.: Oleh : KH. Ma’ruf Amin :. Hari ini, harus kita jadikan momentum untuk melakukan perbaikan dalam semua hal serta untuk melakukan perubahan-perubahan dalam menyongsong hari esok yang lebih baik. Hari ini, kita jadikan sebagai hari Taubatan Nasuha terhadap kesalahan yang kita lakukan,
baik kesalahan yang bersifat pribadi maupun kesalahan yang bersifat sosial. Semoga Allah menerima taubat kita dan membimbing kita ke jalan yang diridhaiNya.
الله أكبر (×9) لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده. لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.
الحمد لله حاكم الحكَّام، جاعل النور والظلام، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الذى جعل هذا اليوم عيدًا للإسلام، وحرَّم علينا فيه الصيام، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدًا عبده ورسوله سيد الأنام ومصباح الظلام، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه الكرام، صلاة وسلامًا دائمَين متلازمَين على ممرِّ الدهور والأيام.
أمَّا بعدُ، فيا عباد الله اتَّقوا الله وأطيعوا وكبِّروه تكبيرا. الله أكبر (×3) لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.
Kaum muslimin wal muslimat, ‘aidin wal ‘aidat rahimakumullah.
Sejak tadi malam, terdengar gema takbir, tahlil, dan tahmid membahana di angkasa, menyambut kehadiran Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Syukur Alhamdulillah, kita dapat bertemu dengan Hari Raya yang mubarok ini. Hari ini, kita semua layaknya seperti pahlawan yang kembali dari medan perang dan telah berhasil memenangkan pertempuran. Karena kita telah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh.
Hari raya Idul Fitri tahun ini alhamdulillah berlangsung ketika kita rakyat dan bangsa Indonesia baru saja melewati fase penting kehidupan kebangsaan kita, yakni pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, pemilu yang sempat menaikkan suhu politik di negeri ini telah berlangsung dengan baik dan tertib. Sebagai agenda konstitusional bangsa, pemilu legislatif dan pemilu presiden merupakan agenda penting nasional untuk memilih pemimpin negeri ini untuk masa lima tahun mendatang. Adanya pemimpin merupakan prasyarat bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik. Sebagaimana diisyaratkan oleh nabi kita Muhammad SAW yang menganjurkan kepada kita untuk menentukan pemimpin, sekalipun dalam rombongan kecil:
” إذا كنتم ثلاثة في سفر فليؤمكم أحدكم”
“jika kalian bertiga dalam bepergian, maka angkatlah pemimpin di antara kalian”
Sedangkan dalam lingkup yang lebih besar seperti dalam lingkup negara maka adanya pemimpin merupakan suatu hal yang harus dilaksanakan. Dalam konteks ini Imam Ali Karramallahu wajhah, sebagaimana disitir oleh Ibnu Taimiyah menyebutkan:
” ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان “
“Enam Puluh Tahun (di bawah) pemimpin yang sewenang-wenang lebih baik daripada satu malam tanpa (adanya) pemimpin”
Oleh karena itu para ulama sepakat bahwa mengangkat pemimpin, apalagi pemimpin sebuah bangsa besar seperti Indonesia, hukumnya adalah wajib. Sebagaimana yang disampaikan oleh al-Imam al-Mawardi :
الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا ، وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ
“Kepemimpinan (al-imamah) merupakan tempat pengganti keNabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia, dan memilih orang yang menduduki kepemimpinan tersebut hukumnya adalah wajib menurut ijma’”
Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa dalam beberapa bulan terakhir, energi dan perhatian bangsa ini terkuras demi mensukseskan agenda lima tahunan tersebut. Rakyat di negeri ini pun dalam beberapa bulan terakhir telah terfragmentasi dan terkotak-kotak dalam berbagai kelompok yang berbeda pilihan politiknya, warna bendera, tanda gambar, dsb.
Dalam beberapa bulan terakhir ini kita bangsa Indonesia dihadapkan pada sebuah kenyataan adanya hiruk-pikuk kontestasi politik antar masing-masing calon. Lalu-lalang jargon dan kampanye politik kita temukan hampir di setiap tempat di negeri ini. Tidak jarang dalam melakukan kontestasi dan persaingan, tim kampanye masing-masing calon melakukan persinggungan yang sangat tajam terhadap calon yang lain, sehingga berakibat terjadinya polarisasi yang sangat tajam antar pendukung masing-masing calon. Tentu saja kondisi seperti ini apabila berlangsung lama dan terus-menerus akan menjadi kurang baik bagi kehidupan kebangsaan kita.
Dalam konteks hari raya Idul Fitri inilah diharapkan kita segenap komponen bangsa, siapapun dia, tidak peduli warna bendera dan tanda gambarnya, tidak peduli pilihan politiknya, harus bisa saling memaafkan satu di antara yang lainnya, saling berupaya untuk merajut benang persaudaraan antar sesama anak bangsa yang mungkin selama masa pemilu terkoyak gara-gara berbeda pilihan politiknya. Moment hari raya Idul Fitri ini merupakan saat yang paling tepat bagi setiap komponen bangsa untuk melakukan rekonsiliasi secara nasional, saling bahu-membahu demi kepentingan pembangunan bangsa dan negara ini.
Ma’asyiral- muslimin wal muslimat, ‘aidin wal ‘aidat rahimakumullah.
Selain itu, pada tahun ini kita umat Islam di Indonesia juga merasa menjadi “tertuduh” akibat ulah segelintir orang yang tidak bertanggungjawab yang dicap sebagai penebar teror. Akibat perbuatan satu-dua orang yang melakukan perbuatan biadab meledakkan bom di Jakarta, umat Islam di Indonesia lainnya merasakan dampak buruknya. Seiring dengan semangat dari aparat kepolisian melakukan operasi pembasmian sel-sel terorisme, terjadi ekses-ekses yang berdampak pada aktifitas da’wah Islamiyah. Padahal kalau dilihat secara jernih, perbuatan terorisme tersebut bukanlah merupakan watak dan karakter umat muslim di Indonesia. Terorisme merupakan fenomena baru yang merupakan impor dari luar negeri. Selama beberapa ratus tahun umat Islam di Indonesia tidak mengenal adanya terorisme.
Para ahli menyatakan bahwa terorisme ini akar muasalnya adalah adanya distorsi dalam pemahaman keagamaan, lebih khusus lagi karena adanya pemahaman terhadap teks-teks keagamaan (al-manhaj fi fahmi an-nushus as-syar’iyah) yang menyimpang. Apabila kita runut, setidaknya ada dua sebab kenapa sampai muncul pemahaman menyimpang tersebut :
Pertama, karena adanya pemahaman keagamaan yang hanya didasarkan atas makna literer dari dalil-dalil keagamaan, baik al-Quran ataupun al-Hadis. Pemahaman terhadap dalil syar’i hanya dengan menggunakan pendekatan literer ini membahayakan, karena dapat menggelincirkan seseorang dalam kesalahan pemahaman nash. Karena dalam pengambilan suatu hukum dari dalil-dalil syar’i (istinbath al-hukm) harus melewati seperangkat metodologi yang telah diformulasikan oleh para ulama. Apabila pemahaman terhadap nash ini dipaksakan dengan mempergunakan cara pemahaman literer, apalagi kalau sepotong-sepotong dan tidak menyeluruh, serta tidak diimbangi dengan penguasaan yang mendalam terhadap nash-nash syar’i yang ada, maka pemahaman ajaran keagamaan yang seperti ini sangat berpotensi untuk terdistorsi yang akhirnya menyimpang dari tuntunan yang benar. Karena pemahaman terhadap nash secara literer dan parsial cenderung bisa menyesatkan, dan dikhawatirkan akan timbul pemahaman yang ekstrim (tatharruf) dalam menyimpulkan hukum.
Kedua, pemahaman keagamaan bisa mengalami penyimpangan juga disebabkan oleh adanya pemahaman ajaran agama yang menggunakan cara liberal. Liberalisme dalam memahami agama ini mempunyai prinsip bahwa setiap orang berhak menafsiri teks-teks yang ada dalam al-Quran dan al-Hadis. Kedudukan antara para ulama yang telah menulis berjilid-jilid buku dalam memahami teks disamakan dengan pihak-pihak yang bahkan tidak mengetahui metodologi penetapan suatu hukum. Paham seperti ini membawa dampak liberalisasi dalam beragama.
Kedua alasan tersebut yang menyuburkan adanya pemahaman keagamaan yang ekstrim yang dalam tataran tertentu berpotensi memunculkan sikap terorisme. oleh karenanya untuk menghindari adanya kecenderungan tersebut kami mengajak kepada semua umat Islam untuk kembali mempelajari ajaran agama secara benar melalui seorang guru yang benar-benar menguasai ajaran agama, yaitu para ’alim-ulama. Para ulama yang ada di negeri ini patut untuk menjadi panutan umat Islam.
Kaum muslimin wal muslimat, ‘aidin wal ‘aidat rahimakumullah.
Oleh karenanya, pada hari ini, kita semua berharap setelah digembleng selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan kita menjadi manusia yang baru. Kebaruan itu bukan sekedar diwujudkan dengan mengenakan baju baru tetapi dengan semangat baru untuk melaksanakan segala perintah dan tuntunan Allah. Seperti kata syair:
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ وَلَكِنَّ الْعِيْدَ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ
“Tidaklah yang dimaksud dengan hari raya ‘ied adalah bagi orang yang mengenakan baju baru akan tetapi hari raya ‘ied itu bagi orang yang ketaatannya kepada Allah semakin bertambah”.
Hari ini, kita juga berharap memperoleh ampunan (maghfirah) Allah sebab pada hari ini Allah memberikan ampunan-Nya kepada mereka yang telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh dan mudah-mudahan kita semua termasuk dari mereka yang memperoleh ampunan itu. Mengapa kita begitu berharap untuk memperoleh ampunan Allah? Karena kita merasa terlalu banyak dosa yang telah kita lakukan selama ini.
Sebagai hamba Allah, banyak sekali perintah-perintahNya yang kita abaikan dan larangan-larangannya yang telah kita langgar. Sebagai kepala keluarga, kita belum dapat melaksanakan tugas dengan baik sehingga keluarga yang kita pimpin masih belum dapat kita bimbing ke jalan yang diridhai Allah.
Sebagai ibu, kita belum dapat mengurus rumah tangga dengan baik sehingga lahir rumah tangga yang penuh dengan mawaddah wa rahmah. Sebagai orang tua, kita juga belum dapat mengurus anak kita dengan baik sehingga banyak anak-anak kita yang belum menjalankan kewajiban agamanya. Bahkan, tidak sedikit anak-anak kita yang tersesat ke jalan yang salah.
Sebagai karyawan, kita pun belum dapat melaksanakan tugas dan kewajiban dengan baik sehingga negara dan masyarakat dirugikan dengan sikap & perilaku kita. Sebagai pemimpin, kita pun belum dapat melaksanakan tanggung jawab kita dalam membawa ummat ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera. Sebagai ulama kita belum dapat membawa ummat ke jalan yang benar dan melaksanakan ajaran Allah.
Ya Allah, terlalu banyak kesalahan yang telah kami lakukan. Oleh karena itu, maafkanlah segala kesalahan kami. Andaikata Engkau tidak maafkan kesalahan kami Ya Allah, kepada siapa lagi kami memohon maaf dan ampunan. Janganlah Engkau siksa kami Ya Allah disebabkan karena kesalahan kami.
الله أكبر (×3) لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, ‘aidin wal ‘aidat rahimakumullah.
Hari ini, harus kita jadikan momentum untuk melakukan perbaikan dalam semua hal serta untuk melakukan perubahan-perubahan dalam menyongsong hari esok yang lebih baik. Hari ini, kita jadikan sebagai hari Taubatan Nasuha terhadap kesalahan yang kita lakukan, baik kesalahan yang bersifat pribadi maupun kesalahan yang bersifat sosial. Semoga Allah menerima taubat kita dan membimbing kita ke jalan yang diridhaiNya. Amin ya rabbal ‘alamin.
بارك الله لي ولكم وتقبل الله صيامنا وصيامكم وجعلنا وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين والحمد لله رب العالمين.









