Idul Fitri di Jamaica Muslim Centre Mei lalu.                             SUMBER GAMBAR,SYAMSI ALI

JIC,– Shamsi mendapatkan pendidikan pesantren di Sulawesi Selatan dan melanjutkan studi di Pakistan. Ia kemudian mendapat tawaran untuk bekerja di Arab Saudi selama dua tahun.

Pengalaman di dua negara ini, yang disebut Shamsi, membuatnya mudah curiga terhadap pemeluk agama lain, ketika pindah ke New York pada 1996.

Tetapi upayanya membuka diri bukan tanpa masalah dari jamaah sendiri.

Ketika itu Shamsi Ali juga menjadi wakil imam di Islamic Cultural Center (ICC), masjid yang terletak di 96th Street. Sejumlah jamaah tak setuju dengan kontak dengan Yahudi ini.

Di tengah penentangan ini, kontak eratnya dengan Rabi Marc Schneier membawa keduanya mengorganisir saling kunjung ke masjid dan sinagoga dan berujung pada pembuatan buku berjudul Sons of Ibrahim yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Anak-anak Ibrahim.

Keduanya juga diundang ke sejumlah negara, menjadi model untuk menjalin komunikasi antar agama.

Rabi Burton Visotzky, profesor kajian Yahudi mengatakan, “Orang Barat sering bertanya-tanya apa pesan yang disampaikan di masjid-masjid, dan orang Yahudi sering khawatir.”

“Apa yang saya dengar dari yang disampaikan Shamsi Ali adalah khotbah tentang persaudaraan,” kata Visotzky seperti dikutip Reuters.

Sementara publikasi komunitas, The Jewish Week, menggambarkan Shamsi sebagai “peminpin yang karismatik dan penuh perhatian.”

Shamsi menyebut apa yang dilakukan komunitas Yahudi dan Muslim ini mengubah banyak hal.

“Gerakan yang dimulai di New York menjadi global movement [gerakan global] antar Muslim-Yahudi. Terakhir di Tunisia tahun 2019. Mereka berabad-abad belum pernah berdialog. Saat kami ke sana, para syekh dan rabi saling berterima kasih,” ceritanya.

Pendeta Uma Mysorekar, Iman Shamsi Ali dan Rabi Alvin Kass menerima penghargaan dari NYPD pada 9 Mei 2009 di New York.

SUMBER GAMBAR,GAMBAR GETTY

Pendeta Uma Mysorekar, Iman Shamsi Ali dan Rabi Alvin Kass menerima penghargaan dari NYPD pada 9 Mei 2009 di New York.

Setelah tiba di New York pada 1996 dan memimpin Masjid al-Hikmah, Shamsi diundang memberi ceramah tentang Islam di New York Police Department.

Kontrak ini yang membuat NYPD memintanya mewakili komunitas Muslim dalam doa bersama antaragama di Stadion Yankee, yang dihadiri sekitar 15.000 orang, dua minggu setelah Serangan 11 September.

Pintu dialog antar agama

Syamsi Ali

SUMBER GAMBAR,SYAMSI ALI

Bersama pemuka agama lain di Queens, New York, April lalu.

Shamsi juga aktif dalam kegiatan antaragama, termasuk National Dialogue of Muslim and Catholic serta konperensi Imam dan Rabi di AS dan luar negeri.

Ia menyebut, “11 September membuka pintu kesempatan semua pihak untuk dialog antaragama yang kemudian sangat booming“.

“Dari kota New York, kemudian jadi fenomeda global,” ujar Shamsi.

Islam semakin berkembang — dan radikalisme juga diidentikkan dengan supremasi kulit putih

Dua puluh tahun sejak Serangan 11 September, Shamsi menyebut persepsi yang salah tentang Islam di AS sudah berkurang. Islam juga menjadi agama yang “sangat populer” dengan politisi-politisi Muslim, termasuk anggota kongres, wali kota dan anggota dewan perwakilan daerah di New York.

“Di NYPD, ada sekitar 1.000 lebih polisi yang Muslim dan ada salat Jumat. Di sekolah umum, sudah ada liburan Idul Fitri, Idul Adha, dan makanan halal yang didanai pemerintah, karena anak-anak perlu makanan halal.”

“Masyarakat Amerika sudah melakukan perubahan2 dalam melihat Islam,” katanya lagi.

Menjelang peringatan ke-20 Serangan 11 September, naiknya banyak Muslim Amerika ke posisi berpengaruh di Washington dan posisi-posisi penting lain, merupakan perkembangan yang tidak diperkirakan dua dekade lalu, lapor Newsweek.

Tiga distrik Detroit akan memilih wali kota-wali kota Muslim pertama, tim sepak bola Amerika New York Jets mengangkat Robert Saleh sebagai pelatih Muslim pertama, sementara CBS menampilkan drama dengan karakter utama Muslim, tambah Newsweek dari serangkaian posisi penting.

Pada 2001, sekitar satu juta Muslim tercatat tinggal di AS, menurut data Association of Religious Data Archives, dan jumlah pemeluk Islam sekarang tercatat sekitar 3,5 juta.

Sementara jumlah masjid meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000 menjadi lebih dari 2.700 di seluruh AS.

“Keberkahan” naiknya Trump

Masjid di New York.

SUMBER GAMBAR,GAMBAR GETTY

Jemaah salat di depan Masjid Aqsa-Salam, masjid tertua milik komunitas Afrika Barat.

Shamsi mengatakan salah satu dari apa yang ia sebut sebagai “keberkahan” naiknya Donald Trump adalah bahwa “tuduhan radikalisme tak lagi identik dengan orang Islam, namun kelompok supremasi kulit putih yang mengambil alih Capitol Hill [Januari lalu].”

Tetapi tantangan ke depan masih besar, menurut Shamsi.

Umat Islam harus berbenah terus menerus, katanya. “Ada harapan dunia Barat bahwa Islam harus menjadi bagian dari kontribusi dalam membangun peradaban dunia.”

Ia mencontohkan kontribusi kecil komunitas Muslim di lembaga yang dipimpinnya, Jamaica Muslim Centre.

“Dulu orang takut untuk tinggal di daerah ini, karena narkoba dan sebagainya. Sejak Jamaican Muslim Centre berdiri, orang-orang Islam datang membeli rumah dan membuka usaha, akhirnya menjadi salah satu daerah yang paling aman.”

Di Idul Adha lalu, wali kota terpilih Eric Adams datang secara khusus untuk menyampaikan apresiasi.

“Inilah komunitas yang kita harapkan, yang bisa berkembang dan memberi kontribusi positif,” katanya, seperti ditirukan Shamsi.

Pada 2013, Shamsi mendirikan Nusantara Foundation, organisasi sosial untuk mendorong dialog antaragama.

Melalui yayasan ini, kata Shamsi, “Saya ingin Amerika sadar, ketika mendengar kata Islam tak lagi menengok ke Saudi, Qatar, atau Timur Tengah, tapi ke Indonesia.”