RINTIHAN CALON PENGHUNI SURGA

Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

[Surat Al-Furqan: 74]

 

JIC- Do’a orang-orang beriman untuk isteri dan anak-anak keturunan mereka sebagai penyejuk hati, penentram diri. Orang beriman belum merasa tentram hingga mata mereka melihat pasangan hidup dan keturunannya senantiasa taat kepada Allah, berilmu dan beramal usaha. Rintihan yang berasal dari perasaan fitrah keimanan mendalam. Permintaan penuh harap langsung kepada Allah akan keadaan isteri dan anak-anak, mengingat mereka orang-orang terdekat dari orang beriman dan amanah yang paling pertama yang akan Allah tanyakan kepada mereka.

Munajat sepenuh hati agar Allah ta’ala berkenan memberikan isteri yang salehah dan anak-anak yang saleh dan dikhidmahkan untuk Islam; mengerjakan kebaikan, menjauhi keburukan, yang dengannya isteri dan anak-anak mendatangkan kegembiraan dan ketenangan bagi jiwanya. Mereka juga memohon agar Allah berkenan menyampaikan kepada derajat luhur yaitu derajat orang-orang shadiqin dan derajat orang-orang yang sempurna dari kalangan hamba-hamba Allah yang saleh, yaitu derajat kepemimpinan dalam agama hingga mereka bisa menjadi teladan bagi orang-orang bertakwa dalam ucapan dan perbuatannya. Perbuatan-perbuatan mereka diteladani, ucapan-ucapan mereka menjadi kesejukan hati dan orang-orang saleh mengikutinya. Mereka memberi petunjuk dan masyarakat pun mendapat petunjuk.

Do’a ini mengharuskan adanya amal usaha dan kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan, dan mengharuskan adanya ilmu yang memadai yang dapat menghantarkan seorang mukmin kepada derajat al yakin sebagai kebaikan yang sangat banyak dan karunia yang berlimpah.

Rasulullah saw bersabda,

لأن یٶدب الرجل ولده خیر له من أن یتصدق بصاع

Seseorang yang mendidik anaknya adalah jauh lebih baik daripada bersedekah dengan satu sha’

(HR. Tirmidzi)

مانحل والد ولدا من نحل أفضل من أدب حسن

Tidak ada hasil yang lebih baik yang dipetik oleh seorang ayah dari anaknya daripada etika yang baik

(HR. Tirmidzi)

Ada beberapa langkah untuk mewujudkan pasangan hidup dan keturunan menjadi penentram hati dan teladan orang-orang bertakwa;  Pertama, Kedua orang tua ini mengerti tujuan hidup. Hidup dan berkeluarga adalah untuk beribadah kepada Allah semata (Adz-Dzariyat: 56). Dengan pemahaman ini akan selalu mengingatkan ritme rumah tangga. Ada anak-anak yang menjadi amanat seorang ayah dan ibu, sehingga tidak asal-asalan dalam menjaga amanah ini. Tidak mesti disekolahkan dengan berbiaya mahal dan bonafid, pun sebaliknya tidak hanya berfikir karena berbiaya murah, namun lembaga pendidikan itu mampu membangun karakter anak yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta patuh kepada kedua orangtuanya, sangat menyayangi antar saudara kandung.

Kedua, Memahami kedudukan agung orang tua di dalam Al-Qur’an; Bagian dari sumpah Allah (Al-Balad: 3), bagian dari prinsip dasar ibadah dan akhlak (Al-Isra: 23), mengiringi syukur kepada Allah dan kepada kedua orang tua dalam satu ayat (Luqman: 14). Allah telah memuliakan para orang tua maka menjaga kemuliaan itu dalam bentuk kesungguhan; mendidik dan memperhatikan perkembangan anak-anak hingga dewasa dan jelang berumah tangga.

Ketiga, Mengetahui nilai dunia jika dibandingkan dengan nilai akhirat. Kenikmatan hidup di dunia hanya sedikit dibandingkan dengan kehidupan di akhirat (At-Taubah: 38). Anak-anak sebagai titipan Allah terkadang disepelekan dan diabaikan, lebih memprioritaskan hidup mencari perhiasan yang indah dan benda-benda yang sebenarnya akan lenyap di telan masa (Ali-Imran: 14). Hidup hanya sebentar dan tidak tahu bagaimana nasib di akhirat kelak.

Sebagai inspirasi, di antara Nabi-nabi Allah yang berbakti kepada kedua orangtua; Nabi Yahya as (Maryam 12-14), Nabi Isa as (31-32), Nabi Yusuf as (Yusuf 99-100), Nabi Ibrahim as (Maryam 41-45), Luqman dan putranya (Luqman 14-15), dua gadis dengan akhlak yang luhur (Al-Qasas:23-28).

Semoga Allah ta’ala mudahkan dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan membina pasangan hidup berikut anak-anak, serta mendapatkan ridha-Nya. Aamiin

*Tulisan diatas adalah materi berseri dari Ayat-ayat pendidikan bagian ke-16 yang ditulis oleh ustadz Arief Rahman Hakim, M.Ag Kepala Sub Divisi Pendidikan dan Pelatihan PPPIJ

 

 

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

SOROTI BUSANA PINANGKI, MUHAMMADIYAH: PERLU ATURAN KHUSUS BAJU PERSIDANGAN

Read Next

RUU SISDIKNAS, PELUANG REKOGNISI JENJANG PENDIDIKAN AL-QURAN

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Open chat
Konsultasi Online JIC
Kirimkan pertanyaan kepada kami...