Home Kabar JIC Ahlan wa sahlan, KH. AHMAD SHODRI HM

Ahlan wa sahlan, KH. AHMAD SHODRI HM

0
1560

Sebagai lembaga non struktural di Pemerintahan Provinisi DKI Jakarta yang melakukan pengkajian dan pengembangan Islam, khususnya di Jakarta, maka sudah seharusnya Jakarta Islamic Centre (JIC) dipimpin oleh orang yang memiliki kapasitas, kapabilitas, kompetensi dan berpengalaman dalam kepemimpinan dan manajemen, mampu menyerap dan mewujudkan aspirasi umat yang idealnya ia juga adalah seorang ulama yang dikenal keulamaannya oleh umat.

Sebagai lembaga non struktural di Pemerintahan Provinisi DKI Jakarta yang melakukan pengkajian dan pengembangan Islam, khususnya di Jakarta, maka sudah seharusnya Jakarta Islamic Centre (JIC) dipimpin oleh orang yang memiliki kapasitas, kapabilitas, kompetensi dan berpengalaman dalam kepemimpinan dan manajemen, mampu menyerap dan mewujudkan aspirasi umat yang idealnya ia juga adalah seorang ulama yang dikenal keulamaannya oleh umat.

Sejak beroperasi dari tahun 2005 sampai tahun 2012 lalu, JIC telah dipimpin oleh tiga orang yang sebutan terakhirnya adalah kepala lembaga, yaitu: Pertama, almarhum Mayjen (Purn.) dr. H. Djailani (2005-2010); kedua, Drs. HM Effendi Anas, M.Si (2010-2011) ; dan ketiga, Drs. H. Muhayat (2011-2012). Ketiganya memang orang-orang yang menguasai kepemimpinan dan manajemen serta mampu memenuhi aspirasi umat. Namun, umat lebih mengenal mereka sebagai mantan pejabat Pemprov. DKI Jakarta yang memahami ke-Islaman, bukan sebagai ulama yang dikenal keulamaannya. Walau ada pengecualian untuk sosok Drs. HM Effendi Anas, M.Si. Mantan Kepala Satpol PP DKI Jakarta yang sebelumnya pernah memimpin JIC selama satu tahun ini sebenarnya ulama karena ia lulusan IAIN yang menguasai ilmu-ilmu ke-Islaman dan seorang yang piawai dalam menyampaikan ceramah. Namun demikian, keulamaannya tidak dikenal umat secara luas.


Idealisme JIC untuk dipimpin oleh seorang ulama yang dikenal keulamannya oleh umat seperti yang diharapkan oleh almarhum Mayjen (Purn.) dr. H. Djailani akhirnya direspon dengan sangat baik oleh Gubernur DKI Jakarta yang baru, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) yang menetapkan seorang ulama Betawi, Drs. KH. Ahmad Shodri HM, melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur sebagai pimpinan JIC untuk masa perpanjangan tahun 2013 s/d 2016. Tentu pilihan Jokowi terhadap dirinya bukan pilihan sembarangan. Ada keistimewaan-keistimewaan di dalam dirinya yang sedikit banyak tergambarkan dari profil singkatnya berikut ini.

Ia mempunyai nama lengkap beserta gelar Drs. KH. Ahmad Shodri HM. Huruf HM di belakang namanya adalah singkatan dari nama bapaknya, Haji Muhir. Ia lahir di Cakung, Jakarta Timur pada tanggal 1 Januari 1953 dari pasangan Guru Haji Muhir bin Fuan dan Hj. Ma`ani binti Salim dan merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ia menikah dengan Hj. Siti Mahwa, BA dan dikaruniai empat orang anak, dua lelaki dan dua perempuan.

Untuk pendidikan agamanya, ia mengaji kepada KH. Ali Syibromalisi, Muallim KH. M. Syafi`i Hadzami dan KH. Hasbiyallah, pendiri dan pemimpin Perguruan Islam A-Wathoniyah Pusat, dan ulama Betawi dan non Betawi lainnya.

Ia menghabiskan masa sekolahnya sampai setingkat aliyah di Al-Wathoniyah Pusat. Lalu, meneruskan pendidikannya ke Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Setelah itu, ia kuliah di IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta atau UNJ), Rawamangun sampai lulus dengan gelar Drs.

Seperti murid-murid KH. Hasbiyallah lainnya, ia pun mendirikan cabang Perguruan Islam Al-Wathoniyah, yaitu Al-Wathoniyah 9 (Yayasan Al-Wathoniyah Ashshodriyah 9) yang didirikan pada tahun 1982 dengan akta notaris Ny. S. Kamariah Suparwo, SH pada tanggal 7 Agustus 1985.

Pada saat awal berdiri, yayasan ini menggeluti bidang pendidikan formal, yaitu : Madrasah Diniyah, Tahun 1982, TK Al Wathoniyah 9, Tahun 1982 s/d sekarang, MTs Al Wathoniyah 9, Tahun 1983, MA Al Wathoniyah 9, Tahun 1984, SMA Yapenwa 9, Tahun 1984, SMEA Yapenwa 9, Tahun 1984, SD Al Wathoniyah 9, Tahun 1986 s/d sekarang, SMP Al Wathoniyah 9, Tahun 1988 s/d sekarang, SMK Dinamika Pembangunan 1 Jakarta, Tahun 1994 s/d sekarang, SMK Dinamika Pembangunan 2 Jakarta, Tahun 1996 s/d sekarang.

Sedangkan kegiatan sosial kemasyarakatan dari yayasan ini adalah Pengajian Anak-anak sejak tahun 1979 s/d sekarang, Majelis Taklim Kaum Bapak & Ibu sejak tahun 1980 s/d sekarang, KBIH Sejak tahun 1983 s/d sekarang, Pondok Pesantren sejak tahun 1980 s/d sekarang, Santunan Anak Yatim Piatu & Fakir Miskin dari awal berdiri s/d sekarang

Di bawah Kepemimpinan Drs. KH. A. Shodri HM, Saat ini yayasan Al-Wathoniyah 9 memiliki peserta didik kurang levih 5000 orang dari tingkat TK s/d SMK Dinamika Pembangunan 1-2 Jakarta setiap tahunnya.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Umum FUHAB, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Timur, salah seorang pimpinan di PW NU DKI Jakarta, dan jabatan-jabatan lainnya di berbagai organisasi dan istansi.

Akhirulkalam, dari paparan profil singkatnya di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ia bukan hanya seorang ulama dan guru. Ia juga seorang manajer dan organisatoris taguh. Maka, wajarlah jika Gubernur DKI Jakarta memilihnya untuk memimpin JIC selama tiga tahun ke depan. Maka, Keluarga Besar JIC mengucapkan, Ahlan wa sahlan, Pak KH. Ahmad Shodri HM, Kepala Lembaga JIC yang baru. Selamat berjuang agar JIC menjadi salah satu pusat peradaban Islam dunia. Kami berjuang bersamamu.” ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 3 =