AKULTURASI KEAGAMAAN SUKU TIONGHOA DI CHINA BENTENG TANGERANG (2)

JIC, JAKARTA,–

Peneliti menyebutkan dalam literatur lain disebutkan, mereka datang bertepatan dengan kedatangan ekspedisi Panglima Cheng Ho ke Nusantara.

 

Disebutkan dalam buku profil Kota Tangerang bahwa sebuah perahu datang dari China membawa sekitar 100 orang dan terdampar di muara Sungai Cisadane, kedatangan warga Tionghoa besar-besaran terjadi lagi ketika di negara China mengalami revolusi tahun 1920-1930. Mereka datang secara bergelombang meninggalkan negara China dan mendatangi daerah-daerah tertentu di Tangerang.

Hal ini diketahui bahwa, mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gang Gula (Cilangkap).

 

Pada akhir tahun 1800-an, sejumlah orang China dipindahkan ke kawasan Pasar Baru dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lainnya. Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi (sistem barter) barang orang- orang China yang datang lewat sungai dengan penduduk lokal.

 

Disebutkan juga, warga China Benteng memiliki keyakinan yang beragam, seperti Buddha, Konghucu, dan Tao. Terdapat pula berbagai rumah ibadah seperti kelenteng, vihara, demikian juga masjid.

 

Dari jumlah penduduk, suku Tionghoa di Sukasari berjumlah 30 persen dari total jumlah penduduk kecamatan itu 19.279 jiwa pada tahun 2010.   Menariknya peneliti juga menemukan, bahwa dengan seiring dengan perjalanan waktu, komunitas Tionghoa ini mencoba membaur dengan orang lokal dan sebagian melakukan perkawinan dengan orang lokal. Maka kemudian lahirlah generasi China Benteng yang berkulit hitam yang sedikit membedakan dengan keturunan Tionghoa lainnya seperti Tionghoa totok yang berkulit putih.

 

Percampuran warga Tionghoa dengan lokal menghasilkan budaya unik. Saat pernikahan misalnya, perempuan Betawi biasanya menggunakan kembang goyang, sedangkan lelaki Tionghoa memakai topi dengan rambut yang diikat. Selain itu percampuran budaya tersebut melahirkan seni budaya perpaduan seperti cokek, musik gambang kromong, dan lontong cap gomeh.

Peneliti menggunakan pendekatan etnografis. Pendekatan ini diharapkan memperoleh deskripsi yang memadai sekaligus tafsir serta makna yang mendalam untuk memahami keberadaan komunitas China Benteng.

Komunitas China Benteng dipilih sebagai kasus mengingat komunitas ini mempunyai karakteristik khusus yaitu kampung tempat konsentrasi komunitas Tionghoa yang sudah berjalan berabad-abad.

Komunitas China Benteng juga merupakan simbol eksistensi keturunan Tionghoa di Kota Tangerang dan sekitarnya.

Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk melihat secara proporsional bagaimana sebaiknya bangsa Indonesia memandang kehadiran suku Tionghoa dalam konteks kebudayaan di Indonesia.

Tujuannya untuk melacak konstruksi akulturasi keagamaan yang terjadi antara suku Tionghoa dan kelompok sosial lain di China Benteng Tangerang, Banten. Kajian ini penting untuk memahami keberadaan suku Tionghoa yang belakangan ini sering disorot sebagai stimulan baru sekaligus ancaman baru bagi sebagian orang Indonesia.

Sumber : nu.or.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

AKULTURASI KEAGAMAAN SUKU TIONGHOA DI CHINA BENTENG TANGERANG (1)

Read Next

BKSPPI: DIRJEN PESANTREN SARANA PERKUAT KEKHASAN PESANTREN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen + nineteen =