AGAMA BAHA’I: UCAPAN SELAMAT HARI RAYA DARI MENTERI AGAMA, ANTARA POLEMIK ATAU ‘GIMIK’ SEMATA (3)

“Semua agama ajarkan kebaikan, bukan ajarkan kekerasan atau merasa paling lebih baik dari yang lain,” kata Raihan, seorang peserta program Peace Train Indonesia. SUMBER GAMBAR,DOKUMEN PEACE TRAIN INDONESIA

Kalau masyarakat dewasa, tak perlu ribut

JIC,– Di sisi lain, Antropolog Agama dari Universitas Indonesia, Amanah Nurish mengapresiasi perlakuan pemerintah terhadap agama Baha’i, termasuk melalui ucapan selamat perayaan hari raya dari Menag Yaqut Cholil Qoumas. Menurutnya, sejauh ini perlakuan pemerintah terhadap Baha’i “sudah jauh lebih baik dalam hal perlindungan.”

“Namun, wacana itu tidak atau mungkin belum dipahami oleh orang-orang di tingkat lokal, sehingga itu berdampak terhadap hal-hal lainnya,” kata Nurish.

Dalam hal pendidikan, kata Nuriah, dulunya anak-anak Baha’i tidak memperoleh pendidikan agama sesuai keyakinan mereka di daerah tertentu. Tapi sekarang, “Malah ada di sebuah daerah itu justru mendapat hak untuk memperoleh pendidikan agama Baha’i.”

“Ini itikad baik, kalau masyarakat makin dewasa, tidak perlu mempeributkan,” lanjut Nurish.

Bagaimanapun, ia tetap mengakui, baik gama Baha’i dan agama minoritas lainnya masih menghadapi persoalan terkait dengan hak-hak sipil seperti KTP, akta kelahiran, pernikahan dan lainnya.

line

Di sisi lain, Staf Khusus Menteri Agama bidang Kerukunan Umat Beragama, Ishfah Abidal Aziz mengatakan setelah polemik agama Baha’i ini pihaknya mengupayakan pembenahan regulasi terkait hubungan umat beragama.

“Problematikanya adalah regulasi terkait umat beragama ini masih berserak di pelbagai tempat. Ada yang di PBM [Peraturan Bersama Menteri], ada yang di [Undang-Undang] PNPS,” kata Ishfah kepada BBC News Indonesia.

Agama Baha'i

SUMBER GAMBAR,DOK. ALDA ASSAGAS

Alda, salah satu mahasiswi yang berasal dari Maluku dan beragama Muslim, mengikuti program kampanye dari Cinta Indonesia dengan foto dirinya #RangkulPerbedaan

Dalam waktu dekat, Kemenag berjanji akan mendorong Peraturan Bersama Menteri (PBM) terkait Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah menjadi Peraturan Presiden.

“Belum lagi nanti kita mencoba mengkaji pelbagai regulasi terkait kehidupan umat beragama. Nah, ini yang ke depan mesti kita dorong bersama-sama,” kata Ishfah.

Namun, terkait dengan persoalan administrasi kependudukan, Ishfah mengatakan sudah melakukan tugas kementeriannya. Salah satunya dengan mengirim surat keterangan mengenai Baha’i sebagai agama independen ke Kemendagri pada 2014 lalu.

“Ya, tantangannya koordinasi antar K/L [Kementerian/Lembaga], itu satu hal tersendiri. Koordinasi antar stakeholder, antar K/L yang terkait itu,” kata Ishfah.

BBC telah mengkonfirmasi hal ini ke Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Zudan Arif Fakhrulloh, namun belum mendapat respon.

Bagaimana agama Baha’i sampai ke Indonesia?

Di sebuah dinding jalan tertulis city of tolerance disertai tanda tanya.

SUMBER GAMBAR,AFP/GOH CHAI HIN

Ilustrasi toleransi.

Saat ini, jumlah pemeluk Agama Baha’i yang teridentifikasi di Indonesia mencapai 5.000 jiwa yang tersebar di 28 provinsi, menurut laporan Majelis Rohani Nasional Baha’i Indonesia. Namun, angka ini masih belum akurat mengenai jumlah pemeluk Baha’i dahulu dan kini.

“Karena sampai saat ini pencatatan kolom agama di KTP belum bisa dicantumkan Baha’i, sehingga belum ada pendataan dari identitas diri,” kata Riaz.

Agama Baha’i disebut masuk pertama di Indonesia pada 1885 dibawa oleh saudagar Jamal Effendi dan Sayyid Mustafa Rumi.

Pembawa agama Bahá’í adalah Mírzá Husáyn Ali yang disebut Bahá’u’lláh, lahir pada tahun 1817 di Teheran, ibu kota Persia. Agama Baha’i kini tersebar di 192 negara, termasuk Indonesia.

Meskipun sudah lebih dari satu abad eksis di Indonesia, keberadaan Baha’i tidak serta merta mulus. Baha’i sempat ditetapkan sebagai organisasi terlarang pada era orde lama di bawah kepemimpinan Soekarno melalui Keppres No.264/1962.

“Alasannya pada masa Soekarno, macam-macam, termasuk ketika Soekarno mengeluarkan UU Pencegahan Penodaan Agama. Ya, soal revolusi, soal mempertahankan sosialisme dan lain-lain,” kata Direktur Center for Religious and Cross-Culture Studies (CRCS), Universitas Gajah Mada, Zainal Abidin Bagir.

Agama Baha'i

SUMBER GAMBAR,DAVID SILVERMAN/GETTY IMAGES

Seorang pengunjung museum sedang mempelajari tentang agama Baha’i

Zainal juga mengatakan, organisasi Baha’i hanya satu dari enam organisasi lainnya yang dilarang saat itu. Tapi, tidak terkait dengan pemberontakan. “Jadi saya kira, nggak terkait dengan pemberontakan PRRI/Permesta, nggak. Sama sekali tidak,” katanya.

Keppres No.264/1962 ini kemudian dicabut oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada 2000. Saat itu, presiden yang akrab disapa Gus Dur, juga mencabut Inpres No. 14/1967 tentang larangan tradisi Tionghoa dan Kong Hu Cu.

“Di antara pertimbangannya dianggap, bahwa keputusan presiden yang tahun 1962 itu dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip demokrasi,” kata Zainal.

Pada 2014, keberadaan Baha’i di Indonesia kembali menjadi sorotan media. Saat itu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa Baha’i merupakan agama yang dilindungi konstitusi.

Gangguan Keagamaan di Indonesia

Kementerian Agama saat itu mengirim surat mengenai kajian terhadap agama Baha’i ke Kemendagri yang menyatakan, agama ini bukanlah sempalan dari agama tertentu. Surat ini menjadi dasar umat Baha’i untuk memperoleh kedudukan yang sama dalam memperoleh layanan kependudukan.

Kini, agama Baha’i kembali menjadi polemik di tengah masyarakat. Tapi sampai kapan polemik mengenai agama minoritas akan terus berlangsung?

“Ya, itu sama dengan mempertanyakan, kapan masyarakat kita dewasa? Ini kita di ambang pada tahap memahami dan mempraktikkan agama secara superficial, tidak substansial. Substansial artinya melindungi yang lemah, toleran, berjiwa pluralis, ya bisa unity in diversity,” kata Amanah Nurish.

Bagaimanapun, umat Baha’i lebih memilih untuk menyelesaikan persoalan ini dengan cara “kita duduk bersama, dialog cari solusi”.

“Walau dengan berbagai permasalahan yang dihadapi komunitas Baha’i, namun sesuai visi dan misi Baha’i untuk memajukan persatuan dan kesatuan umat manusia. Di mana pun orang Baha’i berada, kami tidak putus asa dan tidak hanya berfokus pada kendala yang ada,” kata Riaz Muzaffar.

 

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

AGAMA BAHA’I: UCAPAN SELAMAT HARI RAYA DARI MENTERI AGAMA, ANTARA POLEMIK ATAU ‘GIMIK’ SEMATA (2)

Read Next

PEMPROV DKI TAMBAH TARGET VAKSINASI COVID JADI 11 JUTA ORANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 10 =