HATI-HATI FATWA INDIVIDU (2)

Macam-macam Perbedaan

JIC,– Dalam kitab Asbâbukh Tilâfil Fuqaha’ dijelaskan, ada banyak variasi khilâf ulama. Menurut Syekh Hamid bin Hamidi as-Sha’idi, variasi itu dilatarbelakangi oleh tujuan ulama, keadaan, kebutuhan dan beberapa faktor lainnya. Ada juga khilâf dalam masalah diniyyah (aqidah) dan ada pula dalam masalah cabang ibadah (furu’).

 

Khilâf dalam masalah akidah, bisa terjadi antara umat Islam dan umat lainnya, dan bisa juga terjadi antarsesama umat Islam, seperti perbedaan keyakinan antara orang-orang Ahlussunnah wal Jama’ah dengan orang Muktazilah, dan lainnya.

Adapun perbedaan ulama dalam masalah cabang-cabang ibadah (syariat) bisa disimpulkan menjadi dua bagian. Yaitu,

(1) perbedaan yang diperbolehkan dan diterima; dan

(2) perbedaan yang tidak diperbolehkan.

 

Untuk yang pertama, Syekh Hamid mengatakan:

أَمَّا الْمَقْبُولُ الَّذِي سَاغَتْ أَسْبَابُهُ وَدَوَاعِيهِ، وَوُجِدَتْ مُوْجِبَاتٌ صَحِيْحَةٌ تَقْتَضِيْهِ، وَهُوَ خِلَافُ المُجْتَهِدِيْنَ مِنْ فُقَهَاءَ وَمُفْتِيْنَ

Artinya, “Adapun perbedaan yang bisa diterima adalah perbedaan yang sebab-sebab dan latar belakangnya bisa diterima, dan penyebab yang melatarbekanginya merupakan penyebab yang benar, (hal ini bisa terjadi) di kalangan ulama yang sudah mencapai mujtahid dari para fuqaha dan ulama yang berfatwa.”

 

Untuk ranah perbedaan yang ini ulama sepakat memberi legalitas kepada orang-orang yang kapasitasnya sudah tidak diragukan, memahami semua cabang-cabang ilmu, atau yang lebih dikenal sebagai ulama yang sudah mencapai derajad mujtahid.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw:

إِذَا اجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا اِجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر

Artinya, “Jika seorang ulama melakukan ijtihad kemudian benar, maka ia mendapatkan dua pahala; dan apabila dia ijtihad kemudian salah, maka ia mendapatkan satu pahala.” (HR Al-Bukhari). (As-Sha’idi, Asbâbukh Tilâfil Fuqahâ’, halaman 36).

 

Adapun perbedaan yang tidak diperbolehkan adalah perbedaan pendapat yang dilatarbelakangi oleh keinginan untuk tampil hebat dan menolak pendapat orang lain, serta mempertahankan pendapatnya sendiri meskipun salah.

أَمَّا الْمُحَرَّمُ هُوَ مَا كَانَ فِي مُقَابَلَةِ الدَّلِيْلِ الصَّحِيْحِ وَكَانَ الغَرَضُ مِنْهُ الْمُكَابَرَةَ وَالْعِنَادَ والتَّعَصُّبَ، أَوِ اتِّبَاعًا لِلشَّهَوَاتِ

Artinya, “Adapun (perbedaan) yang dilarang ialah perbedaan yang berhadapan dengan dalil shahih dan tujuannya hanyalah untuk sombong, keras kepala, tidak menerima pendapat orang lain, atau mengikuti keinginan syahwatnya.” (As-Sha’idi, Asbâbukh Tilâfil Fuqahâ’, halaman 37).

 

Kesimpulannya, perbedaan yang terjadi di antara ulama dalam masalah ibadah (furu’), diperbolehkan selagi tujuan dari perbedaan itu adalah mencari yang paling benar serta mendalami tujuan syariat lebih dalam, dalilnya lengkap, alasan-alasan di balik keputusan akhirnya juga ditemukan. Sebab, dalam ranah ibadah, umumnya bersifat yang tidak pasti (qath’i).

 

Artinya, ulama yang kapasitasnya sudah mumpuni bisa saja berbeda pendapat dalam permasalah ini. Syekh Abil Hijaj al-Maghrabi mengatakan:

اِنَّهُ يُعَدُّ مِنْ مَحَاسِنِ الشَّرِيْعَةِ، لِأَنَّهُ يَمْنَحُ الفِقْهَ

Artinya, “Perbedaan ulama termasuk keindahan syariat, karena ia memberikan kelonggaran dalam ilmu fiqih.” (Al-Maghrabi, Tahdzîbul Masâlik, juz I, halaman 165).

 

Karenanya, bagi pendakwah atau tokoh agama, semestinya tidak mengeluarkan fatwa individu atau fatwa pribadi yang tidak sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan para ulama, agar tidak keliru dalam membimbing masyarakat. Wallâhu a’lam.

Sumber : nu.or.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

HATI-HATI FATWA INDIVIDU (1)

Read Next

JAKARTA TERAPKAN PPKM LEVEL 4 MESKI BERSTATUS ZONA HIJAU COVID-19, INI PENJELASAN ANIES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 2 =