ALASAN SEDERHANA GUS DUR BOLEHKAN SALAM DIGANTI SELAMAT PAGI

Gus Dur mengizinkan mengganti salam dengan selamat pagi. Ilustrasi foto Gus Dur.

Gus Dur mengizinkan mengganti salam dengan selamat pagi.

JIC, JAKARTA –  KH Abdurrahaman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur merupakan seorang ulama dan tokoh bangsa yang kerap melontarkan humor untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Gus Dur kadang juga beragumentasi dengan humor untuk mematahkan serangan para pengkritiknya.

Dalam buku “ 41 Warisan Kebesaran Gus Dur”, M Hanif Dhakiri, menceritakan saat Gus dur beragumentasi tentang ucapannya soal “assalamamualaikum bisa diganti dengan selamat pagi”.

Saat itu beberapa peserta Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama di Pesantren Krapyak Yogyakarta pada 1989 mengkritik dan meminta Gus Dur mempertanggungjawabkan ucapan tersebut.

Suasana Muktamar pun menjadi agak panas. Namun, dengan jenaka Gus Dur bisa memberikan jawaban yang membuat suasana kembali santai. Menurut Gus dur, para ulama kini sedang memikirkan cara-cara untuk menciptakan kerangka berpikir yang sanggup menampung kebutuhan masa.

Dalam kaitan itulah, menurut Hanif, Gus Dur yakin para ulama NU sudah memasang rem untuk mencegah perluasan wawasan itu, agar jangan sampai menyimpang dari agama.

“Kalau kadang-kadang gasnya saya tancep gitu, karena saya yakin rem para ulama pakem. Saya lakukan itu karena tidak ada yang nge-gas, kalau semua nginjak rem terus, mobilnya gak maju-maju,” katanya. Hadirin pun akhirnya tertawa dan bisa menerima argumentasi Gus Dur tersebut.

Terlepas dari itu, benarkan pernah mengucapkan pendapat tersebut secara langsung?

Jawabannya dapat ditemukan dalam artikel Ahmad Tohari yang berjudul “Kulo Ndherek Gus”. Dalam artikelnya, redaktur Majalah Amanah tersebut menceritakan awal mula dimuatnya berita tentang ucapan Gus Dur itu. Berikut kutipannya:

Adalah Edy Yumaedi almarhum. Suatu siang, pada 1987, wartawan majalah Amanah itu bergegas masuk ke ruang redaksi di Jalan Kramat VI Jakarta. Dengan wajah gembira dia meminta beberapa redaktur, di antaranya saya, mendengar laporannya. Dia baru selesai mewawancarai Gus Dur. Topik wawancaranya adalah pluralitas internal umat Islam Indonesia.

Rekaman wawancara-pun diputar. Intinya Gus Dur mengatakan, kemajemukan di dalam masyarakat muslim di Indonesia sudah menjadi kenyataan sejak berabad lalu. Namun, ujar Gus Dur, kemajemukan itu harus tetap terikat di dalam ukhuwah Islamiyyah atau persaudaraan Islam. 

Gus Dur tidak suka terhadap istilah Islam KTP atau Islam abangan, baginya, semua orang yang sudah bersyahadat dan berkelakuan baik, ya muslim. Mereka yang bertamu masih memberi salam dengan ucapan “kulo nuwun”, “punteun” atau selamat pagi, ya Muslim karena syahadatnya.

“Kalau begitu Gus, ucapan Assalamu’alaikum bisa diganti dengan selamat pagi?”, tanya Edy Yumaedi.

“Ya bagaimana kalau petani atau orang-orang lugu itu bisanya bilang “kulo nuwun”, punteun atau selamat pagi. Mereka kan belum terbiasa mengucapkan kalimat dalam bahasa arab kayak kamu?”.

Begitulah petikan wawancara Gus Dur bersama Edy Yumaedi. Melihat cerita itu, sudah jelas Gus Dur tidak pernah menyatakan secara langsung bahwa ucapan salam bisa diganti dengan selamat pagi.”

 

Sumber : Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

UAS TANGGAPI WACANA KEMENAG SERTIFIKASI PENCERAMAH

Read Next

KEBIJAKAN SERTIFIKASI PENCERAMAH TAK MASUK AKAL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − three =