.: Oleh : Prof. Azyumardi Azra MA, M.Phil, Ph.D :. Kita patut berbahagia karena Insya Allah berhasil dalam perjuangan mengendalikan hawa nafsu selama berpuasa dan melakukan berbagai ibadah mulai shalat tarawih, tadarrus, itikaf di masjid sampai menunaikan zakat.
FITRAH, KEDAMAIAN DAN UKHUWAH ISLAMIYAH:
Pilar-pilar Peradaban Umat-Bangsa
Prof. Azyumardi Azra M.A., M.Phil, Ph.D.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر9×،،،
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. الحمد لله الذي جعل أيام الأعياد ضيافة لعباده الصالحين. وجعل في قلوب المؤمنين بهجة وسرورا. أشهد أن لاإله إلاالله وحده لا شريك له الذي جعل الجنة ضيافة كبري. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الذي الداعي إلي تلك الضيافة جميع العالمين. اللهم صل و سلم و بارك علي محمد وعلي أله وأصحابه وكل عبد إلي طاعة الله مجاهدين. اما بعد:
فقد قال الله في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم. قد أفلح من تزكي وذكراسم ربه فصلي.
Jama`ah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah
Pada pagi ini, 1 Syawal 1431H/2010, alhamdulillah kita dapat melaksanakan ibadah Idul Fitri dalam keadaan sehat wal-afiat lahir batin setelah sebulan Ramadhan menjalankan ibadah puasa. Dalam kesempatan penuh nikmat ini marilah kita menyatakan puji syukur dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Kita juga perlu terus meningkatkan ketaqwaan, supaya ibadah puasa yang telah kita laksanakan dapat mencapai tujuannya, khususnya pada masa pasca-puasa. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah menyampaikan ajaran kedamaian Islam rahmatan lil-`alamin yang menjadi dasar dan asas peradaban Islam di muka bumi ini
ألله أكبر، ألله أكبر، ألله أكبر، ولله الحمد
Kita patut berbahagia karena Insya Allah berhasil dalam perjuangan mengendalikan hawa nafsu selama berpuasa dan melakukan berbagai ibadah mulai shalat tarawih, tadarrus, itikaf di masjid sampai menunaikan zakat. Sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, di hari bahagia ini kita hendaknya mengumandangkan takbir dan mengerjakan shalat sunnah. Inilah yang dinyatakan Allah SWT dalam firman-Nya:
قد افلح من تزكي وذكر اسم ربه فصلي
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu ia bersembahyang.” (Q.S. al-A’laa, 87:14-5)
Khutbah Hari Raya Idul Fitri kali ini ingin menyegarkan kembali makna yang terkandung dalam fitrah manusia dan perspektif Islam tentang kedamaian dan ukhuwwah, khususnya ukhuwwah Islamiyyah. Ketiga hal ini merupakan faktor penting dalam membangun (kembali) peradaban Islam.
Hari ini kita merayakan kemenangan menjadi seorang ‘fitri’; kembali kepada ‘fitrah’ (kesucian), sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya;
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menjadikan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS al-Rūm/30: 30).
Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah;
اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ، وَ للهِ الْحَمْدُ
Pada kesempatan kembali kepada fitrah tersebut secara individual-personal, setiap Muslimin dan Muslimat berkewajiban memperluas kesucian itu ke tingkat sosial kemasyarakatan. Ini dapat dilakukan dengan saling meminta dan memberi maaf satu sama lain, sehingga hubungan sesama Muslim (ukhuwwah Islamiyyah) dan sesama manusia (ukhuwwah insaniyyah) menjadi penuh kesucian. Allah SWT berfirman:
ِإنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم
“ Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurât/49:10).
Kata ‘ukhuwwah’ dalam istilah tersebut pada mulanya terambil dari akar kata yang berarti ‘perhatian’. Dengan adanya ‘perhatian’ dari masing-masing pihak yang bersaudara, kemudian berkembang menjadi adanya pandangan ‘persamaan’ (commonalities) dan ‘keserasian’ di antara pihak-pihak yang bersaudara. Makna ‘ukhuwwah’ mengandung kesan, bahwa persaudaraan memerlukan ‘perhatian’ dari semua pihak, yang melahirkan ‘kesamaan’ dan ‘keserasian’. Jadi, arti substantif dari kata ‘ukhuwwah’ adalah ‘perhatian’, ‘persamaan’, dan ‘keserasian’; semuanya ini mengandung makna memperkokoh tali persaudaraan dan kasih sayang (silaturahim).
Kiranya juga perlu diingat, Allah SWT seolah sengaja tidak menciptakan makhluk-Nya dalam persamaan tunggal monolitik. Umat manusia beragam, berbeda satu sama lain. Ini kenyataan dan keniscayaan yang tidak berubah sepanjang masa, karena merupakan ‘takdir’ Allah SWT bagi makhluk-Nya. Di dalam Al-Quran, Allah SWT menegaskan:
وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Namun, mereka akan tetap berselisih (pendapat).” (QS. Hûd/11: 118-119).
Karena persamaan dan perbedaan di antara umat manusia merupakan sunnatullah yang tidak bisa dibantah dan diubah, kita perlu menyikapinya secara bijaksana. Perbedaan-perbedaan yang ada hendaknya jangan menimbulkan perselisihan, apalagi permusuhan dan peperangan, yang pasti berakhir dengan kesengsaraan. Bila perbedaan disikapi dengan bijak, ia menjadi rahmat Allah SWT yang dapat mengantarkan ke dalam kebahagiaan. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Ikhtilâfu ummatî rahmatun” (perbedaan antar-umatku adalah rahmah). Keterbukaan dan kesediaan menerima persamaan, tapi juga perbedaan, dengan rahmat Allah itu merupakan pula pangkal persaudaraan, yaitu ukhûwwah Islâmiyyah.
Para ulama menjelaskan ikhwal ‘ukhuwwah’, dengan kandungan dan konotasi beragam. Pertama, ukhuwwah fî al-‘ubûdiyyah (persaudaraan dalam ‘ibadah). Kedua, ukhuwwah fî al-insâniyyah (persaudaraan sesama manusia). Ketiga, ukhuwwah fî al-wathâniyyah wa al-nasab (persaudaraan kebangsaan dan keturunan). Keempat, ukhuwwah fî dîn al-Islâm (persaudaraan antar-seagama Islam).
Adapun istilah ukhuwwah Islâmiyyah juga memiliki arti beragam. Antara lain, ukhuwwah Islâmiyyah bisa berarti ‘persaudaraan antar-sesama Muslim’; atau ‘persaudaraan bersifat Islam’; dan ‘persaudaraan secara Islam’. Ada pula yang mengartikan ukhuwwah Islâmiyyah sebagai ‘persaudaraan berdasarkan iman’. Terlepas dari perbedaan konotasi, ukhuwwah Islamiyyah merupakan salah satu ajaran pokok Islam yang harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ukhuwwah Islâmiyyah sangat dibutuhkan umat Islam, termasuk di Indonesia khususnya. Tidak jarang perbedaan pendapat di kalangan umat Islam menimbulkan konflik dan bahkan kekerasan intra-umat Islam, yang penyelesaiannya bisa sangat rumit. Karena itu, tema ukhuwwah Islâmiyyah ini perlu dan selalu relevan kembali diingatkan, sehingga ukhuwwah Islâmiyyah dapat selalu terjalin di antara umat Islam sendiri, yang kemudian diwujudkan lebih luas menjadi ukhuwwah wathaniyyah, persaudaraan sebangsa; dan sekaligus ukhuwwah insaniyyah, persaudaraan sesama manusia.
Uswah hasanah berdasarkan ukhuwwah Islâmiyyah dalam dilihat pada teladan sikap kedamaian dan toleransi Nabi Muhammad SAW ketika membangun masyarakat multi-agama dan multi-kultural di Madinah. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW kita melihat, kerukunan dan kedamaian antara sesama manusia atau komunitas merupakan syarat mutlak membangun kehidupan dan peradaban (civilizations). Tanpa pilar-pilar seperti itu, tidak mungkin membangun peradaban yang maju.
Itulah sebabnya, ketika Rasulullah SAW membangun kota Madinah yang semula bernama Yatsrib hal pertama yang beliau lakukan adalah menyatukan kaum Muhajirun dan kaum Anshar; selanjutnya mendamaikan berbagai kelompok Arab, Yahudi dan Nasrani yang dulunya bertikai. Untuk menjamin perdamaian di antara berbagai kelompok majemuk dan pluralistik tersebut, Rasulullah membuat perjanjian dengan mereka yang dikenal sebagai Piagam Madinah (al-Mîtsāq al-Madînah).
Teks piagam tersebut berdasarkan ajaran al-Qur’an menyatakan pentingnya kemanusiaan dan ikatan sosial di antara umat manusia yang berbeda; dan pentingnya mewujudkan persaudaraan, persatuan, dan kerjasama dalam kehidupan sosial guna mencapai tujuan bersama. Selanjutnya untuk mewujudkan persatuan dan persaudaraan, Piagam Madinah mencantumkan hak dan kewajiban masing-masing komunitas, kesetaraan kemanusiaan, yang terdiri dari kesetaraan hak hidup, hak keamanan diri, hak membela diri, tanggung jawab dalam mewujudkan perdamaian dan pertahanan, serta kesetaraan hak dalam memilih agama dan keyakinan masing-masing. Karena substansinya yang demikian lengkap, seperti disimpulkan Robert N. Bellah, seorang sosiolog agama, Piagam Madinah sangat moderen.
Sikap dan langkah Nabi Muhammad SAW ini juga disinggung al-Quran, yang menyebutkan kepribadian Rasulullah yang penuh perhatian, pengertian, toleran, dan lapang dada menerima persamaan dan perbedaan. Dalam Kitab Suci-Nya, Allah berfirman :
“Dan dengan adanya rahmat dari Allah, maka engkau (Muhammad) bersikap lunak (lemah lembut) kepada mereka. Seandainya engkau kasar dan keras hati, maka pastilah mereka akan menyingkir dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohon ampunan bagi mereka, dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam urusan (keduniaan). Dan, bila engkau telah berketetapan hati, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 159).
Itulah salah contoh dari Rasulullah dalam membangun ukhuwwah insâniyyah, ukhuwwah wathâniyyah, dan ukhuwwah Islâmiyyah. Di dalam praktek aktual Rasulullah SAW dan ayat al-Qur’an tersebut, terlihat prinsip-prinsip penting untuk menerima persamaan dan perbedaan. Antara lain, prinsip lemah lembut, tidak kasar dan keras hati, memaafkan, memohon ampunan, musyawarah; dan bila kesepakatan sudah mantap dan bulat, selanjutnya bersikap tawakal. Dari sinilah perdamaian dan kedamaian baik sesama umat Islam maupun dengan umat-umat lain dapat tercipta dan terpelihara.
Jama`ah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah
اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ، وَ للهِ الْحَمْدُ
Salah satu missi utama kedatangan Islam di muka bumi ini adalah menyebarluaskan rasa kasih sayang, kerukunan dan kedamaian, tidak hanya sesama manusia, tetapi juga pada makhluk-makhluk Allah lainnya, seperti binatang (fauna), tumbuh-tumbuhan (flora) dan jamadat. Hal ini mutlak karena untuk kelangsungan dan kebutuhan hidupnya, manusia satu sama lain saling membutuhkan; juga antara manusia dengan lingkungannya. Karena itu tidak patut jika manusia satu sama lain tidak berusaha mewujudkan perdamaian dan kedamaian. Misi perdamaian dan kedamaian Islam bahkan tercermin dalam kata ‘Islam’ itu sendiri yang berarti selamat, sejahtera, aman dan damai.
Tetapi menyatakan Islam berarti ‘salam’ (damai) saja tidak cukup. Setiap individu Muslim juga harus membuktikan lewat amal perbuatan; bahwa Islam dan kaum Muslimin cinta damai dan mengorientasikan diri menuju ke “Dār al-Salām” dengan cara damai pula. Menegakkan amar ma`ruf nahyi munkar merupakan perintah Islam; tetapi nahyi munkar harus dilakukan dengan ma`ruf, yakni cara yang baik, damai, persuasif, hikmah, kebijaksanaan dan pengajaran yang baik; bukan dengan cara mungkar, seperti pemaksaan, kekerasan, apalagi terorisme.
Memang ada segelintir orang yang kebetulan beragama Islam melakukan kekerasan dan ‘terorisme’, yakni ‘aksi kekerasan yang tidak konvensional guna menciptakan rasa ketakutan meluas dalam masyarakat dan menimbulkan korban secara tidak pandang bulu (indiscriminate)’. Pelaku aksi terorisme sering mengklaim tindakannya sebagai “jihād fî sabîlillāh”; justifikasi keagamaan ini atas tindakan kekerasan jelas keliru. Karena seluruh ulama sepakat, jihad sah hanya sebagai usaha ‘bela diri’ (difā`i), bukan agresi (ibtidā’i) yang melewati batas. Jihad yang sah hanya bisa dimaklumkan para pemimpin dan ulama yang otoritatif, bukan oleh segelintir orang. Bahkan jika jihad terpaksa dimaklumkan, itupun tidak boleh dilakukan karena kemarahan dan kebencian yang membuat para pelakunya mengabaikan keadilan. Firman Allah SWT:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-Baqarah 2:190).
Selanjutnya Allah SWT juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Ma’idah 5:8).
Karena itu, untuk membuktikan Islam sebagai agama perdamaian, setiap Muslim harus damai di dalam dirinya sendiri, tidak dikuasai hawa nafsu kemarahan dan kebencian. Untuk berdamai dengan dirinya, setiap Muslim harus hidup damai dengan Allah SWT, dengan sepenuhnya menyerahkan diri (taslim) kepada Allah. Ia harus meninggalkan hawa nafsu angkara murka, merasa paling benar sendiri, dan memaksa orang lain dengan kekerasan untuk tunduk kepadanya. Hanya dengan mewujudkan perdamaian di dalam diri masing-masing, perdamaian dan kedamaian di antara manusia dan lingkungan hidup dapat diciptakan; tanpa kedamaian internal masing-masing, tidak ada kedamaian eksternal. Di sinilah terletak relevansi firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَّعَ إِيمَانِهِمْ
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan, kedamaian (sakinah) ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah, di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS al-Fath 48:4).
ألله أكبر، ألله أكبر، ألله أكبر، ولله الحمد
Fitrah, ukhuwwah dan kedamaian, sekali lagi merupakan pilar-pilar utama bagi terwujudnya peradaban yang maju dan mulia. Sebaliknya, kekacauan dan anarki mengakibatkan terganggunya kehidupan sehari-hari sehingga tidak memungkinkan terwujudnya peradaban umat-bangsa. Sebab itulah para ulama fiqh siyasah (politik) sependapat menolak kekacauan dan anarkime atas alasan apapun. Bagi para ulama fiqh siyasah, ketidaktertiban dan ketiadaan hukum, kekacauan dan anarkisme selain mengganggu pelaksanaan ibadah, sekaligus mengakibatkan lumpuhnya kehidupan dan peradaban.
Dengan memahami dan mengamalkan pesan spiritual yang hakiki dan substansial dalam ajaran Islam tentang fitrah, ukhuwwah, perdamaian dan kedamaian, insya Allah umat dan bangsa Indonesia pada waktunya dapat membangun peradaban yang tinggi dan mulia. Dengan posisinya sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di muka bumi ini, kaum Muslimin Indonesia memikul amanah besar dan mulia dalam berdiri di depan memajukan peradaban umat-bangsa dan kemanusiaan universal.
Untuk mengakhiri khutbah ini, marilah kita berdoa dengan hati yang khusyu’ dan pikiran yang jernih, memohon kepada Allah SWT agar kita dapat memelihara fitrah kita, dapat memperkuat ukhuwwah dan mewujudkan perdamaian dan kedamaian untuk membangun peradaban umat-bangsa yang maju dan mulia.
الحمد لله رب العالمين. حمدا يوافي نعامه ويكافي مزيده. ياربنا لك الحمد. كما ينبغي لجلال وجهك الكريم وعظيم سلطانك. اللهم صل علي محمد وعلي ال محمد،،،
Ya Allah ya Tuhan kami, pada hari ini kami datang menyatakan puji dan syukur kepada-Mu, serta memohon ampunan atas berbagai kesalahan yang kami perbuat, kesalahan kedua orang tua kami, saudara-saudara kami, dan para pemimpin kami.
Ya Allah Yang Maha Gagah, Kuat lagi Perkasa, berikanlah kegagahan dan keperkasaanmu kepada kami, sehingga kami dapat mengatasi berbagai hambatan dan tantangan yang kami hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Yaa Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Limpahkanlah ‘inayah dan kasih sayang-Mu kepada kami, sehingga kami dapat memelihara fitrah kami; mampu memperkuat ukhuwwah dan mewujudkan perdamaian dan kedamaian guna membangun peradaban yang maju dan mulia di tanahair Indonesia tercinta ini.
Ya Allah Yang Maha Mendengar. Dengarkan dan kabulkanlah permohonan kami ini.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار،،،
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
LAFADZ TAKBIR ‘IDUL FITRI
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،،،
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, hanya untuk Allah segala pujian.
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَِللهِ الْحَمْدُ.
Sungguh Allah Maha Besar. Pujian yang banyak hanya untuk Allah dan Maha Suci Dia setiap pagi dan petang. Tidak ada tuhan selain Allah, kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya, dengan mengikhlaskan beragama hanya untuk-Nya, meskipun orang-orang musyrik membencinya, meskipun orang-orang munafik membencinya, meskipun orang-orang kafir membencinya. Tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan tentaranya, dan mengalahkan golongan-golongan lain dengan kekuatan-Nya sendiri. Tidak ada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, hanya untuk Allah segala pujian.
BIODATA SINGKAT
Nama : Prof. Azyumardi Azra M.A., M.Phil, Ph.D.
Lahir : Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat, 4 Maret 1955
Pekerjaan : Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Istri : Ipah Fariha (Menikah: 13 Maret 1983)
Anak : Raushanfikri Usada, Firman El-Amny Azra, Muhammad Subhan Azra, dan Emily Sakina Azra
Pendidikan:
* Fakultas Tarbiyah, IAIN Jakarta, 1982
* Master of Art (MA), Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah, Columbia University, 1998
* Master of Philosophy (Mphil), pada Departemen Sejarah, Columbia University, tahun 1990
* Doktor Philosophy Degree, tahun 1992
Karier:
* Wartawan Panji Masyarakat (1979-1985)
* Dosen Pascasarjana Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (sejak 1992)
* Guru Besar Sejarah Fakultas Adab UIN Jakarta
* Pembantu Rektor I IAIN Jakarta (1998)
* Rektor IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1998-2006)
* Diretur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sejak 2006)
* Professor Fellow di Universitas Melbourne, Asutralia (2004-2009)
* Anggota Dewan Penyantun (Board of Trustees) International Islamic University Islamabad, Pakistan (2004-2009)
Penghargaan: Penulis Paling Produktif, dari Penerbit Mizan, Bandung, tahun 2002









