ANTARA TARTIL ATAU CEPAT KHATAM, MANAKAH YANG LEBIH UTAMA?

Al-Qur’an

JIC – Membaca al-Qur’an adalah perkara sunah yang sangat dianjurkan sekali. Kita dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an hingga khatam minimal satu kali khatam dalam sebulan. Selain itu, ketika mengkhatamkan Al-Quran, kita perlu memperhatikan adab-adab dalam mengkhatamkan Al-Qur’an, sebagaimana telah dicontohkan oleh para sahabat Nabi Saw dan para ulama. Tapi lebih utama membaca Al-Qur’an secara tartil atau cepat khatam?

Sedangkan dalam realitanya, tidak bisa dipungkiri terdapat orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan cepat tapi tidak tartil karena bermaksud supaya cepat khatam Al-Qur’an. Tartil disini dalam artian menjaga harakat, panjang-pendek dan makhroj daru huruf-huruf al-Qur’an. Sedangkan disisi lain, ada orang yang memilih membaca Al-Qur’an dengan pelan—pelan meskipun secara kuantitas bacaan lebih sedikit.

Yang menjadi pertanyaan adalah manakah yang lebih utama antara membaca cepat tapi tidak menjaga bacaan dengan tartil ataukan membaca pelan dengan tartil meskipun kuantitas bacaannya lebih sedikit? Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis mendapati sebuah keterengan yang ada dalam kitab al-Itqon fi ‘ulum al-Qur’an juz 1 halaman 283 sebagaimana berikut :

وَقِرَاءَةُ جُزْءٍ بِتَرْتِيْلٍ أَفْضَلُ مِنْ قِرَاءَةِ جُزْئَيْنِ فِي قَدْرِ ذلِكَ الزَّمَانِ بِلَا تَرْتِيْلٍ

Artinya : membaca al-Qur’an satu juz dengan tartil itu lebih utama daripada membaca dua juz dengan waktu yang sama tanpa tartil.

Hal ini juga diperkuat dengan keterangan dari kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali juz 1 halaman 287 :

وَاعْلَمْ أَنَّ التَّرْتِيْلَ مُسْتَحَبٌّ لَا لِمُجَرَّدِ التَّدَبُّرِ فَإِنَّ الْعَجَمِيَ اَلَّذِيْ لَا يَفْهَمُ مَعْنَى الْقُرْآنِ يُسْتَحَبُّ لَهُ فِيْ الْقِرَاءَةِ أَيْضاً اَلتَّرْتِيْلُ وَالتُّؤَدَةُ

Artinya : Ketahuilah, bahwasanya membaca dengan tartil itu disunahkan tidak sekadar tadabbur. Sesungguhnya orang ‘ajami (orang bukan arab) yang tidak memahami makna al-Qur;an disunahkan baginya di dalam membaca Al-Qur’an adalah dengan cara tartil dan pembiasaan.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan cara tartil meskipun pelan dan kuantitas bacaanya sedikit daripada bacanya cepat, tidak tartil dan kuantitas bacaanya lebih banyak.

Sumber : bincangsyariah.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MERAJUT KERUKUNAN UMAT BERAGAMA ‘KOTA DI ATAS PAPAN’

Read Next

KERUKUNAN DI KALBAR, DIALOG DAN PELAJARAN KELAM MASA LALU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 3 =