Home News Update SIAPA SAJA YANG MEMILIH JOKOWI DAN PRABOWO BERDASARKAN EXIT POLL DAN QUICK...

SIAPA SAJA YANG MEMILIH JOKOWI DAN PRABOWO BERDASARKAN EXIT POLL DAN QUICK COUNT? (2)

0
374

Prabowo mungkin unggul tipis di kalangan muda dan pemilih Muslim

JIC, JAKARTA– Kubu Prabowo-Sandiaga mungkin unggul dalam meraih suara pemilih milenial, walau perbandingannya sangat tipis dengan kubu Jokowi. Kelompok milenial membentuk lebih dari 40% dari jumlah total pemilih.

Litbang Kompas menunjukkan dari seluruh pemilih Prabowo, sebanyak 13,5% adalah Generasi Z atau pemilih mula (17-22 tahun), 21,3% adalah milenial muda (22-30 tahun), sedangkan 23,7% adalah milenial dewasa (30-40 tahun).

PemiluHak atas fotoRISKY ANDRIANTO/ANTARA
Image captionDari sekitar 190 juta pemilih terdapat 95,40 juta pemilih perempuan.

Di sisi lain, komposisi pemilih muda Jokowi-Ma’ruf terdiri dari 12,2% Generasi Z; 20,4% milenial muda; dan 23,7% milenial dewasa.

Kubu Jokowi terlihat diuntungkan dengan pilihan Generasi X (41-52 tahun); Baby Boomers (53-71 tahun); dan Silent Gent (usia 71 tahun ke atas) yang menyumbangkan lebih banyak suaranya untuk kubu ini.

Indikator Politik juga menunjukkan semakin tua usia pemilih, cenderung semakin banyak yang mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Luky Sandra Amalia, mengatakan dari awal sudah terlihat kubu Jokowi-Ma’ruf lebih berfokus menarik perhatian pemilih wong cilik dan pemilih tradisional, yang loyal mendukung partai-partai politik pengusung pasangan ini, ketimbang kaum muda.

Sementara itu, katanya, sosok Sandiaga Uno dinilai lebih menarik bagi kaum milenial.

“Di dalam koalisinya (Prabowo) itu ada PKS, ada PAN yang banyak bergerak di organisasi kampus,” tambah Sandra.

Pendukung PrabowoHak atas fotoBAYU PRATAMA S/ANTARA
Image captionSosok Sandiaga Uno dinilai lebih menarik bagi kalangan milenial.

Sementara itu, hasil exit poll Indikator menunjukkan 51% pemilih Muslim memilih Prabowo dan Sandiaga. Sementara, kubu Jokowi menang telak dalam meraih suara pemilih non-Muslim dengan perolehan sebesar 97%.

Dijabarkan lebih lanjut, warga yang berafiliasi dengan NU cenderung memilih Jokowi dan Ma’ruf.

Sementara, kelompok Muslim yang berafiliasi dengan Muhammadiyah dan ormas-ormas lain, serta yang tidak memiliki afiliasi tertentu, cenderung memilih Prabowo.

Wakil Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik FISIP UI, Hurriyah, mengatakan basis pemilih Muslim di kubu Prabowo cukup solid dan sudah teridentifikasi.

Kebanyakan dari mereka, kata Hurriyah, adalah pengikut ustad-ustad kondang seperti Abdul Somad, yang juga mendukungan Prabowo. Mereka, kata Hurriyah, juga sebelumnya banyak yang aktif dalam gerakan ‘411’ maupun ‘212’.

UASHak atas fotoSYIFA YULINNAS
Image captionPengamat politik Hurriyah mengatakan banyak pemilih Prabowo merupakan pengikut para ustad kondang seperti Abdul Somad.

Sedangkan, lanjutnya, dalam pemilu ini Jokowi banyak mendapat suara NU karena pengaruh Ma’ruf.

“Secara segmen pemilih Muslim ada perbedaan antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Kalau Pak Prabowo kelas menengah Muslim yang relijius tapi afiliasi politiknya bukan Muslim tradisional. Mungkin lebih dekat ke Muhammadiyah,” ujarnya.

“Kalau NU itu kan basis Islam yang sangat tradisional dan itu segmennya sudah cukup jelas.”

Daerah-daerah mana yang memenangkan Jokowi dan Prabowo?

Data quick count Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebut Prabowo menang telak di Aceh (83,46% ), Sumatera Barat (84,77% ), Jawa Barat (60%), dan Banten (62,56%).

PemiluHak atas fotoMOCH ASIM/ANTARA
Image captionPengamat politik Hurriyah menyebut peta perolehan suara mengonfirmasi asumsi-asumsi selama ini bahwa Pemilu 2019 memperlihatkan besarnya pengaruh politik identitas.

Angka itu didapat dengan mengumpulkan data 1,1 juta suara sah di 5.897 TPS.

Tren yang sama ditunjukkan oleh hasil hitung cepat lembaga Charta Politika yang meneliti data di 2.000 TPS di 34 provinsi. Melalui data itu diketahui Jokowi-Ma’ruf unggul jauh di Jawa Tengah (77,35%), Yogyakarta (70,82%), dan Jawa Timur (66,16%).

Wakil Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik FISIP UI, Hurriyah, menyebut peta perolehan suara itu mengkonfirmasi asumsi-asumsi selama ini bahwa Pemilu 2019 memperlihatkan besarnya pengaruh politik identitas.

Menyoroti kubu Prabowo, Hurriyah mengatakan hal itu terjadi karena dukungan kelompok-kelompok kelas menengah Muslim relijius.

Sementara, tambahnya, basis pendukung Jokowi, adalah kelompok Islam tradisional, seperti NU, dan kelompok nasionalis-relijius.

Ia mengatakan kelompok-kelompok itu mengerek perolehan suara Jokowi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

sumber : bbcindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − four =