PESAN GUS BAHA SOAL HIDUP BERDAMPINGAN

Pesan Gus Baha soal Hidup Berdampingan. Foto: Toleransi (ilustrasi)

JIC, JAKARTA — Hidup berdampingan dengan keberagaman adalah situasi yang sudah ada sejak dahulu. Untuk bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat yang beragam ini, harus ada sikap saling memaafkan.

Hal tersebut disampaikan KH Bahaudin Nur Salim atau Gus Baha dalam tausiyah acara Halal Bihalal Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama RI yang diadakan secara virtual, Senin (7/6).

Menurut Gus Baha, banyak cerita zaman ulama terdahulu yang menunjukkan kebaikan ulama dalam hidup bersosialisasi di tengah keberagaman.

“Nabi Ibrahim sempat ditegur oleh Allah SWT memberi makan orang Majusi yang sedang kelaparan dengan satu syarat, yaitu mau beriman kepada Allah. Namun orang Majusi tersebut keberatan dan menjadikan Nabi Ibrahim urung memberikan makanan. Lantas Allah menegurnya,” kata dia dikutip di laman resmi Kemenag, Selasa (8/6).

 

Nabi Ibrahim ditegur oleh Allah SWT karena Allah memberi makan orang Majusi itu selama puluhan tahun, padahal dia tidak beriman. Lantas Nabi Ibrahim memanggil orang Majusi tersebut untuk diberi makan.

Diceritakan pula oleh Gus Baha, Nabi Muhammad SAW memaafkan Da’sur, seorang yang sangat benci kepada Nabi dan hampir membunuhnya. Namun Nabi memaafkannya dan menyuruhnya pergi, hingga akhirnya Da’sur masuk Islam.

Sikap pemaaf Nabi Muhammad itu juga diberikan kepada orang kafir Quraisy yang sudah masuk Islam. Bahkan, mereka sempat takut karena sebelumnya sangat memusuhi Nabi.

“Orang Quraisy ini berkata, ‘Saya saksikan engkau sebagai orang yang tidak berperilaku bengis. Engkau adalah Saudara yang terhormat’. Lantas Nabi memaafkan mereka sebagaimana Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya yang telah berusaha membunuhnya,” lanjutnya.

Gus Baha melanjutkan, begitu banyak keteladanan Nabi dan ulama zaman dahulu yang harus menjadi ibrah atau pelajaran bagi umat Islam untuk saling memaafkan antar teman, tetangga dan warga Indonesia.

Kisah lain yang patut dijadikan teladan adalah sikap memberi Nabi Muhammad SAW tanpa pamrih. Ia menyebut zuatu saat Nabi pernah diprotes oleh sahabatnya mengapa bersedekah kepada sahabat yang tidak biasa bersedekah? Menurut mereka ini tidak adil.

Ia menyebut hal inilah cara berpikir Nabi, bahwa seseorang yang bersedekah namun mengharapkan imbalan itu tidak bermental memberi. Padahal mental memberi itu seperti pengorbanan pahlawan negara yang berjuang tanpa pamrih untuk kemerdekaan negara.

Sumber : ihram.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MANFAAT MEMANDANG KA’BAH BAGI KESEHATAN PSIKOLOGIS

Read Next

LIMA PRINSIP CINTA TANAH AIR SYAIKHONA KHOLIL BANGKALAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 4 =