AKULTURASI KEAGAMAAN SUKU TIONGHOA DI CHINA BENTENG TANGERANG (1)

JIC, JAKARTA– Terdapat beberapa model adaptasi suku Tionghoa dalam konteks budaya dan agama di Indonesia.

Pertama, model membangun kesadaran budaya dan semangat nasionalisme ke-Indonesia-an dan dalam waktu yang sama mereka bertahan dengan agama mereka, Konghucu.

Kedua, melebur dengan budaya dan nasionalisme ke-Indonesia-an dan diikuti dengan konversi keagamaan mereka pada agama mayoritas di Indonesia, yaitu Islam.

Ketiga, menjadi warna tersendiri atau tetap bertahan dengan idetitas budaya dan mencoba menjadi bagian dari keragaman kesukuan, budaya dan agama di Indonesia.

Demikian temuan penelitian oleh Elma Haryani yang tertuang dalam artikel Masyarakat Cina Benteng Kota Tangerang dan Model Ketahanan Budaya Keagamaan. Artikel dimuat dalam Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 18, No. 2, 2020 yang diterbitkan Balitbang Diklat Kemenag tahun 2020.

 

Elma juga mengungkapkan, masyarakat China Benteng mulai menempati lokasi bantaran Sungai Cisadane kurang lebih sejak tahun 1830. Mereka dikenal sebagai masyarakat dengan taraf kehidupan yang rendah akan tetapi setia dalam melestarikan adat-istiadat dan tradisi leluhur mereka, bahkan mereka juga mau berdialog dengan budaya lokal.

 

“Berbagai peristiwa politik di tanah air yang melibatkan mereka perkembangan pembangunan di Indonesia, kemajuan pendidikan dan teknologi telah membawa perubahan pada masyarakat China Benteng. Namun, perubahan yang terjadi tersebut tidak serta merta menghabisi budaya dan tradisi China Benteng,” tulis Elma Haryani.

 

Selain itu, ada penemuan terbaru bahwa suku Tionghoa yang tinggal di Kota Tangerang hampir seperempat dari keseluruhan jumlah penduduk Kota Tangerang. Banyaknya warga Tionghoa di Tangerang ini telah memunculkan fenomena bahwa Tangerang merupakan salah satu daerah konsentrasi suku Tionghoa di Indonesia.

Keberadaan etnis Tionghoa di Tangerang telah menyebar sedemikian rupa. Beberapa keturunan Tionghoa bertebaran di Tangerang seperti Teluk Naga, Mauk, Pasar Kemis, Sepatan, Kresek. Mereka hadir ke wilayah itu melalui jalur sungai.

Sedangkan mereka yang datang dari daratan (Jakarta) kebanyakan tinggal di Kecamatan-kecamatan seperti Tangerang, Cipondoh, Batu Ceper, Cikupang, Ciledug, Cipondoh, Serpong, Pondok Aren, Curug, Jatiuwung, Ciputat, Legok, Tigaraksa dan Balaraja.

 

Sumber : nu.or.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

SESAT, KLAIM ARAB SAUDI LAGI-LAGI TAK MASUKKAN INDONESIA DI DAFTAR HAJI 2021

Read Next

AKULTURASI KEAGAMAAN SUKU TIONGHOA DI CHINA BENTENG TANGERANG (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × three =