TAWURAN PELAJAR, KASUBDIV PENDIDIKAN PPIJ: 3 KOMPONEN YANG HARUS DIPERBAIKI

0
440

JIC– Semakin maraknya aksi tawuran pelajar di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, menimbulkan keprihatinan dari banyak pihak. Kasubdiv Pendidikan dan Pelatihan PPPIJ Ustadz Arief Rahman Hakim, M.Ag, melihat fenomena ini akibat adanya tiga komponen dasar yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Yang pertama, kata alumni pondok Pesantren Modern Gontor ini adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap anak, karena saat ini menurutnya banyak orang tua yang tidak peduli dengan anak-anaknya, mereka merasa cukup pengasuhan dan pengajaran hanya dari sekolah, padahal orang tua memiliki peran yang paling penting dalam mendidik dan mengontrol.

“Makanya turun surat at-tahrim ayat 6 itu menunjukan bahwa Allah itu serius meminta masing-masing orang tua, pasangan suami istri memperhatikan keturunannya,” terangnya, sebagaimana disampaikan kepada redaksi islamic-center.or.id, Rabu (9/3/2022).

“Mereka tidak peduli, tidak care sama anak-anaknya, padahal mereka itu bertanggung jawab, mereka tidak memiliki kesadaran bahwasanya mereka itu akan mempertanggung jawabkan kapal rumah tangga ini,” ujarnya.

Yang kedua, lanjut ustadz Arief Rahman Hakim adalah harus adanya peranan dari sekolah, sekolah walaupun PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh, red) tetapi guru menurutnya juga punya tanggung jawab yang sangat penting, karena bagaimana anak-anak ini bisa terjaga dengan nilai-nilai, nilai-nilai Islam, nilai-nilai kesopanan, nilai-nilai ketimuran sebagai bangsa Indonesia yang santun dan ramah.

“Jadi guru sekarang ini kalau kita lihat mereka itu hanya sebagai pengajar bukan pendidik, kalau dulu guru itu juga sebagai pendidik, makanya ada slogan Tut Wuri Handayani oleh Ki Hajar Dewantara, mereka betul-betul ngemong, betul-betul memperhatikan, jangan sampai ngajar sebatas ngajar,” terangnya.

Ustadz Arief lebih lanjut mengatakan perhatian guru seharusnya bukan hanya pada saat di sekolah, jam pulang sekolah juga mereka harus memperhatikan, mereka juga mendoakan anak-anak agar mereka pulang dengan selamat, dijalan tidak ada masalah apapun.

“Jangan karena sudah habis waktu di sekolah, mereka lepas tangan,” ujarnya.

Ustadz lulusan Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an ini menghimbau juga agar komite sekolah harus diaktifkan, karena menurutnya komite sekolah ini akan menciptakan keterikatan antara wali murid dan pihak sekolah.

“Komunikasi dua arah harus bagus, Komite sekolah juga harus mulai diaktifkan kembali, karena mungkin 2,5 tahun pandemi ini kita yakin juga kurang karena PJJ terus, nah karena ini sudah ada yang PTM maka harus dirawat kembali, dijalin kembali, diefektifkan kembali komite sekolah,” tambahnya.

Komponen ketiga itu adalah al-bi’ah (lingkungan), karena seorang anak itu bisa terbentuk oleh lingkungannya “karena terkandang anak-anak itu di rumah baik, di sekolah baik, namun lingkungannya bisa mempengaruhi, bisa membentuk,” jelasnya.

“Makanya kata Rasulullah SWA kalau kamu berteman dengan seorang tukang minyak wangi kamu akan kena wanginya,” tambahnya.

Jadi masalah lingkungan ini sangat penting sekali makanya dalam dunia pendidikan itu memang tidak lepas dari 3 komponen ini, ada orang tua, ada sekolah dan lingkungan.

“Anak-anak ini harus mendapat asupan yang baik. Penanaman aqidahnya kokoh paling tidak anak-anak itu diarahkan untuk mengaji, harus bermajelis minimal sepekan sekali, sehingga dengan demikian miliki kontrol dalam dirinya itu bisa menyaring hal-hal yang kurang baik di lingkungan,” pungkasnya. [irfan]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here