یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
[Surat Al-Baqarah: 183]
JIC– Allah ta’ala mengawali seruan kepada orang-orang beriman, seruan keimanan, seruan komitmen, untuk melaksanakan ibadah puasa. Sebuah ibadah yang merupakan sarana pengokohan akidah, sarana seorang hamba untuk taat dan patuh kepada Rabbnya. Sarana penempaan diri untuk memikul tugas dan beban yang berat demi menggapai keridhaan Allah semata. Seluruh sarana ini sangat penting sekali dalam menyiapkan diri untuk menghadapi beratnya rintangan, tarikan duniawi yang tak pernah padam, tipu daya tiada henti dan syahwat kekuasaan yang tiada batas.
Ibadah puasa yang asalnya sebuah beban dan berat menjadi ringan bagi orang-orang beriman, karena Allah ta’ala memanggilnya dengan penuh kecintaan, dan menetapkannya menjadi sebuah kewajiban seperti yang telah dirasakan umat sebelum umat Rasulullah SAW. Dengan dilakukan bersama-sama secara masif maka puasa menjadi ringan. Tujuannya adalah mempersiapkan hati untuk bertakwa, menjadi lembut, sensitif dan takut kepada Allah.
Takwa lah yang membangkitkan kesadaran hati untuk rela melaksanakan ibadah puasa, demi taat kepada Allah dan keinginan menggapai ridha-Nya. Takwa lah yang menjaga hati agar tidak merusak puasanya dengan sesuatu apa pun, meski getaran hati dan lintasan pikiran untuk bermaksiat. Puasa sebagai sebuah sarana, alat untuk mencapai puncak ketinggian ruhani, yaitu takwa.
Puasa dapat menyucikan jiwa dan mempersempit jalan syaithan. Rasulullah SAW bersabda,
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah ia menikah. Dan barangsiapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa merupakan penawar baginya”
(Shahih Bukhari dan Muslim)
Puasa mencegah pelakunya dari perbuatan maksiat, mampu mengendalikan syahwat. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW,
الصوم جنة
“Puasa adalah pelindung”
(HR. Nasa’i)
الصوم نصف الصبر
“Puasa adalah separuh dari kesabaran” (HR. Ibnu Majah)
Puasa mampu mengendalikan emosi, menahan kesabaran dan kesulitan, penderitaan. Akan memiliki empati, kasih sayang kepada orang-orang di bawahnya, baik dari sisi rezeki maupun status sosial. Infak sedekah, berbagi, memberikan takjil di bulan Ramadhan. Meyakini bahwa setiap manusia adalah berkedudukan sama di hadapan Allah ta’ala, hanya dibedakan dengan tingkat takwanya. Ibadah haji dan umrah di Baitullah menunjukkan konkritnya hal ini.
Dengan berpuasa sebenarnya waktu istirahat menjadi lebih singkat, stamina menurun dan melemah. Namun Allah ta’ala menginginkan seorang hamba sehat dengan berpuasa; puasa mampu memperbaharui struktur fisik, menyegarkan kesehatan, membebaskan tubuh dari endapan-endapan dan fermentasi yang berbahaya, menyegarkan organ tubuh.
Rasulullah SAW bersabda,
صوموا تصحوا
“Berpuasalah, niscaya kalian sehat”
(HR. Abu Nu’aim)
Menurut Al-Qurthubi, seorang imam, ahli hadis, ulama tafsir, pengikut mazhab fikih Maliki, kelahiran Spanyol dan wafat 1273 di Mesir; dinamakan Ramadhan karena ia menggugurkan, membakar dosa-dosa dengan amal saleh.
Rasulullah SAW bersabda,
الصیام والقران یشفعان للعبد یوم القیامة…….
“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari Kiamat…..
(HR. Ahmad)
Semoga Allah ta’ala mudahkan dalam memaksimalkan ibadah, memperbanyak amal saleh amal usaha, dan mampu mendidik diri, keluarga dan umat di Ramadhan. Aamiin.
Tulisan Merupakan Seri ke-6 dari artikel Ayat-Ayat Pendidikan yang ditulis oleh,
Ustadz Arief Rahman Hakim, M.Ag.
Kasubdiv. Pendidikan dan Pelatihan PPPIJ








