SEMANGAT HIJRAH DI TENGAH PANDEMI

JIC – Umat Islam kembali menjalani pergantian tahun Hijriyah di tengah masa pandemi pada Selasa (10/8) ini. Terkait hal itu, umat diimbau merayakan dalam kesederhanaan serta merenungkan kondisi belakangan.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Maksum Machfoedz mengimbau agar momentum Tahun Baru 1443 Hijriyah diisi dengan bersyukur dan bermuhasabah, tanpa ada ingar-bingar atau perayaan yang berpotensi merusak atau membahayakan diri dan orang lain. “Yang pertama tentu saling menyampaikan ucapan syukur dan selamat Tahun Baru Hijriyah 1443,” ujarnya kepada Republika, Senin (9/8).

Ungkapan rasa syukur ini bisa dilakukan dengan muhasabah, mengintrospeksi diri, dan berdoa agar pandemi segera berlalu. “Tanpa ada petasan atau hal lain yang menimbulkan mudarat,” ujar Maksum.

Tahun 1442 Hijriyah, paparnya, diwarnai dengan begitu banyak cobaan dan krisis. Untuk itu, ia mengajak di tahun yang baru ini umat Islam lebih dewasa dan cerdas dalam menghadapi cobaan.

“Menyadari bahwa cobaan ini tidak tahu kapan berhenti dan hanya bisa tertanggulangi ketika kita saling peduli sembari senantiasa mendekatkan diri kepada Ilahi Rabbi,” ujarnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, juga mengingatkan umat Islam Indonesia untuk menyambut Tahun Baru Hijriyah secara sederhana. “Lebih baik alihkan dana dan perhatian pada ikhtiar bersama menghadapi musibah Covid-19 secara optimal,” kata Haedar kepada Republika, akhir pekan lalu.

Haedar menyampaikan, umat Islam di seluruh dunia dan negeri Indonesia tercinta ini menyambut Tahun Baru 1443 Hijriyah dalam suasana musibah pandemi Covid-19. Musibah yang telah berlangsung satu setengah tahun dan sangat berat bagi semua bangsa.

Muhammadiyah mengimbau untuk melakukan muhasabah individual dan kolektif secara rasional maupun spiritual. Umat Islam mesti menjadi uswah hasanah dan memberi solusi dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Haedar juga mengajak umat untuk mengembangkan pemikiran keislaman yang konstruktif dan berkemajuan. Umat Islam, kata Haedar, harus menjadi contoh terbaik dan menunjukkan solusi serta keteladanan.

Tahun Baru Hijriyah tidak bisa dilepaskan dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW beserta pengikutnya dari Makkah ke Madinah. Haedar menekankan, hijrah bagi kaum Muslimin secara esensial merupakan perubahan revolusioner atau transformasional dari segala bentuk kejahiliyahan menuju kehidupan yang lebih baik, lebih maju, dan berperadaban utama.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyatakan, pergantian Tahun Baru Islam ini juga bisa dijadikan sebagai momentum umat untuk menyusun dan melakukan langkah-langkah perbaikan agar kehidupan bisa lebih baik dari sebelumnya.

“Apalagi negara kita saat ini sedang dilanda pandemi Covid-19 dan masalah ekonomi serta sosial, hukum, dan politik yang terasa tidak pas bila kita lihat dari perspektif ajaran agama dan juga Pancasila dan UUD 1945 yang telah kita sepakati untuk menjadi dasar dan hukum dasar di negeri ini,” kata Anwar.

Hikmah hijrah

Wakil Menteri Agama KH Zainut Tauhid Sa’adi mengajak umat Islam untuk mengambil hikmah dari peristiwa monumental perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.

Kiai Zainut menyampaikan, hikmah dan nilai-nilai hijrah dalam pristiwa Rasulullah SAW hijrah mendorong dan menginspirasi agar membina ketangguhan umat dan bangsa. Nilai ketangguhan ini sangat relevan dalam menghadapi pandemi Covid-19 saat ini.

Wamenag mengatakan, di tengah pandemi Covid-19, ketangguhan sangat diperlukan, baik dari aspek mental, spiritual, kesehatan, sosial, ekonomi, bahkan ketangguhan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam selama ini memahami bahwa hijrah adalah tonggak sejarah yang memiliki nilai istimewa dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW sekaligus menjadi tolok ukur kebangkitan umat.

Peristiwa hijrah 14 abad silam, kata Wamenag, telah membuka lembaran baru sejarah umat Islam sebagai pengemban peradaban kemanusiaan terbesar. Hijrah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi momentum emas dalam mengokohkan misi Islam sebagai rahmatan lil alamin dan membangun kehidupan bangsa seutuhnya.

“Sejarah memberi pelajaran yang amat berharga kepada umat Islam tentang makna hijrah untuk kehidupan yang lebih baik,” ujar Wamenag.

Wamenag menegaskan, hijrah bukan sekadar legenda sejarah. Hijrah memiliki makna strategis bagi kesinambungan perjuangan umat. Hijrah mengajarkan spirit dan dinamika kehidupan yang bergerak sepanjang zaman. Dalam peristiwa hijrah, terangkum strategi dan keteladanan untuk membangun komunitas, bangsa, negara, dan umat yang berkeadaban.

“Mari aktualisasikan hikmah dan nilai-nilai yang terkandung dalam hijrah. Mari terus melakukan kolaborasi kebaikan untuk membangun akhlak, kesejahteraan, dan peradaban kemanusiaan yang lebih baik dan lebih maju sesuai yang dicita-citakan dalam Islam,” kata Wamenag.

Tahun Baru hijriyah kali ini, kata Wamenag, berdekatan dengan peringatan 76 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini diharapkan menambah nuansa spiritual bagi peringatan HUT Republik Indonesia. Kemerdekaan Republik Indonesia diraih atas berkat rahmat Allah SWT dan perjuangan para syuhada pejuang bangsa.

“Senapas dengan itu, segala upaya dalam mengisi kemerdekaan dan menjaga keberlangsungan kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pencasila dan UUD 1945 tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kaagamaan, baik dulu, sekarang, dan selamanya,” jelas Kiai Zainut.

Kepada umat Islam, Wamenag menyampaikan selamat Tahun Baru 1443 Hijriyah. Di tengah pandemi Covid-19, mari terus saling menjaga dan melindungi dengan mematuhi protokol kesehatan serta memperkuat kegotongroyongan dalam menanggulangi dampak Covid-19 terhadap kehidupan sosial-ekonomi umat.

Sumber : republika.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

SABAR ITU WAJIB, RIDHA ITU SUNNAH

Read Next

ISTIGHOSAH UNTUK NEGERI, INDONESIA TANGGUH INDONESIA TUMBUH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve + eleven =