MENANGISLAH UNTUK RAMADHAN!

Sahabat Jabir ibn Abdullah menceritakan sebuah hadits, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika Ramadhan berakhir, maka menangislah langit dan bumi serta malaikat karena meratapi musibah yang diderita ummat Muhammad”. Para sahabat serentak bertanya, “Musibah apakah itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Kepergian bulan Ramadhan karena selama bulan Ramadhan, seluruh amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, semua doa dan permohonan dikabulkan, dan Allah menjauhkan siksaan“.

 

Sahabat Jabir ibn Abdullah menceritakan sebuah hadits, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika Ramadhan berakhir, maka menangislah langit dan bumi serta malaikat karena meratapi musibah yang diderita ummat Muhammad”. Para sahabat serentak bertanya, “Musibah apakah itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Kepergian bulan Ramadhan karena selama bulan Ramadhan, seluruh amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, semua doa dan permohonan dikabulkan, dan Allah menjauhkan siksaan“.


Jika kita dalami, renungi hadits di atas dengan memperhatikan realitas yang ada, maka tangisan langit, bumi dan malaikat adalah juga tangisan penyaksian atas paradoks amal-amal ibadah sebagian besar umat Rasulullah saw. selama dan setelah Ramadhan, di antaranya yaitu:

1. Di awal Ramadhan, umat ini begitu semangat memakmurkan masjid, bukan hanya pada shalat tarawih, tapi juga shalat subuh yang shaf-shaf shalat penuh dengan jama`ah. Namun langit, bumi dan malaikat menyaksikan, setelah Ramadhan, shalat subuh di masjid hanya diisi oleh segelintir orang, yang memang hatinya sudah terpaut dengan masjid, sampai Ramadhan datang kembali.

2. Di Ramadhan, mushaf-mushaf Al-Qur`an dibeli atau diambil dari tempat penyimpanan, dibersihkan dari debu, dibuka dan dibaca dengan semangat. Lembar demi lembar habis dibaca atau disimak, namun setelah Ramadhan, mushaf tertutup kembali sampai Ramadhan kembali lagi.

3. Umat begitu dermawannya, tidak segan-segan memberi makan para fakir miskin dan orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Anak-anak yatim pun kebanjiran rezeki dan perhatian yang sangat-sangat jauh berbeda jika Ramadhan telah berlalu.

Mengapa paradoks-parodoks ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah karena sebagian besar umat Islam, yang menjadi aktor paradoks tersebut, disadari atau tidak tidak, telah menjadikan Ramadhan layaknya tempat pesugihan. Mereka ingin sugih, ingin kaya pahalanya dan mereka tahu bahwa hanya di bulan Ramadhan kekayaan itu dapat dikeruk sebanyak-banyaknya. Maka, apapun amal ibadah yang dapat menambah kekayaan tersebut, selama masih di Ramadhan, mereka kerjakan. Mereka tidak terlalu bersedih, bahkan tidak bersedih sama sekali, dengan berlalunya Ramadhan karena mereka yakin amal mereka di satu bulan Ramadhan telah cukup untuk satu tahun. Mereka simpan kembali rapat-rapat semangat ibadah, Al-Qur`an dan kedermawanan untuk pesugihan di Ramadhan yang akan datang. Na`udzubillaah min dzaalik!

Itulah paradoks mereka, semoga kita bukanlah mereka. Karena kita – seperti yang akan diuraikan oleh Dr.KH. Hamdan Rasyid, MA dalam khutbah `Idul Fihtri 1432H di JIC- adalah:

1. Orang-orang yang merasa sedih berpisah dengan Ramadhan, karena selama sebulan penuh telah menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt. Sebagai bulan yang penuh rahmat dan berkah. Ramadhan telah memberikan pengalaman spiritual yang dalam kepada kita dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas keimanan serta peningkatan penghayatan keislaman.

2. Kita adalah orang-orang yang mampu menjadikan setiap bulan seakan-akan adalah Ramadhan, yang mampu menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalam Ibadah Puasa, Qiyamullail, Tadaruss al-Qur’an, Zakat, Infaq dan Shadaqah serta Idul Fitri untuk terwujudnya peradaban Islam di Indonesia, yaitu, sebuah peradaban yang didasarkan pada prinsip-prinsip tauhidu Allah (peng-Esa-an Allah SWT), keimanan, ketaqwaan dan kepasrahan kepada-Nya, karena meyakini bahwa Allah SWT adalah pusat segala-galanya (Theo-centris). Kita bukanlah orang-orang yang meyakini bahwa manusia adalah pusat segala-galanya (antropho-centris) yang memunculkan faham sekularisme, pluralisme dan liberalisme (sipilis) yang sangat menyimpang jauh dari prinsip-prinsip ajaran Islam. Kita adalah orang-orang yang meyakini bahwa peradaban Islam adalah sebuah peradaban yang didasarkan pada kesadaran bahwa hidup dan mati adalah semata-mata untuk mencari ridla Allah SWT. Sebagaimana telah kita ikrarkan secara berulang-ulang setiap kita membaca do’a iftitah dalam shalat yang bersumber dari surat al-An’am ayat 162 : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.

3. Kita adalah bagian dari umat Islam yang beradab dan tengah berjuang mewujudkan Peradaban Islam di Indonesia, khususnya di Jakarta, yang menyadari bahwa masyarakat Jakarta adalah masyarakat yang paling heterogen bila dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Bahkan dapat dikatakan bahwa masyarakat Jakarta adalah miniatur bagi bangsa Indonesia yang plural, di mana berbagai etnis, ras, bahasa, adat, budaya, dan agama ada di Jakarta, termasuk orang asing yang datang dari manca negara. Dengan kondisi Jakarta yang sangat plural semacam itu, kita menjadi sadar dan memberikan kearifan kepada semua pihak, karena tanpa kesadaran dan kearifan hanya akan memancing munculnya berbagai konflik dan benturan kepentingan, yang akan menjadi lahan subur bagi orang-orang tertentu yang ingin memperoleh kepentingan sesaat. Sungguhpun demikian, kita tetap sadar jika dalam kehidupan bermasyarakat yang plural dengan kompleksitas permasalahannya, acapkali terjadi aneka pertentangan, perselisihan, perebutan kepentingan, vested interest dan konflik. kita diajarkan oleh agama kita, bahwa sehebat apapun konflik yang terjadi di antara kita, hendaknya segera dicarikan jalan keluar dan penyelesaian dengan senantiasa mengedepankan semangat ukhuwah (persaudaraan) guna membangun ishlah (perdamaian) di antara sesama kita.

Maka, inilah kita. Kita yang kembali dalam kesucian sebagaimana yang Engkau kehendaki. Ya Allah, kabulkan dan saksikanlah! ****

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Sidang Itsbat Penetapan 1 Syawal, Senin 29 Agustus

Read Next

HALAL BI HALAL, LEBARAN BETAWI DAN INTERKULTURALISME

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 10 =