MEMBERI MAKAN

0
411

Ada satu amalan di bulan Ramadhan yang memiliki pahala begitu tinggi, yaitu memberi makan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”(HR. Tirmidzi).

Keutamaan tersebut berlaku pula di luar Ramadhan.“Sesungguhnya orang terbaik diantara kalian adalah orang yang memberi makan,” sabda Rasulullah SAW, seperti dinukilkan Ibnu Sa`ad dari Shuhaib RA.

Saking utamanya amalan ini, , sampai-sampai ulama terkemuka yang sangat terkenal dengan kezuhudannya, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, berkata,”Aku telah meneliti semua amal saleh, dan tidak ada yang melebihi keutamaan amal memberi makan.” Begitu pula ulama lainnya juga memberikan pernyataan tentang keutamaan amalan memberi makan, bahkan ada pula yang menjadikannya sebagai gerakan, seperti KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Ada satu amalan di bulan Ramadhan yang memiliki pahala begitu tinggi, yaitu memberi makan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”(HR. Tirmidzi).

Keutamaan tersebut berlaku pula di luar Ramadhan.“Sesungguhnya orang terbaik diantara kalian adalah orang yang memberi makan,” sabda Rasulullah SAW, seperti dinukilkan Ibnu Sa`ad dari Shuhaib RA.

Saking utamanya amalan ini, , sampai-sampai ulama terkemuka yang sangat terkenal dengan kezuhudannya, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, berkata,”Aku telah meneliti semua amal saleh, dan tidak ada yang melebihi keutamaan amal memberi makan.” Begitu pula ulama lainnya juga memberikan pernyataan tentang keutamaan amalan memberi makan, bahkan ada pula yang menjadikannya sebagai gerakan, seperti KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Dikisahkan di dalam buku “Teologi Pembaharuan” karya Dr. Fauzan Saleh bahwa KH. Ahmad Dahlan selalu saja mengulang-ulang pelajaran surat al-Ma’un . Begitu lamanya surat Al-Ma`un diajarkan sehingga tidak pernah beranjak kepada ayat berikutnya dan akhirnya membuat murid-muridnya bosan. Salah seorang muridnya, KH. Syuja’, bertanya mengapa KH. Ahmad Dahlan tidak beranjak ke pelajaran berikutnya. KH. Ahmad Dahlan pun pun balik bertanya, “Apakah kamu benar-benar memahami surat ini?”. KH. Syuja’ menjawab bahwa ia dan kawan-kawannya sudah memahami benar-benar arti surat tersebut dan bahkan telah menghafalnya di luar kepala. Kemudian KH. Ahmad Dahlan bertanya kembali, “Apakah kamu sudah mengamalkannya?”. Dijawab oleh KH. Syuja’, “Bukankah kami membaca surat ini berulang kali sewaktu salat?”

KH. Ahmad Dahlan kemudian menjelaskan maksud mengamalkan surat al-Ma’un bukanlah sekedar menghafal atau membacanya semata, namun lebih dari itu semua, yaitu mempraktekkan surat al-Ma’un dalam bentuk amalan nyata. “Oleh karena itu’, lanjut KH. Ahmad Dahlan,“ Setiap orang harus keliling kota mencari anak-anak yatim, bawa mereka pulang ke rumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang pantas, makan dan minum, serta berikan mereka tempat tinggal yang layak. Untuk itu pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya perintahkan kepada kalian.” Dari pemahaman dan pengamalan surat al-Ma`un ini, Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu ormas Islam tertua dan terbesar di Indonesia sampai hari ini yang memiliki tiga gerakan utama, salah satunya adalah gerakan memberi makan (feeding).

Benarlah perkataan Rasulullah SAW dan para ulama yang merupakan pewarisnya tentang keutamaan memberi makan karena gerakan memberi makan sekarang ini dan ke depan semakin dibutuhkan, bukan hanya untuk Indonesia yang masih memiliki 21 juta orang yang kelaparan, tetapi juga untuk dunia. Data terbaru dari Badan Pangan Dunia (Food and Agricultural Organization/FAO) menyatakan bahwa ada 870 juta orang di muka bumi ini yang masih kelaparan dan mereka tersebar di negara miskin dan berkembang. Angka kelaparan ini disinyalir akan terus bertambah karena populasi sebagian besar negara berkembang masih berkembang pesat, meskipun laju pertumbuhan telah melambat. Setiap tahun populasi global meningkat sebesar 90 juta. Sebagian besar dari peningkatan ini, sekitar 95 persen, terjadi di negara berkembang. Populasi di kebanyakan negara maju meningkat hanya sedikit. Mengambil proyeksi paling konservatif untuk pertumbuhan penduduk dunia selama 30 tahun ke depan, maka produksi pangan harus dua kali lipat dalam rangka memenuhi persyaratan minimum. Namun ironisnya, lahan yang tersedia untuk memproduksi makanan tambahan ini terdegradasi, terutama sebagai akibat dari deforestasi, secara berlebihan dan praktek pertanian yang buruk.

FAO memperkirakan bahwa sebagian dari 1.200 juta hektar lahan dipengaruhi oleh degradasi tanah. Erosi oleh angin dan air menyumbang lebih dari 1.000 juta hektar ini, dengan keseimbangan yang disebabkan oleh kimia dan degradasi fisik. Pada saat yang sama, ketersediaan lahan pertanian produktif menurun di banyak negara karena pertumbuhan penduduk dan kurangnya cadangan yang bisa dibawa ke dalam produksi. Data dari 57 negara berkembang menunjukkan bahwa hampir 50 persen dari semua lahan pertanian lebih kecil dari 1 hektar dalam ukuran. Banyak petani miskin menemukan bahwa, sebagai akibatnya, mereka tidak bisa lagi mencari nafkah dari tanah mereka. Di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, orang yang bermigrasi dalam jumlah besar ke kota-kota dan kota-kota untuk mencari pekerjaan yang dibayar dan kesempatan yang lebih baik. Dan arus balik mudik Lebaran adalah momen utama migrasi tahunan orang-orang desa yang tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidupnya yang sesampai di kota tujuan, seperti Jakarta, juga tidak mendapatkan hidup yang layak karena sedikitnya lapangan pekerjaan untuk mereka. Akhirnya, seperti lingkaran setan, kemiskinan pun sulit diputus, orang miskin tidak mampu membeli apa yang dihasilkan, dan walhasil angka kelaparan di Indonesia bisa tinggi kembali.

Akhir kalam, orang yang kelaparan dapat berbuat apa saja untuk menutupi rasa laparanya, bukan hanya melakukan perbuatan kriminal, tetapi juga menjual keimanan. Gerakan pemurtadan di Indonesia tahu persis tentang hal ini, maka tidak heran jika misi mereka berhasil dan terus digalakkan di daerah-daerah yang memiliki tingkat kelaparan yang tinggi, apalagi angka 21 juta orang yang masih kelaparan di Indonesia bukanlah angka yang sedikit. Maka, Jakarta Islamic Centre (JIC), memberikan apresiasi yang tinggi dan mengucapkan terima kasih kepada para sponsor yang memberikan santunan dana dan bantuan makanan untuk anak yatim, fakir miskin, jamaah dan orang-orang yang berbuka puasa pada acara Milad ke-10 JIC dan Kegiatan Amaliyah Ramadhan 1434H di JIC, yaitu kepada Pemprov. DKI Jakarta, Walikota Jakarta Utara, BAZIS Prov. DKI Jakarta, LAZNAS Amanah Takaful, Adira Finance Syariah, Rabbani, PT. Kanaya, PT. Sigmagraha Arkananta, BNI KCP Koja, PT. Nestle, produsen biskuit Hotsa dan Klop, Perusahaan Cap Orang Tua, Kino (produsen minuman Cap Panda) dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu di kolom ini, semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal dan menambahkan rezeki dan kesuksesan usaha mereka agar amal memberi makan mereka terus berkelanjutan walau Ramadhan telah berlalu. Aamiin. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Kepala Seksi Pengkajian JIC

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − three =