Warning: getimagesize(http://www.hidayatullah.com/images/stories/kafemesum.jpg): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/islamicc/public_html/wp-content/plugins/wp-open-graph/output.class.php on line 306

Paganagari Apresiasi Pemusnahan Kafe Maksiat

Ia menolak disebut melakukan main hakim. Baginya, aksi massa tersebut merupakan wujud tanggungjawab anak-kemanakan dan anak nagari di selingkar Danau Singgkarak. Lembaga Paga Nagari provinsi Sumatera Barat,  mengapresiasi  peristiwa terbakarnya beberapa kafe di pinggiran Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Ahad dini hari, yang diduga kuat menjadi sarang kemaksiatan, seperti diberitakan laman hidayatullah.com. <Hidayatullah.com> Ia menolak disebut melakukan main hakim. Baginya, aksi massa tersebut merupakan wujud tanggungjawab anak-kemanakan dan anak nagari di selingkar Danau Singgkarak. Lembaga Paga Nagari provinsi Sumatera Barat,  mengapresiasi  peristiwa terbakarnya beberapa kafe di pinggiran Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Ahad dini hari, yang diduga kuat menjadi sarang kemaksiatan, seperti diberitakan laman hidayatullah.com. <Hidayatullah.com>

Ketua Paga Nagari Sumbar, Ibnu Aqil D. Ghani  dalam keterangan persnya, Senin siang (10/1) di Padang,  menegaskan,  aksi massa tersebut merupakan wujud tanggungjawab anak-kemanakan dan anak nagari di selingkar Danau Singgkarak untuk  mamaga (melindungi) Nagari (kampung) mereka dari segala bentuk kemaksiatan. Karenanya, ia menolak disebut melakukan aksi kekerasan.

“Jangan sertamerta aktivis LSM menjustifikasinya sebagai aksi kekerasan dan main hakim sendiri. Tolong lihat dulu latarnya, penyulutnya,” ujar Drs. Ibnu Aqil menjawab hidayatullah.com.

Bahkan Ibu Aqil berpendapat,  yang harus menerima sanksi tidak hanya tempat, lokasinya saja. “Pemilik kafe dan pelaku kemaksiatan juga harus diberi sangsi  yang berat,” pintanya.

Menurut Ketua Paganagari,  hukum adat di Minangkabau, pelaku dan penyedia kemaksiatan seharusnya ‘dibuang sepanjang adat’, tak boleh tinggal  di tanah adat, dan tak boleh pula menerima pusako adat.

Aqil menegaskan, anak nagari di ranah Minang (Sumbar) wajib membersihkan nagarinya dari segala kemaksiatan yang akan mengundang azab Allah Azza wa Jalla.  Menurutnya, bumi ranah Minang, kata Aqil, baru saja diluluhlantakkan bencana gempa dahsyat.

Sadar  atau tidak, bencana itu bukanlah siklus dan fenomena alam belaka. Masyarakat Minang  yang memegang teguh komitmen adat basandi sara’, sara’ basandi kitabullah (al-Qur’an), pastilah  menghayati pesan al-Qur’an pula, bahwa betapa banyak negeri yang ditimpakan bencana, bahkan negeri itu dibalikkan Allah SWT, disebabkan penduduknya ingkar dan membiarkan kemunkaran.

Keberdaan geokrafis Sumatera Barat yang persis terletak  di atas “cincin api” jalur gempa ini, kata Aqil, tidak cukup hanya dihadapi dengan kewaspadaan yang tinggi saja. Ia harus disejalankan pula dengan upaya  bersungguh-sungguh meninggikan keimanan dan ketaqwaan.

“Zikir bersama dari tingkat provinsi hingga pelosok desa, jangan hanya karena ketakutan sesaat, pasca gempa saja. Sementara kemaksiatan, pelacuran, esek-esek, korupsi, manupilasi,  jalan terus.  [dnj/hidayatullah.com]

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Indonesia Memiliki Peluang Memimpin Kebangkitan Peradaban Islam

Read Next

Bank Dunia Berebut Tren Baru Pinjaman Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 1 =