Home Kabar JIC MEMIMPIN DENGAN RASA DAN KEBERSAMAAN

MEMIMPIN DENGAN RASA DAN KEBERSAMAAN

0
422

Seorang dokter berkunjung ke sebuah rumah sakit jiwa (RSJ), untuk keperluan penelitian. Kemudian, ia mewawancarai seorang pasien. “Kenapa Anda berada di rumah sakit ini?” Tanya si dokter. Dengan wajah keheranan mendengar pertanyaan demikian, pasien penderita sakit jiwa itu. menjawab datar,”Dok, sesungguhnya saya yang perlu tanya,  kenapa Anda berada di rumah sakit  jiwa ini, bukankah Anda sehat?”

Sambil mengerutkan dahi, dokter itu mengambil sebutir permen, kemudian dilempar dan jatuh dekat kaki pasien. Tanpa pikir panjang, pasien itu mengambil permen tersebut dan langsung dimasukkan ke mulutnya. Melihat gerak cepat pasien memasukkan permen ke mulutnya, sang dokter tersenyum penuh kemenangan sambil berujar,“Hm, itulah bedanya Anda dengan saya, meski kita sama-sama berada di RS Jiwa ini. Dapat dipastikan bahwa Anda berada di RS ini sebagai penderita sakit jiwa, sedangkan saya berada di sini sebagai ahli penyakit jiwa. Buktinya bahwa permen yang berlumur tanah itu langsung Anda masukkan ke mulut. Bukankah itu menunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh sakit jiwa?”

Pasien itu menatap tajam wajah sang dokter. Kemudian ia mendekat dan berbisik kepada sang dokter,” Dok, di permen yang Anda lempar tadi, cuma ada sedikit tanah yang saya telan, dan Anda langsung berkesimpulan bahwa saya adalah penderita sakit jiwa. Coba Anda bayangkan, berapa banyak teman-teman Anda yang makan tanah berhektar-hektar, tapi kenapa mereka tidak dituding sakit jiwa?”

Dokter itu pun terdiam, kemudian istighfar. Akhirnya dia menyimpulkan bahwa menurut orang sehat, seluruh penghuni RSJ tersebut adalah orang-orang gila. Padahal, di luar RSJ banyak orang gila dalam kewarasannya yang lebih gila lagi, dan orang orang-orang gila di RSJ belum tentu semuanya gila.

Cerita di atas saya ambil dari tulisan KH. Abdurrahim Radjiun, seorang ulama sufi Betawi terkemuka. Beliau memberikan penjelasan bahwa hikmah dari cerita ini adalah kesamaan rasa dan pandangan, tidak akan ditemukan selama tolok ukurnya adalah menurut kita dan untuk kepentingan kita, bukan untuk menyamakan rasa dan kebersamaan. Inilah yang terjadi pada sebagian para pemimpin umat Islam sekarang ini. Sebagian para pemimpin  tersebut merasa bahwa mereka telah membimbing dan memberdayakan umat, dan menyalahkan umat atas nasibnya. Padahal, umat mengangap  bahwa nasib yang mereka terima adalah ulah dari para pemimpinnya: para pemimpinnya tidak pernah bersama dengan mereka, tidak berbuat untuk umat, tetapi berbuat untuk kepentingan diri dan golongannya sendiri.

Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Rasulullah SAW  pernah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud. “Hampir saja umat-umat menyerang kalian dari segala penjuru, bagaikan rayap-rayap yang menyerang tempat makannya sediri” Lalu para sahabat bertanya, “Apakah jumlah kita waktu itu sedikit ya Rasulullah?” Tidak,” jawab Rasulullah, “Malahan pada waktu itu kalian berjumlah sangat banyak, tetapi kalian adalah buih bagaikan air bah. Sesungguhnya Allah SWT telah mencabut kewibawaan kalian dan pada waktu yang sama Allah menanamkan Wahn dalam hati kalian.” Para sahabat bertanya, “Apa Wahn itu ya wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.

Maka, menyamakan rasa dan kebersamaan hanya bisa terjadi antara umat dan para pemimpinnya jika para pemimpinnya mencintai rakyatnya karena Allah, bukan karena dunia dan tidak takut kematian, apalagi takut dengan kemiskinan dan kemelaratan.  Menyamakan rasa dan kebersamaan itu bukanlah dengan keterpaksaaan atau dengan berpura-pura, apalagi memanfaatkan bencana yang akhir-akhir ini terjadi dengan berbagai aksi sosial yang sangat kental dengan kepentingan. Umat bukanlah kumpulan orang-orang bodoh. Di dalam tubuh umat ada orang-orang cerdas dan ahli yang kecerdasan dan keahliannya bahkan melebihi para pemimpinnya. Mereka hanya tidak punya waktu dan minat saja untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin. Mereka tahu siapa saja para pemimpin yang pantas untuk mereka pilih kembali, dan siapa saja yang harus mereka tinggalkan. Mereka tidak lagi terpesona dengan simbol-simbol, apalagi program dan janji-janji perbaikan.

Akhir Kalam,  tahun 2014 ini merupakan tahun politik, tahun suksesi kepemimpinan nasional. Para wakil rakyat akan dipilih kembali, begitu pula presiden dan wakil presiden. Mereka adalah orang-orang yang pilihan yang diharapkan para pemilihnya dapat memiliki rasa untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan dirinya dan kelompoknya sehingga yang tersaji dan ditonton rakyat adalah konflik-konflik yang terus terjadi di antara para pemimpin. Hal itu bisa dicapai bila para wakil rakyat dan pemimpin ini merasakan kehidupan seperti orang-orang yang dipimpinnya, tanpa jarak dan kepura-puraan. Maka, buktikanlah dengan hadir di tengah-tengah umat yang terkena bencana dan membantu mereka dengan ikhlas untuk kepentingan bersama. Janganlah karena ego dan kepentingan politik, usaha untuk menanggulangi bencana oleh pihak yang dianggap lawan sebagai sebuah upaya untuk mengalahkan mereka. Jangan pula para pemimpin memperlakukan rakyatnya seperti dokter jiwa di atas memperlakukan pasiennya: Aku yang benar, kamu yang salah; aku yang pintar, kamu yang bodoh. Aku yang waras, kamu yang gila! ***

Oleh : H. Rakhmad Z. Kiki, S.Ag, MM (Ka. Bidang Pengkajian dan Pendidikan JIC)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − 12 =