Home Uncategorized Ulama Harus Berani Menanggung Resiko

Ulama Harus Berani Menanggung Resiko

0
598

Saat ini umat Islam mengalami berbagai masalah, mulai dari penerbitan ulang kartun nabi hingga muncul film anti Al Quran. Namun yang jadi pertanyaan adalah kenapa gaung ulama tidak terdengar?

Ulama itu ada ulama formal dan non formal. Ulama formal misalnya MUI, lembaga yang didirikan pemerintah dan sekarang menjadi mitra pemerintah. Ulama dalam lembaga MUI memang tidak patut untuk mengambil tanggapan resmi terhadap kejadian-kejadian di Eropa misalnya tentang penayangan ulang karikatur Nabi. Tetapi, MUI tanpa menggunakan bendera MUI mengadakan koordinasi kepada ormas-ormas Islam antara lain kepada FUI, kenapa? karena MUI adalah lembaga yang memayungi ormas-ormas Islam. Jika berkaitan dengan demo atau tanggapan maka MUI mengontak FUI untuk turun langsung memberikan tanggapan, namun jika berkaitan dengan akidah atau fatwa maka MUI yang tampil, karena MUI yang punya legalitas untuk itu. Jadi jika MUI tidak peduli atau diam seribu bahasa, itu tidak benar. Seperti misalnya RUU APP, MUI tidak punya massa untuk demo, tapi MUI menunjuk FUI untuk menjadi koordinator aksi sejuta umat bahkan ketua fatwanya langsung yaitu KH. Ma’ruf Amin yang menjadi koordinator. Kapasitas MUI adalah sebagai sebuah lembaga yang bermitra kepada pemerintah. Contoh lainnya adalah kongres sejuta umat, MUI menjadi badan pekerjanya untuk bisa mengundang ormas dan ulama untuk membahas masalah keumatan.

Bagaimana dengan ulama yang terjun ke politik praktis, seperti membuat partai?

Ulama sebagai pribadi memang harus ada alokasi tugas. Kalau semua ulama menjadi politisi praktis, bisa hancur Islam ini. Tapi sebaliknya jika tidak ada ulama yang berpolitik praktis maka negara ini bisa dikuasai oleh lawan-lawan politik Islam. Ada semacam alokasi tugas secara alami, kalau seorang ulama punya kapasitas politisi maka dia harus terjun kesana begitu juga sebaliknya jika kapasitasnya sebagai mubaligh maka dia harus memimpin pondok pesantren. Pembagian tugas alami artinya sesuai dengan peran masing-masing. Tahun 1980 saya hampir menjadi anggota DPR namun saya menolak dan lebih memilih memimpin pondok pesantren. Saya ingin kepemimpinan saya tidak terganggu oleh jabatan DPR yang sangat duniawi. Jika seseorang itu tidak mempunyai kafâ`ah (keahlian) untuk memimpin pesantren maka dia harus memimpin partai politik. Nabi Muhammad bukan hanya ulama yang memimpin ibadah ritual, tapi beliau juga politisi. Ulama pada prinsipnya mewarisi kepemimpinan Rasulullah dalam semua aspek, termasuk aspek politik.

Jadi sah-sah saja ulama berpolitik?

Ya tentu, asalkan mereka memiliki kafâ`ah (keahlian) dan pada dasarnya al-’ulama waratsah al-anbiya, ulama adalah pewaris nabi.

Saat ini ada beberapa dai atau mubaligh yang tidak lagi menjadikan dakwah sebagai kewajiban tapi sebagai sarana mencari materi. Seperti adanya bayaran, jemputan dan sebagainya.

Semua amal duniawi bisa mempunyai nilai ukhrawi dan sebaliknya. Ada seorang pedagang bisa berfungsi sebagai dai ketika dia menutup tokonya ketika adzan, tidak berbohong dan sebagainya, itulah dakwah dengan kegiatan. Namun ada juga da’i yang berkhutbah dan dengan khutbahnya itu dia mengumpulkan materi. Misalnya dia sudah punya jadwal ceramah di masjid kampung, tiba-tiba ada masjid bank atau BUMN yang meminta dia untuk ceramah dan waktunya bersamaan. Ketika dia mengambil yang lebih besar dananya maka di saat itulah dia sudah menggeser ukhrawi menjadi bisnis duniawi atau sudah menjual khutbahnya.

Apakah bukan berarti terkait dengan orientasinya yang sudah berubah?

Orientasinya tergantung ulamanya, kalau dia sudah me-manage acara dakwahnya seperti seorang manajer yang me-manage jadwal artisnya maka dia sudah menggeser kegiatan dakwah yang mestinya ibadah menjadi sebuah entertainment atau profesi yang menghasilkan uang. Ini memang ada, kita tidak bisa menutup mata dan juga ada ribuan da’i di pedalaman yang ikhlas dan tidak pernah dapat gaji, namun kondisi seperti ini tidak pernah terekspos oleh media.

Ada hadis Rasulullah yang mengatakan jika ulamanya baik maka masyarakatnya baik. Saat ini kondisi masyarakat sedang tidak baik, apakah ini juga berarti kondisi ulamanya juga tidak baik?

Oh ya, ulama juga sedang tidak baik. Ulama itu ada dua yaitu ulama khair dan ulama su’ atau ulama baik dan ulama yang menjual ayat, mencari duniawi atau memupuk kekayaan dari dakwahnya. Kalau ulama su’ ini lebih banyak maka kondisi umatnya pun menjadi rusak. Ada hadis Rasululullah SAW yang lain ” lâ ta’ murunna bil ma’ruf walâ tan hauna ’anil munkar au lâ yusallithanna ’alaikum shirâtakum fajâ`a akhyârakum wa da’allaha fallâ yustajâbu lakum” kalian harus selalu amar ma’ruf nahi munkar jika tidak maka Allah akan pilih penguasa yang paling jelek diantara kalian kemudian datanglah orang-orang yang paling baik namun Allah tidak akan mengabullkan. Da’i yang tidak mau amar ma’ruf nahi munkar bisa mendatangkan kepemimpinan yang rusak. Dakwahnya hanya menghibur supaya dipanggil lagi. Dia tidak mau menyampaikan sesuatu yang beresiko ”katakanlah yang benar walau pahit”. Nah dia tidak mengatakan yang seperti itu karena jika dia mengatakannya maka resikonya, dia tidak akan diundang lagi.

Solusinya?

Ulamanya harus berperilaku dan berkepribadian ulama dalam arti yang sebenarnya karena al-’ulamâ` waratsat al-anbiyâ, ulama adalah pewaris Nabi dan yang diwariskan Nabi adalah akidah, ibadah, akhlak dan berani menanggung resiko, dakwahnya aktif, dilakukan hanya karena Allah bukan yang lain. Lihat saja Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Isa bahkan Nabi Muhammad sampai dikejar-kejar bahkan mau dibunuh. Kalau shalatnya saja tidak pernah jamaah, namun tablighnya menggebu-gebu tentu tidak akan berpengaruh dan bisa merubah keadaan.

Berarti ulama sangat berperan untuk membentuk karakter masyarakat?

Iya, jadi memang ulama ini punya kewajiban untuk merubah dari yang hitam menjadi yang putih, dari yang gelap menjadi terang dan dari masyarakat yang biadab menjadi beradab.

Apakah kurangnya pengaruh ulama saat ini terkait dengan tidak efektifnya pengkaderan yang dilakukan lembaga atau ormas Islam?

Ormas Islam itu lembaga duniawi atau ukhrawi? kalau dia lembaga duniawi berarti dia sama dengan PT yang tergantung dari modal atau manajemennya. Namun jika ormas Islam itu ukhrawi bukan duniawi maka ormas itu akan mempunyai anggota seperti jamaah dalam sholat. Ada imamnya, apapun yang dilakukan pasti diikuti. Semuanya berada dalam satu barisan dan keadaannya suci. Bahkan imam salah pun dan sujud sahwi jamaah dibelakangnya pun akan mengikuti. Tapi ormas? Kalau ormas tergantung kepentingan. Pekerjaan duniawi bisa menjadi syarat dengan nilai ukhrawi dan pekerjaan ibadah bisa menjadi duniawi. Ormas itu kan duniawi, karena dia Islam maka harus mempunyai semangat ukhrawi. Pemimpinnya ikhlas semua untuk kepentingan Islam.

Sosok ulama fenomenal adalah Buya Hamka, bagaimana pandangan Kyai tentang beliau?

Buya Hamka adalah ulama pewaris Nabi, karena ilmunya bukan berasal dari sekolah formal, otodidak seperti Sahabat Nabi. Ciri-ciri ulama adalah berilmu, shaleh, mujahid dan ikhlas, serta mampu berjihad atau berjuang dengan mengerahkan seluruh potensi, jiwa raga termasuk harta. Semua sifat itu ada pada diri Buya Hamka. Dia adalah sosok yang pandai ceramah, menulis, bahkan tetap mengajar sampai akhir hayatnya.Buya Hamka juga pernah memimpin perang gerilya di Medan, berjihad dalam arti sebenarnya. Bahkan dia pernah menyampaikan kebenaran dengan resiko dipenjara ketika Orde Lama. Beliau juga sosok yang konsekuen, karena tidak mau merubah fatwa perayaan natalan bersama meskipun harus mundur dari jabatan ketua umum MUI saat itu.

Sosok Buya Hamka bisa menjadi seorang panutan, namun saat ini justru banyak generasi muda yang tidak lagi menjadikan ulama sebagai panutan.

Betul, ulama yang sekarang pun tidak ada koordinasi dalam hal materi, metode dan peta dakwah. Khutbah dan ngajinya masing-masing. Kemudian ada remaja ada yang tidak mengaji, seharusnya ada manajemen dakwah yang setiap remaja itu terdaftar dia ngaji dimana.

Jadi tugasnya siapa untuk mengatasi masalah koordinasi tersebut?

Kalau Pemerintah adalah Departemen Agama, non pemerintah MUI dan jika individual itu ya ulamanya sendiri.

Bagaimana dengan MUI sendiri?

Di MUI seharusnya ada yang bertugas untuk itu, tapi sampai sekarang peta dakwah Indonesia ini seperti apa saja belum jadi. Dakwah itu kan harus merata dan meresap, serendah-rendahnya masyarakat dia harus menerima informasi dakwah. Seperti informasi tentang Al Qiyadah Al Islamiyah sesat, seharusnya informasi itu bisa diterima oleh anak-anak SMA. Namun karena tidak ada koordinasi maka informasi itu bisa jadi tidak sampai. Lembaga sekolah merupakan sarana efektif untuk menyampaikan materi-materi dakwah, sehingga saat ini jam pelajaran agama ditambah dengan tujuan memberikan informasi-informasi dakwah. Sehingga ketika tamat SMA sebagai pemuda yang mukallaf diharapkan mereka bisa mengerti prinsip-prinsip mana wajib, halal dan haram.

Bagaimana tentang kebangkitan umat?

Saya sangat optimis terhadap kebangkitan umat Islam, jangan melihat kebangkitan hanya dalam jangka waktu satu atau dua tahun tapi lihat dalam prespektif 100 atau 1000 tahun yang lalu. Keadaan umat Islam sekarang dengan 20 tahun yang lalu sudah lebih baik. Misalnya dulu yang sekolah di SMU tidak boleh menggunakan jilbab. Mereka harus lepas jilbab atau pindah ke madrasah namun sekarang Pemerintah DKI mewajibkan memakai jilbab. Artinya apa? kebangkitan Islam walaupun merayap dia tetap naik, eksis. Kebangkitan Islam adalah pemberian Allah maka saya optimis, umat Islam sekarang tinggal menerima dan mendukung kemudian mendorongnya supaya bisa terlaksana. Programnya sudah ada dari Allah, Allah memprogram 700 tahun Islam jaya, 700 tahun kemudian Islam jatuh, semua negara Islam dijajah dan 700 tahun ketiga abad ke 15 Islam bangkit lagi dan ini yang ditakuti negara Barat, kafir. Mereka menghabisi negara-negara Islam yang bangkit. Irak dan Afghanistan dihabisi tapi ingat ”makarallâhu….” meskipun Irak dan Afghanistan habis namun banyak warga negara Amerika yang masuk Islam, Qur’an menjadi best seller, di Inggris diusulkan agar hukum syariah dimasukkan kedalam kompilasi hukum Inggris, di Perancis banjir jilbab sehingga akan ada aturan anti jilbab dan di Turki jilbab sudah diperbolehkan. Meskipun banyak negara Islam yang dihancurkan, namun Islam di Eropa dan Amerika semakin meningkat. Bahkan di Jepang setiap harinya ada yang masuk Islam. Kota suci Mekkah tidak pernah dimasuki orang kafir, tapi bagaimana dengan kota suci agama lain? Masjid di Mekah dan Madinah yang kapasitasnya tiga juta orang penuh setiap harinya, mana ada gereja yang seperti itu dan itulah ciri kebangkitan Islam. Umat Islam tinggal menerima dan mendukung, jangan melawan. Syariat Islam meskipun ditentang akan tetap berlaku. ”Itulah kurun waktu yang Aku gilirkan”

BIODATA

Nama Lengkap : KH. A. Cholil Ridwan
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta 1947
Suku : Betawi
Nama Istri : Cicih Asiah
Nama Anak : Ula Randis Asasiyah
Pendidikan : S1 Universitas Islam Madinah Saudi Arabia
Organisasi : Majelis Ulama Indonesia
Dewan Dakwah Islam Indonesia
Aktivitas saat ini : Dakwah
Motto : Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah SWT maka akan dijadikan baginya jalan keluar, dan Allah akan memberikannya rizki dari jalan yang tidak diduga sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × three =