Kegiatan kerumunan massa yang sangat kental dan seringkali digelar berulang-ulang di tanah betawi (sekarang Jakarta) adalah kegiatan majelis taklim. Majelis taklim tidak hanya hadir di Jakarta tapi juga di jawa, sumatera dan wilayah lainnya di Indonesia dimana terdapat komunitas muslim/ muslimah di dalamnya.
Majelis taklim ternyata sudah sejak lama hadir khususnya di tanah betawi. Dari hasil penelitian para sejarahwan disepakati bahwa Majelis Taklim Habib Ali Kwitang (Habib Ali al-Habsyi) yang pertama kali beraktivitas pada tanggal 20 April 1870 merupakan yang tertua di Betawi. Setelah Habib Ali Kwitang wafat, majelisnya diteruskan oleh anaknya, Habib Muhammad al-Habsyi, dan kemudian dilanjutkan oleh cucunya Habib Abdurrahman al-Habsyi. Dari Majelis Taklim Habib Ali Kwitang inilah muncul ulama-ulama besar Betawi salah satunya adalah          KH. Abdullah Syafi`ie dengan Perguruan Islam Asy-Syafi`iiyyahnya.
Namun setelah KH. Abdullah Syafi’ie wafat maka tampuk kepemimpinan Perguruan Islam Asy-Syafi`iiyyahnya dipegang oleh salah satu puterinya Tuty Alawiyah yang sejak kecil selalu menghadiri pengajian yang dipimpin oleh ayahnya sendiri. Ia menjalankan perguruan tinggi Islam Asy-Syafi’iyah bersama saudara-saudaranya dan mulai merambah dunia dakwah melalui pendirian majelis taklim. Sebagai penggerak majelis taklim yang sangat menonjol di Jakarta ia mendirikan organisasi BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim) sebagai organisasi majelis taklim formal pertama di Jakarta bahkan di Indonesia, yang memberikan warna tersendiri bagi pembangunan sosial spiritual kaum wanita muslim Jakarta. Badan Kontak Majelis Taklim(BKMT) berdiri tanggal 1 Januari 1981 di Jakarta. Organisasi ini lahir dari kesepakatan lebih dari 735 Majelis Taklim yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dalam perjalanannya organisasi ini telah berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Cakupan perkembangan anggotanya mencapai ribuan majelis taklim dengan meliputi jutaan orang jamaah yang tersebar di 33 propinsi.
Tidak hanya sebagai penggerak umat, Â kesuksesan Tuty Alawiyah di mata masyarakat khususnya wanita muslim Jakarta melahirkan kepercayaan pemerintah untuk menunjuknya menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada tahun 1998 hingga tahun 1999 pada Kabinet Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan. Dan sebelumnya beliau menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari tahun 1992 hingga 2004.
Kiprahnya ternyata belum cukup sampai disini, beliau melangkah lebih jauh lagi di dunia Internasional sebagai pengurus IMWU (International Muslim Women’s Union) yang berkantor di Khartoum, Sudan.
Peran sebagai pemimpin wanita muslim Jakarta melalui BKMT, sebagai pemerintah melalui Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang membangun kiprah wanita di Indonesia, sebagai inspirator wanita muslim di dunia melalui IMWU , menjadikan Tuty Alawiyah sosok yang perlu dicontoh akan semangat dan cara pandangnya yang dinamis terhadap modernitas dan global seperti sekarang ini. Kiprahnya tidak hanya diperuntukkan bagi kaum bawah namun juga kaum menengah, tidak hanya berskala nasional namun juga internasional, langkah yang langka dimiliki para wanita muslim saat ini.
Kebanyakan para wanita muslim saat ini lebih berorientasi pada akademik, ekonomi dan karir atau terjebak dengan ambisi partai semata. Belum banyak yang memiliki pandangan yang dapat mendobrak anggapan tradisi bahwa wanita hanya sebatas dapur, kasur dan sumur. Tuty Alawiyah memandang jauh masalah keummatan sampai ke level global.
Menurut survei BPS Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2010 penduduk wanita di Jakarta berjumlah 4.738.849 sedangkan pria 4.870.938. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan wanita hampir berimbang dengan pria dalam berkegiatan di Jakarta. Dengan kompleksitas permasalahan ibukota negara mulai dari masalah sampah yang menumpuk, banjir, kesehatan anak, pornografi dan porno aksi, seks bebas, narkoba, KDRT, perceraian bahkan perkembangan pendidikan anak yang secara langsung atau tidak langsung terkait dengan wanita di dalam keluarga. Permasalahan ini menjadi tidak significant ketika para wanita ibu tidak peduli dengan permasalahan di atas. Namun ketidakpedulian mereka tidak akan terjadi jika Jakarta memiliki figur wanita dan wadah non formal seperti majelis taklim yang dapat menghimpun wanita dan memberikan kesadaran spiritual dan informasi untuk kemajuan Jakarta.
Ironisnya, pada saat kemajuan globalisasi tidak dapat dibendung lagi, majelis taklim yang sangat subur perkembangannya di Jakarta sampai saat ini masih belum memiliki figur pemimpin yang mampu berjalan selaras dengan modernitas dan perkembangan zaman serta dapat merangkul berbagai kalangan. Maka sudah sepantasnya dibutuhkan adanya Neo Tuty Alawiyah untuk  masa depan Jakarta Ibukota Negara tercinta yang nantinya dapat menjadi pilot project bagi ibukota negara lain di dunia. Tanpa bermaksud mengkultuskan, Jakarta sangat butuh figur seperti Tuty Alawiyah yang tidak hanya mampu mensukseskan anggota keluarganya, namun juga dapat memberikan sumbangsih pikiran dan peran kepada kaum wanita bagi permasalahan Jakarta yang semakin lama akan semakin sulit di atasi.
Oleh : Hanny Fitriyah, S.Ag. (Jakarta Islamic Centre)












