad ke-19 M.

Karya tafsir Alquran dia diberinama Tarjuman al-Mustafid.  Para ahli Melayu menegaskan, kitab tafsir Alquran pertama di Nusantara tersebut disambut umat Islam yang bersemangat mempelajari dan memahami isi ajaran Alquran.

Tak hanya itu, kitab tafsir tersebeut juga dipergunakan umat Islam di berbagai wilayah yang berbahasa Melayu, misalnya Malaysia dan Singapura. Tafsir ini pernah diterbitkan di Singapura, Penang, Bombay, Istanbul (Matba’ah al-usmaniah, 1302 H/ 1884 M dan 1324 H/ 1906 M), Kairo (Sulaiman al-Maragi), serta  Makkah (al-Amiriah).

Meski terkenal, terjemahan Alquran ini mendapat kritik dari orientalis asal Belanda, Snouck Hurgronje. Katanya, penerjemahan Alquran Abdul Raud Al Singkili  lebih mirip sebagai terjemahan tafsir al-Baidaiwi. Rinkes, murid Hurgronje, menambahkan bahwa selain sebagai terjemahan tafsir al-Baidawi,  karya ulama asal Aceh itu juga mencakup terjemahan tafsir Jalalain.

photo

Makam Syiah Kuala alias Syekh Abdur Rauf as-Singkili di dekat Banda Aceh, Aceh

Sumber : republika.co.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen + nineteen =